13.

83 19 3
                                        

~HAPPY READING~

13. Secret

Hari-hari setelahnya berjalan dengan baik, tanpa adanya lagi kata-kata kasar dari Azka ataupun tangisan dari Aya.

Namun, bagi Aya tetap saja hatinya belum tenang selagi Azka belum mengungkapkan perasaannya saat ini.

Boleh tidak Aya egois untuk Azka hanya untuknya saja, bukan hanya raganya tapi hatinya pun untuknya?

"Woii !!! Ngelamun terus," ujar Hamida mengagetkan Aya.

Aya tersenyum. "Apa sih Da, ngagetin tau gak?" ucapnya.

Hamida tertawa. "Suruh siapa ngelamun, kesambet tau rasa. Haha ...."

"Jahat banget ngomongnya, Da." Hamida tak menghiraukan ucapan Aya, dia tetap mempertahankan tawanya.

"Ehh ... btw, Ya. Hubungan lo sama Aka sekarang gimane?" tanya Hamida penasaran.

Aya menatap lurus kearah Hamida. "Setelah hari itu, udah gak ada masalah lagi sih," jawab Aya sembari tersenyum. Tapi Hamida melihat matanya seperti terdapat kekosongan.

"Lo takut dia kaya dulu lagi, Ya?" tanya Hamida yang diangguki oleh Aya.

"Hmm ... begitulah." Aya kembali menatap lurus kedepan.

Hamida terdiam begitupun dengan Aya. Tiba-tiba Hamida teringat sesuatu yang membuatnya selalu ingin bertanya.

"Ya ... gue mau nanya, tapi lo jangan tersinggung ya!" ucap Hamida tiba-tiba yang membuat Aya langsung melihat ke arahnya kembali.

"Tanya aja ..." jawab Aya santai walau nyatanya hatinya tengah menebak-nebak.

"Lo tau gak keadaan Ara sekarang?" tanya Hamida hati-hati.

Aya menghela napasnya, sembari mendongak menatap langit. "Semenjak hari itu ... gue gak pernah kontakan lagi sama dia. Awalnya gue nyangkanya sosmed gue di blok sama dia, ternyata emang dia nge-non aktifin semua akun dia. Gue juga sempat nanya-nanya sama keluarganya, mereka cuman jawab Ara baik-baik aja. Tapi gue gak yakin sebenarnya," jelas Aya.

Hamida ikut melihat ke arah langit. Dia mengerti bagaimana perasaan Aya yang menjadi sahabat dari gadis yang disukai oleh suaminya, apalagi caranya menikah yang kurang baik.

Tapi, Hamida juga mengerti keadaan Ara sekarang yang tak pernah muncul lagi di publik. Yah, siapa sih yang tak akan trauma dengan kejadian itu, bahkan Hamida juga yakin Aya juga mempunyai trauma tapi dia mampu menutupinya.

"Lo insomnia ya?" tanya Hamida yang mampu membuat Aya terkejut.

Aya menatap intens Hamida. "Tau dari mana lo?" tanyanya ketus.

Hamida terkekeh. "Berarti bener ya? Padahal gue cuman iseng nebak".

Aya tertegun, insomnia? Ya Aya mempunyai penyakit itu, semenjak tragedi menyakitkan itu. Setiap dia memejamkan matanya semua kejadian hari itu selalu terbayang olehnya, jeritan, tangisan orang-orang, dan darah yang dimana-mana.

Tanpa orang lain ketahui, Aya selalu pergi ke psikiater setiap minggunya dengan alasan mengontrol bisnisnya pada saat izin keluar. Dia melakukan hal itu sebab tidak ingin keluarga Azka bersama Azka sendiri terbebani saat mengetahuinya.

Tapi, tanpa di ketahuinya Hamida selalu memperhatikan dirinya, dia juga sering mengikuti Aya yang pergi ke psikiater bahkan sampai-sampai dia sendiri ikut bertanya pada psikiatetnya.

Flash back on...

Saat itu Hamida tengah berada di rumah sakit untuk control matanya yang minus, tapi tanpa sengaja dia melihat Aya yang tengah berjalan di lobi rumah sakit.

Behind You (ON GOING)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang