38. Wedding 2
Resepsi pernikahan Ara dan Azka berjalan lancar, hangat, dan penuh tawa. Alunan musik lembut mengalun di sepanjang ruangan, membalut suasana dengan keharuan dan suka cita. Meja-meja dihiasi bunga segar dan lilin kecil yang berkelip tenang, sementara aroma masakan khas memenuhi udara, menggoda setiap tamu yang datang. Gelak tawa bersahutan saat keluarga dan teman-teman berkumpul, berbagi cerita, dan mengabadikan momen dengan foto-foto penuh keceriaan. Di sudut ruangan, anak-anak berlarian sambil tertawa riang, membuat suasana makin hidup. Di antara semua itu, Ara dan Azka saling menatap, seakan dunia hanya milik mereka berdua-memulai perjalanan baru, diiringi restu, cinta, dan doa dari semua yang mereka cintai.
"Uhibbuki Zawjaty..." bisik Azka disamping telinga Ara.
Pipi Ara yang memang sudah merah karena makeup, semakin memerah saja. Dia melirik Azka dengan ujung matanya.
"Uhibbu aidlon, yaa Nuurulqalby."
Dilain sisi...
Aya terdiam memperhatikan semua itu. Ada sedikit rasa iri dihatinya, kala ia mengingat bahwa pernikahannya dulu tidak dirayakan seperti ini. Bahkan banyak orang-orang yang menyangka dia belum menikah, dalam artian mereka mengira bahwa ini pernikahan pertamanya Azka.
Aya mengelus perutnya, mengingat ada anak Azka dan dirinya disana. Sungguh, dia sebenarnya tidak ingin menyembunyikan hal ini dari Azka. Hanya saja... rasa kecewa dan sakit yang dia peroleh dari Azka, membuatnya menjadi enggan untuk melepas anaknya nanti bersama ayahnya. Dan yang lebih penting, dia tak ingin menghancurkan moment kebahagiaan sahabatnya.
Jujur saja, Aya memang ikhlas dengan semua ini. Tapi dia juga merasa sakit dan sedikit denial dengan perasaannya. Sedikit memusingkan, tapi itulah kenyataannya. Karena Aya sendiripun sebenarnya tidak mengerti dengan keinginan hatinya saat ini.
'Ya Allah... ku mohon teguhkan hatiku dari semua kejadian ini.'
Raka yang duduk di samping Aya, menghela napas melihat Aya yang melamun sembari menatap dua pengantin baru di depan. Raka berdiri kehadapan Aya, menghalangi pandangannya.
Ara sedikit mendongak menatap Raka yang kini sudah menunduk, sedikit mengamakan tingginya dengan posisi duduk Aya.
"Jangan terlalu diliatin, apalagi sampai terus-terusan dipikirin. Kamu udah buat keputusan yang baik buat mereka bahagia, berarti kamu juga harus cari dimana tempat kamu bisa bahagia," ucap Raka memberi pengertian. "Allah itu sangat sayang kamu, Ya. Makanya dia buat semua ujian ini buat kamu," lanjutnya.
"Tapi tetep sakit loh, Rak. Gue... gue... gua ga-" ucapan Aya dipotong oleh Raka.
"Shut... Ya. Jangan terlalu stuck di rasa sakit lo itu. Coba lo bayangin aja... di dunia ini juga banyak yang lebih ngerasain rasa sakit yang lo rasain. Inget kata gue tadi, Ya. Allah itu sayangggg banget sama lo. Mungkin dia buat ujian perasaan ini buat lo, sebab dia mau negur lo."
"Negur gue?" tanya Aya keheranan.
Raka mengangguk. "Mungkin kan," ucapnya sembari duduk kembali di samping Aya. "Gini deh, coba dari yang simple aja dulu. Lo udah ngerasa pernah bersyukur gak sih, saat lo kehilangan keluarga lo... tapi Allah kasih penggantinya melalui keluarga mantan suami lo itu?"
Aya mengangguk. "Pasti itu... gue bersyukur banget masalah itu. Sebab itu juga kan gue mau bertahan lama dengan Azka."
Raka mengangguk mengerti. "Coba sekarang... lo pernah bersyukur gak, dengan adanya bayi di perut lo? Dengan gak pernah nyalahin dia karena ada diwaktu yang tidak tepat, atau lainnya? Karena mungkin adanya dia di sana itu... buat ngeganti keluarga lo yang udah pergi, dan lo yang udah lepas dari Azka."
KAMU SEDANG MEMBACA
Behind You (ON GOING)
Novela Juvenil"Jika mengikhlaskan adalah tahta tertinggi dalam cinta, maka aku ikhlaskan kamu sesuai dengan yang telah Allah taqdirkan. Karna tidak semua yang kita inginkan itu menjadi kenyataan." ~Zara Zhafina Zulfa~ " Allah tahu mana yang baik dan yang buruk un...
