40.

71 7 6
                                        

40. Tunggu kami di syurga!!!

Hujan mengguyur sejak pagi, seolah langit pun belum selesai menangis. Langkah-langkah kaki menyisakan jejak di tanah becek pemakaman. Di tengah gundukan tanah merah yang masih baru, empat sosok berdiri diam, membiarkan hujan membasahi ujung sepatu dan ujung hati mereka yang belum kering dari kehilangan.

Ara berdiri paling dekat dengan nisan itu. Payung hitam meneduhi dirinya, tapi dingin tetap merambat ke tulangnya. Di sebelahnya, Azka berdiri tenang, tangannya memegang payung yang sama, seolah ingin berbagi perlindungan lebih dari sekadar jasad.

Aya menggenggam tangan Ara dari sisi lain, matanya sembab meski tak lagi menangis. Dan Raka berdiri sedikit di belakang, diam, menjaga jarak, tapi tetap hadir.

Gundukan tanah itu bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir, tapi saksi bisu dari seseorang yang pernah berusaha memperbaiki hidup—dan memilih menyerah sebelum waktu menebus semuanya.

"Maaf, Ara telat datang…" bisik Ara, suara pelannya nyaris tertelan rintik hujan.

Bukan karena cinta yang belum selesai, tapi karena rasa kehilangan yang nyata. Karena seseorang seperti Killian layak dikenang, meski bukan untuk dimiliki. Karena Ara, yang sejak dulu mencintai Azka, tetap tak bisa membohongi hatinya, ia peduli pada pria itu—pada sosok yang akhirnya memilih menyerahkan diri dan mati sebagai manusia, bukan monster.

"Kenapa, Lian? Kenapa kamu lakuin ini? Kenapa kamu harus bohong tentang hal sepenting ini, Lian? KENAPA??!!!" teriak Ara tiba-tiba, setelah dia terdiam beberapa saat.

Azka yang melihat istrinya kembali rapuh, dengan segera membawanya ke dalam pelukan. "Liat sini, Ra! Tatap aku!"

Azka memegang kedua sisi wajah Ara, yang kini sudah banjir air mata. Dengan perlahan... jari jempolnya menghapus jejak-jejak kesedihan itu. Ara mendongak—menatap wajah suaminya yang terlihat sedih di balik senyuman menenangkannya.

"Dengar aku sayang..." bisik Azka, lembut. "Killian lakuin ini semua demi kamu, demi kebahagiaan kamu. Jadi kamu jangan sedih-sedih lagi ya... kasian Killian-nya di sana. Emang kamu mau dia juga ikutan sedih? Atau disiksa karena kesedihan kamu?" Ara menggeleng. "Jadi udah ya... jangan nangis lagi, hm?"

Ara mengangguk pelan. Tapi tak lama, ia kembali mengeluarkan air mata dengan desisan yang sangat menyayat hati.

"Aku gak bisa, A. Aku gak bisa!" lirihnya, menggenggam erat sepucuk kain baju Azka. "Di-dia udah berusaha buat ber-ubah, di-di-a ud-dah mau menja-di baik. Ta-pi kenapa harus kaya gini akhirnya? Kenapa, A... kenapa?"

Ara melepas pelukan Azka, tubuhnya mundur secara perlahan dengan dada yang naik turun, sejurus dengan nafasnya yang tak beraturan. Ia tak peduli hujan yang kini mengguyur dirinya, membasahi seluruh pakaiannya dan juga hatinya.

Ara menatap kedua tangannya yang kini bergetar hebat. "Apa dia pergi sebab deket sama aku?" lirihnya.

Azka yang mendengar penuturan itu segera mendekati Ara, berniat kembali memeluknya. Berbanding terbalik dengan Aya yang kini tengah memalingkan wajahnya—mengontrol emosinya agar tidak ikut terbawa suasana.

Azka memang telah diberitahu oleh kedua orang tua Ara, tentang penyakit mental Ara sebelumnya. Makanya saat ini... dia berusaha untuk menenangkan—menyadarkan kembali Ara pada kenyataan.

"Jangan deket-deket aku! Aku gak mau nanti kamu ikutan pergi!" cegah Ara. Namun Azka tetap melangkah, menghiraukannya. "A... please jangan deketin aku, aku gak mau kehilangan lagi..."

Azka menggeleng cepat. "Gak akan, Ara."

"Bakalan, Kak!"

"Enggak..."

Behind You (ON GOING)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang