12.

79 18 3
                                        

~HAPPY READING~

12. Back

Semenjak hari itu, Azka selalu mencoba mendekati Aya. Bahkan masakan Aya yang selalu membuat dirinya mual pun, dia paksakan untuk memakannya. Ya, walaupun setelahnya dia tetap mengeluarkannya kembali ketika sudah tak bersama dengan  Aya.

Sulit sekali bagi Azka untuk menerima segala yang terjadi padanya. Kalo di tanya lelah? Pasti. Siapa yang tidak lelah harus terus memaksakan diri pada yang tidak kamu sukai.

Tapi, ucapan Umi, kata-kata Ara, dan kesabaran Aya selalu terbayang di fikiran Azka. Jikalau dia tak memaksakan diri nantinya yang terluka bukan hanya satu orang.

Azka sadar dengan semua kesalahannya, tapi ego terlaku menguasainya.

"Lo hebat Ka, udah mampu buat berusaha kalahin ego lo!" ucap Hamdan sembari menepuk pundak Azka yang saat ini tengah berdiri di balkon asrama putra.

"Gue gak mau terpuruk dalam kesedihan sampe terus-terusan buat kesalahan," jawab Azka.

Hamdan menghela nafasnya. "Ka, inget ini!"jeda Hamdan. "Disini yang terpuruk bukan cuman lo doang, coba lihat Aya! Dia bahkan lebih parah dari lo. Umi juga Ka."

Azka menaikan sebelah alisnya. "Umi?"

Hamdan merotasikan bola matanya, sungguh sepupunya ini katanya pinter. Tapi... Akh sudahlah. Ternyata memang benar, cinta bisa ngebuat kita lupa segalanya.

"Ka! Coba nih fikir. Umi lo kan cewek, dia ngelihat sikap lo ke Aya yang sama-sama cewek. Pastinya Umi sakit hati dong, karena dia juga bisa merasakan perasaan Aya karna  sama-sama cewek.

Terus lo pikir lagi! Di saat lo berlaku yang kurang baik pada Aya, apa Umi lo gak ngerasa kecewa? Dia pastinya merasa gagal buat ngedidik anaknya. Dia gak bilang ke lo, bukan berarti dia terima semua sikap lo. Tapi sebab dia mau lo sadar sendiri akan kesalahan lo. Karena sekarang lo udah gede, udah bisa nentuin mana yang bener dan salah sendiri," jelas Hamdan panjang lebar.

Azka terdiam, dia memikirkan segala yang di ucapkan Hamdan sampai Hamdan sudah pergi dari sampingnya pun... dia tetap terdiam.

"Ya Allah... sebesar itu dosaku," lirih Azka melihat ke arah langit.

Sebenarnya selama 5 bulan ini Azka menikah dengan Aya dia tetap selalu memberi nafkah dzohir untuk Aya tapi tidak untuk batin.

Azka mengusap wajahnya. "Astagfirullahal'azim... cuman karna sakit hati, gue jadi gini? Gak nerima taqdir."

"Umii...."

***

"Da shoping yuk!" ajak Hamida pada Aya yang baru saja pulang mengajar.

"Hmm... ayo deh, gue siap-siap dulu nanti lo tungguin aja di garasi okey?" jawab Aya yang di angguki oleh hamida yang langsung pergi untuk bersiap.

Saat Aya hendak masuk ke kamarnya, dia mendengar suara pintu kamar Umi dan Abi terbuka yang membuatnya langsung berbalik berniat menyapa Umi dan Abi.

Tapi yang keluar bukan Umi dan Abi, melainkan Azka dengan wajah memerah dan mata yang sembab seperti sehabis menangis?

Belum sempat Aya menanyakan keadaan Azka tiba-tiba tubuhnya terdorong dikarnakan pelukan tiba-tiba oleh Azka.

Aya terkejut, pertama kali selama 5 bulan dia menikah dia di peluk oleh Azka. Sungguh hatinya sudah bergetar tak karuan dibuatnya.

"A Azka kenapa?" tanya Aya lembut sembari mengelus punggung Azka yang saat ini sudah bergetar.

"Maafin gue, Ya. Gue udah buat banyak salah banget ke lo," ucap Azka tanpa melepas pelukannya dari Aya. "Lo masih mau kan, maafin gue?" tanyanya sembari kembali berdiri tegak melihat ke arah Aya.

Behind You (ON GOING)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang