Tandain typo!!!
42. Zyannn
"Dan sebenarnya... aku masih di situ di tempat kamu terakhir pergi memberi arti bahwa aku... takkan pernah bisa pergi..."
"Punten Teh, tadi Teteh panggil saya?"
Alunan suara indah dari nyanyian Hamida terhenti seiring matanya yang juga ikut terbuka, setelah mendengar panggilan seseorang yang tiba-tiba muncul di sampingnya.
Hamida menatap sekilas remaja pria yang tak lain adalah santri Abi Zaki, di depannya. "Ouh, ini..." Hamida menyodorkan dua lembar uang berwarna merah yang dia ambil dari sakunya. "Tolong beliin martabak rasa ketan-kelapa, terus kebab yang jumbo dua, susu coklat empat... merek apa aja terserah."
Lantas santri itu mengambil uang dari tangan Hamida dengan perlahan, menjaga agar tak menyentuh tangan Hamida. Dengan sebuah senyuman lembut, ia berkata, "Baik, Teh. Saya pamit dulu, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Namun baru saja santri itu berjalan, langkahnya terhenti oleh ucapan Hamida. Ya... sebelum kembali berjalan setelah mengangguki ucapan Hamida.
"Kalo ada kembalian, ambil aja. Terus perginya pake motor Hamdan yang ada di garasi, kuncinya minta ke Hamdan."
"Muhun, Teh."
Hamida berdiri dari duduknya, dia berjalan menuruni tangga menuju lantai pertama rumah Ara. Bibirnya terus bergerak—menggumamkan banyak kata yang hanya dapat di dengar oleh dirinya sendiri.
"Sabar dulu, ya. Janji besok aku udah ada di rumah."
Hamida memelankan langkah kakinya, tatkala tanpa sengaja dia mendengar suara seorang pria yang sangat dia kenali. Dan sepertinya itu suara dari sebrang telpon.
"Awas ya, kalo boong," ucap orang yang tengah duduk di sopa, membelakangi tangga tempat turunnya Hamida.
Hamida tersenyum jail. Dengan hati-hati kakinya melangkah—mendekati orang yang tengah telponan yang tak lain adalah Ara itu.
'Satu... dua... ti—'
"Assalamu'alaikum, Teh!"
Spontan Ara yang mendengar suara itu, berbalik. Tentu saja matanya langsung melihat atensi Hamida yang tengah berdiri di belakangnya dengan kedua tangan yang sudah melayang—bersiap untuk mengejutkan dirinya.
'Anj—astagfirullah.'
"Wa'alaikumsalam," jawab Ara dan Hamida bersamaan. "Mida, kamu ngapain buat pose kaya gitu?" lanjut Ara bertanya.
"Enggak ngapa-ngapain, Kok!" saut Hamida cepat.
Hamida yang memang masih berada di posisi tadi, segera menurunkan tangannya. Tubuhnya langsung berdiri tegak, tapi gesturnya terlihat kikuk yang membuat Ara memicingkan matanya.
"Lo... bohong?"
Hamida menggelengkan kepalanya cepat. "Enggak."
"Beneran."
"Asli, pake shod, Ra!" ucap Hamida mengangkat dua jarinya, peace.
"Zyan?" tanya Ara pada santri yang sedari tadi diam menyaksikan keduanya. "Kamu liat kan, dia mau apa?"
Hamida menatap santri itu tajam. Mata nya terus berkedip diiringi dengan kepala yang menggeleng pelan, mengisyaratkan untuk tak memberitahukan apapun pada Ara.
Santri yang di panggil Zyan itu, mengangguk pelan. Lantas dia berucap, "Nggak, Teh. Saya cuman liat Teh Mida mau ngagetin teh Ara yang lagi telponan aja, gak lebih."
KAMU SEDANG MEMBACA
Behind You (ON GOING)
Teen Fiction"Jika mengikhlaskan adalah tahta tertinggi dalam cinta, maka aku ikhlaskan kamu sesuai dengan yang telah Allah taqdirkan. Karna tidak semua yang kita inginkan itu menjadi kenyataan." ~Zara Zhafina Zulfa~ " Allah tahu mana yang baik dan yang buruk un...
