19.

74 13 0
                                        

19. Back story

Saat itu, Aya kembali kehilangan kesadarannya setelah dokter menyatakan bahwa ayahnya telah meninggal dunia. Kesedihan yang begitu mendalam membuat tubuhnya tidak sanggup bertahan, dan akhirnya ia harus menjalani perawatan lebih lanjut di ruang inap.

Ruangan itu kosong. Ara, yang selama ini menemaninya, sedang keluar untuk membeli makanan. Saat kesunyian menyelimuti, Aya terbangun. Pandangannya kosong, tatapannya hampa.

Kilasan kenangan menghunus pikirannya seperti belati tajam. Ia kembali melihat kejadian mengerikan itu—saat orang-orang yang ia cintai pergi di hadapannya. Ibunya yang memeluknya erat, tubuhnya dipenuhi darah akibat pecahan kaca dan benturan keras. Ayahnya yang meninggal di hadapannya langsung. Dan Raka... wajahnya berlumuran darah, pecahan kaca tertancap di sana.

Aya menggigit bibirnya, menahan erangan yang ingin pecah dari tenggorokannya. Napasnya memburu. Tangannya gemetar saat meraih infus yang tertanam di lengannya. Tanpa pikir panjang, ia mencabutnya dengan kasar.

Darah berceceran di lantai. Nafasnya tersengal, dadanya sesak, pikirannya berkecamuk dalam lautan duka. Ia meraih vas bunga di dekat tempat tidur dan melemparkannya ke dinding. Benda itu pecah berkeping-keping, serpihan kacanya berserakan di lantai. Ia menendang meja kecil di sampingnya hingga terbalik, semua isinya jatuh berserakan.

Ketika Ara kembali, ia terhenyak melihat kekacauan yang terjadi. Matanya membelalak saat mendapati kamar itu porak-poranda. Tapi yang membuatnya lebih panik adalah—Aya tidak ada di sana.

Jantungnya berdegup kencang. Ia berlari keluar, matanya mencari dengan liar hingga sebuah suara dari kamar mandi menarik perhatiannya. Air mengalir.

Dengan jantung yang hampir melompat keluar, Ara mendorong pintu kamar mandi.

"AYA!!!"

Pemandangan di hadapannya membuat dunianya seakan runtuh. Aya terduduk di lantai dengan tubuh bersimbah darah. Pergelangan tangannya penuh dengan sayatan, darah mengalir tanpa henti.

Ara segera berlari dan meraih tubuh lemah sahabatnya. "Aya! Aya, lo denger gue, kan?!"

Aya hanya menatap kosong, tapi air matanya jatuh tiada henti.

"Ra... mereka pergi, Ra..." lirihnya dengan suara yang nyaris tak terdengar. "Mereka ninggalin gue sendirian... gue lihat sendiri, Ra... Ibu peluk gue sambil penuh darah, Ayah juga... Raka... gue lihat wajahnya penuh darah... Orang-orang menjerit... Mayat di mana-mana... Darah, Ra... terlalu banyak darah..."

Aya mulai menangis tersedu, tubuhnya bergetar hebat dalam pelukan Ara. Ara memeluknya erat, mencoba menahan getaran tubuh sahabatnya yang hancur.

"Gue mau ikut mereka... gue nggak mau sendirian... Tolong, Ra... biarin gue pergi..." isaknya di antara isak tangis yang kian pecah.

Ara menggigit bibirnya, menahan air matanya sendiri. "Aya, dengerin gue. Lo nggak sendirian. Gue di sini. Zoya ada, Papa ada,  Azka, Abi, dan Umi juga ada. Kami semua masih di sini buat lo."

Aya menggeleng lemah. "Tapi gue... gue nggak kuat, Ra..."

Ara mengeratkan genggamannya di bahu Aya. "Lo kuat! Ibu dan Ayah lo udah berjuang biar lo tetap hidup. Jangan sia-siain pengorbanan mereka dengan ikut nyerah."

Entah kenapa pada saat genting seperti ini, dokter dan perawat terasa sangat lama untuk datang

Aya terisak, tapi kali ini ia tidak lagi memberontak. Tangannya yang gemetar perlahan turun, genggamannya melemah.

"Sekarang kita keluar dari sini, ya? Lo harus istirahat. Lo masih mau nemenin Ayah dan Ibu ke rumah barunya, kan?" bisik Ara lembut.

