33.

79 17 6
                                        

33. Restu

"Pemenang juara satu musabaqoh Tilawatil Qur'an remaja putri tingkat provinsi... Ananda Araya Hurry Firdausyi, berikan applause yang meriah!!!!"

Gemuruh tepuk tangan menggema di seluruh ruangan mengiringi langkah kaki dari seorang gadis berumur 14 tahun menuju podium.

Pandangan seorang remaja laki-laki yang menjadi salah satu peserta, tak lepas dari gadis yang kini tengah tersenyum dengan tangan yang memegang beberapa hadiah yang tengah berpoto bersama dewan juri.

Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya. "Jaga pandangan bang," ucap orang itu yang tak lain adalah adik kembarnya.

"Apaan sih dek..." ucapnya mengelak.

Si adik tertawa sembari terus menaik-turunkan alisnya, menggoda sang kakak.

"Dia santrinya Om Abi, tau!" ujar si adik yang mampu membuat si kakak terkejut.

Ada binar-binar kebahagia dimatanya, dia menatap sang adik tidak percaya. "Beneran?" tanyanya yang diangguki sang adik.

"Abang suka, ya. Sama dia?" tanya sang adik sembari tersenyum jahil yang membuat si kakak mendengus sebelum si adik melanjutkan ucapannya.

"Ahhh... Bang! Gimana kalo kita ikut mondok aja disana. Biar Abang bisa tahu dia gimana, dan aku bisa bantu ngedekatinya," seru si adik heboh.

Si kakak sempat terdiam berpikir sebelum mengangguk, tak ada salahnya kan jika dia pindah ke pesantren milik keluarganya yang di kelola oleh omnya itu?

"Nanti kita bicarain ke mommy!"

***

Bayangan-bayangan masalalu kembali menghampiri Hamdan yang saat ini tengah melamun.

9 tahun mencintai orang yang sama tanpa ada seorangpun yang mengetahuinya kecuali adiknya, membuatnya selalu merasa dilema.

Apalagi saat dia mengingat kenangan 1 tahun lalu, saat dimana adiknya mengatakan jika sepupunya telah menikah.

"Lo tahu gak, Azka pulang dari Jakarta langsung bawa bini coba!" seru Hamida yang membuat Hamdan membelalakan matanya.

"Beneran?" tanyanya dan Hamida mengangguk cepat.

Awalnya Hamdan mengira orang yang di nikahi Azka adalah Ara, wanita yang selalu di ceritakan oleh Azka kepadanya.

Tapi... Pada saat dia melihat wajah wanita itu, betapa terkejutnya dia saat mendapati orang yang dicintainya yang dinikahi sepupunya.

Hatinya seakan hancur lebur saat mengetahui kenyataan itu. Hamida yang juga bisa merasakan perasaan kembarannya, memegang tangan Hamdan mencoba untuk menenangkannya.

"Ikhlasin dia bang."

"Gue usahain."

Nyatanya move on tidak semudah itu, apalagi dia yang setiap harinya selalu melihat orang yang di cintainya. Araya.

Saat dia melihat perlakuan Azka yang menyakiti Aya, hatinya juga ikut tersakiti. Dia sangat ingin membantu, menenangkan bahkan merebutnya dari Azka. Tapi dia sadar, hal itu salah dan tak mungkin juga dia lakukan. Makanya dia lebih memilih untuk mengikhlaskan.

Behind You (ON GOING)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang