28.

74 15 5
                                        

Menurut aku lagu ini vibesnya pas banget sama part ini, coba deh baca part ini sambil dengerin lagunya.

~HAPPY READING~

28. Hancur

Hamida sangat bingung saat ini, apalagi kembarannya Hamdan sedang menggantikan dinas ibunya ke Papua selama sebulan.

Pemandangan di depannya membuatnya tak punya pilihan lain selain meminta pertolongan pada Ara.

Hamida mengambil ponselnya segera menghubungi Ara yang pada dering ke tiga pun sudah terangkat.

Tanpa basa-basi Hamida langsung menyerukan keinginannya.

"Ra... tolongin Aya."

"Aya kenapa, Da?" terdengar suara khawatir dari Ara yang bercampur dengan suara seraknya seperti tengah menangis?

Hamida menepis segala pemikirannya, yang terpenting sekarang ini ialah Aya.

"Pokonya lo cepetan ke sini Ra, gue tunggu."

Setelahnya panggilan diputus sepihak oleh Hamida karena dia kaget mendengar teriakan dari Aya.

Untung saja para santri sedang libur semester, jadinya Hamida tidak terlalu menghawatirkan keadaan ini akan bocor kemana-mana.

"KENAPA SIH A? A AZKA TUH MAUNYA APA?" teriak Aya pada Azka yang berada di depannya.

Azka menggeram kesal. "Lo jangan naikin suara lo di depan gue, inget gue masih jadi suami lo ARAYA!" balasnya tak kalah keras.

Hamida sudah tidak kuat lagi mendengar pertengkaran mereka yang tidak selesai-selesai dari 15 menit lalu.

Sebenarnya bukan hanya hari ini, tapi dari seminggu lalu hal ini terus terjadi.

"Kalian kenapa sih jadi gini? Cape tau gak gue liatnya," ucap Hamida mencoba melerai. "Kalo punya masalah tuh kalian beresin baik-baik, bukan malah cek-cok kaya gini," lanjutnya.

Azka menatap Hamida yang menghalangi pandangannya dari Aya. "Lo yang lihat hal ini aja cape gimana gue, Da!?" ucap Azka.

"Yaudah gak usah kaya gini," ucap Hamida enteng yang membuat Azka menatapnya tajam.

"Lo bisa bilang gitu sebab gak ngerasain jadi gue Da! Gimana gue mau gak gini kalo dia aja terus-terusan kaya gitu. Ketemu terus mantannya tanpa izin gue, padahal gue udah pernah bilang dan udah bertanya beberapa kali sama dia."

Aya akhirnya kembali bersuara. "Gue juga gak bakalan kaya gitu kalo semisal sikap lo nya gak dingin dan ngepeduliin gue."

Hamida terdiam sungguh dia bingung harus bagaimana. Di satu sisi ada Azka sepupunya, disisi lain ada Aya teman dekatnya.

Dan yang diucapkan oleh mereka berdua benar, Hamida juga kerap kali melihat Aya yang keluar dan bertemu dengan seorang laki-laki hampir di setiap harinya tanpa ditemani oleh Azka.

Dan yang di ucapkan Aya juga benar, bahwa sikap Azka sekarang kepada Aya itu kembali seperti dulu yang acuh tak acuh.

"Terus lo kira gue yang selalu nanyain gimana lo hari ini, kemana aja lo hari ini itu bukan bentuk kepedulian? Gue peduli sama lo Araya."

"Ya, kalo peduli kenapa malah acuh hah! KENAPA? Gak puas lo acuhin gue terus dulu? GAK PUAS?"

"ARAYA!!"

Sudahlah kepala Hamida rasanya akan meledak mendengar perdebatan mereka terus menerus, yang mana sebenarnya dua-duanya salah dan lebih mementingkan ego sendiri.

Behind You (ON GOING)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang