21.

70 12 1
                                        

21. Move on

"Gue ketemu Ara."

Hamida yang tengah membereskan bajunya langsung berhenti. Tubuhnya kaku, matanya terpaku pada Hamdan. Ada kejanggalan di wajahnya yang semula tenang, tiba-tiba berubah cemas.

Hamida berbalik menatap Hamdan, wajahnya penuh tanya. "What? Dimana lo ketemu dia? Kok gue nggak tahu sih?" tanyanya, suaranya sedikit gemetar. Kecemasan mulai merayapi dirinya.

Hamdan menghela napas kasar. Wajahnya penuh dengan guratan khawatir yang sulit ditutupi. Dia nggak menjawab langsung, malah melanjutkan kata-katanya.

"Aya sama Azka juga ketemu dia."

Hamida tertegun, mulutnya terasa kering. "Berte-temu?" ucapnya hampir terbata, rasa terkejutnya mulai menguasai dirinya. Semua yang baru saja dia dengar seperti memutar otaknya dengan cepat.

Hamdan mengangguk pelan, wajahnya semakin serius. "Iya, di acara nikahan kemarin yang di Cianjur. Ternyata, kemarin itu partner gue, Qori, Aya, dan yang ngisi dakwahnya... Azka dan Ara."

Hamida masih terdiam, mencoba memproses apa yang baru saja disampaikan Hamdan. Semua terasa begitu mengejutkan. "Lo ketemu mereka di sana?" Suaranya terdengar serak. "Kok bisa... gue khawatir kalau ini malah jadi masalah buat hubungan Aya dan Azka."

Hamdan menggeleng pelan, wajahnya dipenuhi rasa cemas yang jelas. "Kemarin gue lihat Aya, dia kayak nahan banget buat nggak marah, kaya nahan buat trauma-nya yang bisa meledak kapan aja itu gak terpacu. Dan Azka... setelah ketemu Ara, dia jadi lebih pendiam.

"Gue tahu Da, gimana rasanya saat kita ngelihat kembali  orang yang dulu pernah kita sukai. Apalagi Azka pada Aya yang saat ini  perasaannya belum sampai  ke tahap saling mencintai."

Hamida menundukkan kepala, mencerna semuanya. Tentu saja, hubungan Aya dan Azka sedang rapuh, dan sekarang malah tanpa sengaja mereka bertemu Ara, yang seakan jadi pengingat masa lalu yang sulit dilupakan.

Sebenarnya kemarin dia juga di undang ke acara itu, hanya saja dia lebih memilih menemani  ibunya yang sedang dinas di luar kota. Lagipula dia tidak ikut mengisi acara seperti Hamdan.

Hamida terdiam sejenak, lalu dia melangkah mendekat, menatap Hamdan dengan mata yang penuh tanya. "Lo masih suka ya, sama Aya?" Tebak hamida.

Hamdan tertegun dan langsung memalingkan wajahnya ke arah lain. "Lo gak bisa bohongin gue Dan, gue kembaran lo. Apapun yang lo rasain gue juga ikut ngerasain,"ucap Hamida.

Hamdan langsung memandang Hamida horor. "Jangan bilang lo LGBT  Da?! Sebab gue suka cewek jadi lo juga ikut suka," ucap Hamdan yang kini tengah mendorong tubuh Hamida agar menjauh darinya.

"Ga gitu juga konsepnya, ya kali gue suka yang sejenis !" jawab Hamida yang mendorong balik Hamdan.

Hamdan tertawa, dia memang sengaja berbicara seperti itu agar tidak terlalu serius. Karena memang mereka berdua jarang ngobrol serius kecuali waktu-waktu tertentu.

Hamdan merebahkan kepalanya di pangkuan Hamida. "Gue gak tau kenapa dek, udah banyak cara gue lakuin buat hilangin perasaan ini. Tapi tetep aja gak hilang-hilang."

Hamida ingin sekali membanting kepala Hamdan sebenarnya. Tapi saat mendengar keluhannya, Hamida merasa sedikit kasihan.

Hamida mengelus rambut Hamdan. "Abang dengerin gue, segimanapun lo berusaha buat move on. Kalau hati lo gak bener-bener menginginkan untuk move-on, bakalan susah. Apalagi sekarang  lo tiap hari bisa ketemu dia, yah jadi wajar kalo makin sulit," ucap Hamida lembut.

Hamdan tertunduk, terlihat kelelahan dengan perasaan yang terus menghantui. Hamida merasakan beban itu, meskipun dia tahu tidak mudah untuk menghilangkan perasaan yang begitu kuat.

Behind You (ON GOING)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang