37. Wedding
Ara melangkah pelan, seakan setiap hentakan kakinya memanggil gemuruh dalam dadanya. Tangannya bergetar, begitu juga seluruh tubuhnya yang berusaha menahan segala perasaan yang ingin meledak. Di depannya, Azka menunggu — sosok yang tak pernah benar-benar pergi dari hatinya, meski waktu dan luka mencoba memisahkan.
Azka mengulurkan tangannya. Jemarinya yang biasanya tegas kini gemetar hebat, seolah menahan semua luka, harapan, dan rasa takut yang tumpang tindih di dadanya. Dengan gerakan pelan, Ara meraih tangan itu, hangat, rapuh dan penuh makna. Ia menunduk, mencium punggung tangan Azka dengan rasa hormat dan kasih sayang yang tak mampu diucapkan.
Azka menarik napas panjang, seolah berusaha menahan gejolak yang memuncak di dadanya. Ia mengangkat tangan, meletakkan telapak besarnya di atas pucuk kepala Ara. Jari-jarinya menyentuh rambut Ara dengan lembut, seakan menyentuh sesuatu yang suci.
Mata Azka terpejam rapat. Suaranya bergetar saat ia berdoa, hampir seperti bisikan yang terdengar hanya oleh mereka berdua:
"اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ..."
(Allahumma inni as’aluka khairaha wa khaira ma jabaltaha ‘alaihi, wa a’udzu bika min syarriha wa syarri ma jabaltaha ‘alaihi...)
Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan apa yang Engkau ciptakan ada padanya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan dari keburukan apa yang Engkau ciptakan ada padanya.
Kalimat itu patah di tengah napasnya yang berat. Azka menggigit bibir bawahnya, menahan rasa sesak yang mencekik di dada. Ada harap, ada rasa takut kehilangan, ada cinta yang terlalu dalam hingga terasa menyakitkan.
'Ya Allah... jaga dia... bahkan sampai aku tak dapat menjaganya lagi suatu saat nanti...' bisik Azka dalam hati, menggenggam erat kepala Ara.
Selesai membaca doa, Azka membungkuk perlahan dan mencium kening Ara — lama dan dalam. Seolah ia menitipkan seluruh hidup dan jiwanya di sana.
Ara memejamkan mata, air mata tanpa sadar mengalir di pipinya. Saat kecupan Azka menyentuh kulitnya, ada rasa hangat yang menembus sampai ke tulang rusuk.
'Kalau ini mimpi... jangan bangunin Ara ya Allah... jangan pernah...' bisik hati Ara.
Mereka tetap diam, membiarkan waktu berhenti hanya untuk mereka. Dunia di sekitar mereka lenyap. Hanya ada degup jantung, hanya ada napas yang berat, hanya ada dua jiwa yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Stelahnya... mereka perlahan berjalan menghampiri Umi Tazkia dan Abi Zaki. Di belakang mereka, Mama Kayla tersenyum penuh haru sambil menggenggam tangan Papa Hamza dan Zoya, wajah mereka berbinar penuh rasa bahagia.
Begitu sampai di hadapan Umi Tazkia. Tanpa menunggu lama, Umi Tazkia langsung menarik Ara ke dalam pelukannya. Pelukan yang hangat, penuh keibuan, seakan mengatakan tanpa kata bahwa Ara kini punya tambahan rumah baru — tanpa pernah menggantikan rumah lamanya.
"Nak Ara..." suara Umi bergetar halus. "Kamu lahir dari cinta keluarga hebat, dan sekarang kamu menumbuhkan cinta itu dalam keluarga baru ini. Jangan pernah merasa sendiri, karena selain keluarga besarmu di sana," Umi melirik ke arah Mama Kayla, Papa Hamza, dan Zoya yang mengangguk sambil tersenyum. "Kamu juga punya kami di sini, yang akan selalu mendoakan dan menjaga kalian."
Ara mengeratkan pelukannya. Bukan karena kehilangan, tapi karena hatinya kini makin penuh.
Bersyukur atas dua rumah, dua tempat berpulang, dua pelindung yang Allah berikan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Behind You (ON GOING)
Teen Fiction"Jika mengikhlaskan adalah tahta tertinggi dalam cinta, maka aku ikhlaskan kamu sesuai dengan yang telah Allah taqdirkan. Karna tidak semua yang kita inginkan itu menjadi kenyataan." ~Zara Zhafina Zulfa~ " Allah tahu mana yang baik dan yang buruk un...
