34.khitbah
Jam delapan malam, Azka dan keluarga minus duo h-telah sampai di rumah Ara. Diruang tamu sudah ada keluarga Ara ditambah Aya dan Raka, yang menyambut kedatangan mereka.
Azka yang melihat atensi kedua orang itu, sempat menampilkan raut wajah terkejutnya. Namun, tak lama ia mendatarkan kembali wajahnya.
"Ah... Ayah Hamza, apa kabar kamu?" ucap Abi Zaki basa-basi. Tangan mereka berjabat ala-ala para lelaki.
"Alhamdulillah... sebaliknya, Abi sekeluarga sehat?" tanya balik Hamza.
"Alhamdulillah...."
Mengalir lah basa-basi antar dua keluarga. Ara melihat semua hal itu merasakan dejavu pada kejadian di depannya. Mengingatkannya kembali pada tragedi menyakitkan itu.
Ara memejamkan matanya, mencoba mengontrol detak jantungnya karena sedikit trigger mengingat kejadian dulu.
'Tenang Ra, hal itu gak bakalan terjadi lagi.'
Ara menghela napasnya ketika dia sudah merasa lebih tenang. Dia menatap sekitar meneliti keadaan. Namun pandangannya tiba-tiba stuck di satu orang yang menatapnya dengan raut khawatir. Ahhh... apakah dia tahu dirinya sempat ke-trigger?
Malam semakin larut, dan tujuan dari kedatangan keluarga Azka pun telah tersampaikan.
Suasana ruangan itu tiba-tiba sunyi. Hanya terdengar detak jam dinding yang berdetak lambat, seolah ikut menahan napas bersama semua yang hadir. Ara menunduk, menggenggam jemarinya sendiri, sementara tatapan Azka tertuju padanya-tak bergeming, namun penuh makna.
Langkah Azka terasa mantap saat ia berdiri, mengenakan kemeja putih polos dan jas hitam yang rapi. Tidak ada senyum basa-basi. Hanya sorot mata yang bicara tentang luka, penyesalan, dan niat baik yang akhirnya menemukan jalannya.
"Bismillahirrahmanirrahim...."
Suaranya tenang dan dalam. Tapi setiap katanya membawa beban waktu yang lama terpendam.
"Ara, aku datang bukan untuk sekadar menebus kesalahan atau memenuhi harapan orang lain. Aku datang karena aku ingin memuliakan kamu dengan cara yang benar, sesuai dengan syariat-Nya."
Sejenak, Azka menatap lantai. Bukan karena ragu, tapi karena hatinya sedang berusaha menahan guncang. Lalu ia kembali menatap Ara-teguh, tulus.
"Dengan segala keterbatasan dan luka masa lalu yang kita punya, aku yakin... kalau Allah mempertemukan kita lagi di titik ini, itu bukan kebetulan."
Tangannya mengepal ringan di sisi tubuhnya, mencoba tetap tenang meski jantungnya tak seirama.
"Maka hari ini, dengan penuh kesungguhan, aku memohon izin-kepada kamu, dan keluargamu-untuk melamar kamu. Untuk menjadikan kamu pendampingku dalam ibadah, dalam suka dan duka, dalam dunia dan akhirat."
Ia menundukkan kepala sedikit, sebagai bentuk penghormatan. Tapi suaranya tetap terdengar jelas-lantang namun lembut.
"Maukah kamu menjadi calon istriku... dalam ikatan halal yang diridhai Allah?"
Dan saat itu... seisi ruangan seolah ikut diam bersama napas Ara yang tercekat. Tak ada jawaban langsung, hanya mata yang mulai berkaca dan hati yang bergetar.
Sebelumnya, Ara telah menyiapkan diri. Berlatih untuk terlihat tenang. Menjaga agar hatinya tetap kuat. Tapi tetap saja... saat Azka benar-benar berdiri di hadapannya, membawa niat baik itu, segalanya terasa berbeda.
Bukan sekadar 'menjalankan amanah'. Tapi ini... nyata. Nyawa dalam setiap kata. Perasaan yang entah sejak kapan mulai tumbuh kembali, padahal dia telah membuangnya jauh-jauh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Behind You (ON GOING)
Teen Fiction"Jika mengikhlaskan adalah tahta tertinggi dalam cinta, maka aku ikhlaskan kamu sesuai dengan yang telah Allah taqdirkan. Karna tidak semua yang kita inginkan itu menjadi kenyataan." ~Zara Zhafina Zulfa~ " Allah tahu mana yang baik dan yang buruk un...
