"Jika mengikhlaskan adalah tahta tertinggi dalam cinta, maka aku ikhlaskan kamu sesuai dengan yang telah Allah taqdirkan. Karna tidak semua yang kita inginkan itu menjadi kenyataan."
~Zara Zhafina Zulfa~
" Allah tahu mana yang baik dan yang buruk un...
Hari terus berganti, waktu terus berputar. Tak terasa sebulan telah berlalu, semenjak permintaan Killian hari itu diungkapkan.
Tepatnya hari ini... ialah hari yang sangat dinantikan oleh semua pihak. Hari bahagia untuk dua orang yang saling mencintai, walau sempat terpisahkan.
Acara kali ini memakai adat dari Sunda. Namun tetap memasukan nilai islami di dalamnya. Seperti... adanya acara malam, yang diisi oleh Tabligh Akbar dan penampilan berbasis Islamic lainnya.
Sebenarnya... acara ini dilaksanakan di kediaman keluarga Azka, alias di pondok pesantren Al-Istiqomah. Dengan Azka dan Ara yang bertukar posisi sementara. Ara tinggal di rumah Abi Zaki terlebih dahulu, sedang Azka nantinya akan datang bersama rombongan keluarga Ara.
Ara menatap wajahnya yang telah dihias, di cermin dikamar tamu yang dia tempati sementara ini. Jantungnya berdetak kencang seiring waktu berjalan, keringat dingin ikut bercucuran di dahinya, yang langsung dilap oleh MUA yang menanganinya. Apalagi saat dia mendengar suara pengumuman pengantin peria yang telah sampai.
Acara ini diawali dengan akad nikah terlebih dahulu, yang akan dilaksanakan di masjid. Setelah itu... barulah acara resepsi diadakan, di aula utama pesantren yang kini sudah dihias sedemikian rupa.
Kira-kira seperti ini bentukannya
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tak lama acara yang telah dimulai... membuat jantung Ara semakin berdetak kencang. Ara terdiam mendengarkan satu-persatu acara dijalankan. Sampai seseorang tiba-tiba masuk ke kamar yang di tempatinya.
"Kak... siap-siap, bentar lagi Ijab Qabul loh!!!" ucap Zoya yang kini tengah menggandeng sebelah tangan Ara. "Kita tunggu Ijab Qabul-nya di kamar dekat mimbar masjid."
Ara mengangguk dia segera berjalan keluar bersama Zoya dan beberapa santri di belakangnya.
Beberapa saat kemudian tibalah dia dikamar masjid yang dekat dengan mimbar itu. Namun... tiba-tiba tubuh Aya dipeluk erat oleh seseorang yang sepertinya telah menunggu dirinya di tempat itu.
"Ara..." panggil orang itu yang masih memeluk Ara. "Gak nyangka banget bisa nyaksiin nikahan lo," lanjutnya.
Ara membalas pelukan itu. "Makasih, Ya. Dan maaf... karena aku-"
Ucapan Ara terpotong. Karena orang didepannya... yang tiada lain adalah Aya, menutup bibirAra dengan satu jari telunjuknya.
"Shutt... Ra! Lo jangan ngerasa bersalah terus... semua ini itu udah takdir, jadi kita hanya perlu mengikhlaskan dan mengikuti alurnya saja," ucap Aya sembari tersenyum lembut.
Ara yang mendengar hal itu... semakin merasa bersalah saja pada orang di depannya. Bagaimana tidak? Dia menikahi mantan suami dari sahabatnya yang baru saja bercerai.