Aya hanya mengangguk kecil sebelum akhirnya tubuhnya limbung dalam pelukan Ara.

Tak lama para perawat dan dokter pun datang yang langsung menangani Aya. Ara melamun, memperhatikan semuanya. Dia berfikir ...

Apakah semua akan baik-baik saja?

***

Aya menatap layar ponselnya. Pesan dari Ara terpampang jelas.

Aya, gue udah daftarin lo ke psikiater. Lo harus sembuh.

Aya terdiam lama. Bisa nggak ya gue sembuh? pikirnya. Bisa nggak gue lepas dari semua ini?

Air matanya jatuh lagi. Tapi kali ini, ia menyekanya dengan cepat. "Gue harus sembuh. Bukan cuma buat diri gue. Tapi buat semua orang, dan buat Ara."

Tapi harapan itu kembali hancur ketika Azka mengatakan sesuatu yang menghujam hatinya.

Saat Hamida mendengar percakapan mereka dari balik pintu, sembari merekamnya diam-diam. Ia langsung bersembunyi ketika suara langkah mendekat. Ponselnya bergetar.

Ara

Gmn SM Aya skrg?

Ra, kayaknya Azka belum bisa nerima Aya.

Send record.

Tak lama setelah pesan terkirim, suara pecahan kaca terdengar dari dalam kamar Azka. Hamida tersentak, buru-buru masuk. Di dalam, Aya berdiri di depan meja rias. Barang-barang di hadapannya yang berada di meja rias  pecah, pantulan dirinya di cermin tampak kacau.

Hamida tak berpikir panjang, ia segera menarik Aya dalam pelukannya. "Nangis aja, Ya. Gue di sini."

Tubuh Aya mulai bergetar. Tak ada suara isakan, tapi Hamida tahu, Aya sedang menangis.

"Ara..." lirihnya.

Hamida tertegun. Aya mengira dirinya adalah Ara.

"Aya, lo pasti bisa," ujar Hamida dengan suara yang dibuat semirip mungkin dengan Ara.

Aya menggeleng. "Tapi, dia nggak mau sama gue... gue juga nggak pantas... gue sakit...."

Hamida menahan napas, lalu meraih wajah Aya. "Aya, lo mau bikin Ara kecewa? Mau bikin Ayah Adam kecewa? Mau buat Ibu Fathya sedih?"

Aya menggeleng.

"Kalau gitu, lo harus bangkit. Lo harus sembuh. Lo harus buktiin kalau lo bisa lewatin semua ini. Lo nggak sendirian, Aya."

Aya terdiam, lalu dengan ragu mengangguk. Perlahan, ia membalas pelukan Hamida.

Hamida menghela napas lega. "Sekarang lo istirahat, ya. Gue temenin."

Ia menuntun Aya ke tempat tidur, memastikan teman itu terlelap dengan tenang.

Hamida memang tahu bahwa Aya terkena serangan mental, tapi dia tidak tahu jenisnya. Dia juga tahu bahwa Hamdan selalu memperhatikan Aya karna nyatanya Hamdan dulu pernah menyukai Aya dan hanya Hamida yang tahu itu.

Setahu Hamdan, Hamida selalu ikut memperhatikan Aya itu karna perintahnya. Padahal memang sejak awal dia melakukan itu karna Aya itu temannya juga dan karna permintaan dari Ara.

Saat mereka menemui Arini, saat itulah mereka mengetahui penyakit Aya.

Ara

Anda

Aya kambuh ra!

Setelah kejadian itu, Hamida semakin sering ada untuk Aya. Setiap kali Aya kambuh, ia selalu ada, meskipun Aya selalu mengira dirinya adalah Ara.

Saat sadar, Aya hanya menganggapnya sebagai ilusi. Ia tidak pernah tahu bahwa Hamida yang sebenarnya selalu ada di sana.

Namun, sebulan setelah itu, Hamida kehilangan kontak dengan Ara. Baru setelah Zoya menghubunginya, ia tahu bahwa Ara sedang sakit.

Meskipun begitu, Hamida tetap mengabarkan keadaan Aya. Tanpa ia sadari, ponsel Ara sebenarnya dipegang oleh Zoya.

Dan kini, Hamida hanya bisa bergumam pelan, "Gue sebenarnya nggak tahu apa yang terjadi sama lo juga, Ra..."

***

2025-03-21
Tbc

Behind You (ON GOING)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang