27. The Day with killian
Tak terasa seminggu sudah berjalan masa taubat Killian yang di temani selalu oleh Ara. Bahkan Ara meminta bantuan kepada salah satu gurunya yang berada di Jakarta untuk membimbing Killian.
Sering kali juga Killian membawa Ara pada rumah orang-orang yang tak di kenalinya. Tapi dia tidak diizinkan untuk ikut mendengarkan percakapan mereka oleh Killian.
Yang sebenarnya adalah... Killian tengah meminta maaf pada semua keluarga korbannya, dan korban pembunuhan ayahnya. Dia berjanji kepada mereka semua, setelah dia meminta maaf kepada seluruh keluarga dari orang yang pernah dia bunuh, dia akan menyerahkan dirinya ke polisi.
Banyak yang marah kepadanya, tapi ada juga yang memaafkannya bahkan sampai tidak perduli akan anak yang sudah di bunuhnya. Tapi dia tetap mencoba untuk bertanggung jawab.
"Sebenarnya apa sih yang selalu kamu omongin sama mereka?" tanya Ara saat Killian sudah keluar dari salah satu rumah yang tadi di masukinya.
Memang selama Killian pergi , Ara akan menunggunya di mobil. Tidak sendiri sebenarnya, karena ada bodyguard nya juga yang selalu menemaninya. Tenang, bodyguardnya Itu, satu orang prempuan dan dua orang laki-laki.
Itu juga permintaan Killian setiap dia akan pergi bersama Ara, agar masih ada yang mengawasi dan untuk menjauhkannya dari fitnah.
Killian memasuki mobil dan duduk di samping kursi kemudi sedang Ara di kursi penumpang. "Ada deh, nanti juga Ara bakalan tahu kalo udah waktunya," ucapnya sambil tersenyum.
Sudah banyak perubahan dari Killian yang Ara lihat yang membuat dia senang melihatnya. Dia tak menyangka akan mengalami fase seperti ini dalam hidupnya. Menemani seseorang yang dalam proses hijrah.
Ara cemberut. "Kebiasaan deh Lian ngomong gitu."
Lian tertawa. "Sabar aja dulu," ucap Lian yang membuat Ara semakin cemberut.
Lian kembali meledakkan tawanya. "Lucu deh liat lo cemberut kaya gitu, haha."
Blushh...
Wajah Ara memerah mendengar ucapan Killian yang membuatnya langsung memalingkan wajahnya, salting.
Killian yang menyadari hal itu semakin menjadi untuk menggoda Ara.
"Ara kok merah mukanya? Salting ya, hahaha."
Muka Aa semakin memerah saja. "Diem ikh."
"Hahaha, yaudah deh aku diem, tapi sebelum itu aku mau nanya sesuatu."
"Apa?" sewot Ara.
"Mau gak nemenin aku ke museum istiqlal?" tanya Killian yang membuat Ara langsung memandangnya dengan mata yang berbinar.
"Ikhh... Ayo, kita kesana!" seru Ara. Killian terkekeh melihatnya.
'Cepet banget moodnya berubah' batin Killian berucap.
"Kak body, ayo kita jalan-jalan."
"Ayo nona!"
Killian sangat menikmati semua waktu bersama Ara yang mungkin tak akan datang lagi kepadanya. Killian selalu suka melihat senyum Ara, sikap baik Ara yang tak pernah pandang bulu, pokonya semua yang ada di Ara, Killian menyukainya
Killian termenung melihat jalanan di sampingnya, entah berapa waktu lagi yang bisa dia habiskan untuk melihat Ara, dan merasakan dukungan kuat untuk berubah jadi lebih baik oleh ara.
Dia pasti akan merasa kehilangan saat waktu pertanggung jawabannya telah tiba. Tapi, apa Ara juga akan merasakan hal yang sama ?
Tak terasa mereka kini sudah sampai di area Bayt Al-Qur'an dan museum Istiqlal yang bertempat di Taman Mini Indonesia Indah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Behind You (ON GOING)
Novela Juvenil"Jika mengikhlaskan adalah tahta tertinggi dalam cinta, maka aku ikhlaskan kamu sesuai dengan yang telah Allah taqdirkan. Karna tidak semua yang kita inginkan itu menjadi kenyataan." ~Zara Zhafina Zulfa~ " Allah tahu mana yang baik dan yang buruk un...
