30. Pregnant
"Terus sekarang Aya sama Raka gitu, mantannya yang gak jadi mati itu?" tanya Hamdan saat Hamida menyelesaikan ceritanya.
Hamdan baru saja pulang ke Garut tadi malam. Namun baru saja dia akan memberikan oleh-oleh pada Azka dan Aya, tiba-tiba Hamida menceritakan bahwa mereka telah berpisah.
Terkejut? Sangat. Dia hanya pergi satu bulan tapi sudah banyak kejadian yang terjadi di sini.
"Om Abi, sama Aunty Umi nanti malam kan mau pulang. Kalo mereka bertanya bagaimana?" Ucap Hamida risau karena memang kedua orang tua Azka belum mengetahui masalah ini.
Hamdan yang melihat kerisauan adiknya mencoba untuk menenangkan. "Tenang dek, kita kan gak salah. Biarin aja si Azka nanti yang menjelaskan."
.
.
.
Dan nyatanya itu tidak terjadi, karna setelah Umi Tazkia dan Abi Zaki datang, baik Azka, Hamdan maupun Hamida mereka di kumpulkan untuk dimintai penjelasan.
"Kenapa bisa jadi seperti ini Azka? Umi hanya ninggalin kalian dua minggu tapi menantu Umi sudah tidak ada di sini?" tanya Umi Tazkia, sedang Azka hanya terdiam.
Umi beralih menatap Hamida. "Mida, kamu diam di rumah tapi gak cegah dia nyerain Aya?"
"Umi, aku ud-" ucapan Hamida dipotong oleh Umi.
"Gak perlu ngejelasin percuma."
Hamida menganga di buatnya 'Terus ngapain nanya?'
Umi Tazkia beralih pada Hamdan. "Kamu lagi, berlama-lama di kota orang. Lihat kan pulang-pulang sudah bagaimana?"
"Maaf um-" ucapan Hamdan dipotong Umi Tazkia.
"Gak perlu minta maaf."
"Udah Umi jangan marah-marah terus, sekarang mending Umi istirahat. Biar Azka yang nyari Aya dan minta maaf langsung padanya," ucap Abi Zaki menenangkan.
Umi mengangguk, dia menatap tajam Azka." Kamu jangan pulang sebelum dapat kata maaf dari Aya!"
***
"Aya, maafin aku. Please kamu jangan benci aku, aku gak mau persahabatan kita hancu,r Ya," pinta Ara pada Aya.
Saat ini Ara tengah mendatangi rumah keluarga Aya dulu yang sekarang ditempati oleh Aya kembali dengan Raka.
Aya memalingkan wajahnya. "Gue gak pernah benci lo Ra. Tapi hati gue belum ikhlas dengan rasa sakit yang datang karena adanya lo Ra."
Ara terdiam sebelum kembali berbicara. "Gapapa Aya masih belum ikhlas sama yang terjadi gara-gara Ara, Ara bakalan tunggu sampai Aya mau maafin Ara."
Aya mengangguk tanpa menatap sedikitpun kearah Ara.
"Sekarang lo pergi dan jangan kembali lagi sebelum takdir yang mengharuskan."
Ara tertegun, baru pertama kali dalam hidupnya dia merasakan di usir. Dan orang yang pertama kali mengusirnya itu adalah sahabatnya sendiri.
Ara menghapus air matanya sebelum berdiri dan pamit dari hadapan Aya.
"Yaudah Aya aku pamit dulu... Assalamu'alaikum."
Tak ada jawaban yang membuat Ara semakin merasa tak enak hati, dia segera pergi dari rumah Aya karena takut kehadirannya akan membuat Aya kembali merasa sakit.
"Wa'alaikumsalam..." lirih Aya saat Ara sudah tak terlihat lagi di depannya.
Air matanya terjatuh melepaskan rasa sesak di dadanya. Sejujurnya, tak sedikitpun dia ingin hubungannya dengan Ara hancur. Hanya saja rasa sakit di hatinya yang ia anggap berawal dari ara yang memberikan azka untuknya, membuatnya merasa sesak saat mengingatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Behind You (ON GOING)
Fiksi Remaja"Jika mengikhlaskan adalah tahta tertinggi dalam cinta, maka aku ikhlaskan kamu sesuai dengan yang telah Allah taqdirkan. Karna tidak semua yang kita inginkan itu menjadi kenyataan." ~Zara Zhafina Zulfa~ " Allah tahu mana yang baik dan yang buruk un...
