16.

75 15 1
                                        

16. Singapura

Saat ini Aya dan Azka tengah bersiap untuk kepergian mereka menuju Singapura. Atau istilah lainnya adalah honeymoon.

Itu semua adalah ide dari Umi Tazkia, karna memang Umi sendiri yang memberikan mereka tiket menuju Singapura. Dengan  dalih kado pernikahan mereka yang tertunda.

"Pokonya pulang dari sana Umi minta cucu!" ucap Umi Tazkia dengan raut wajah tegas.

"Hm," jawab Azka malas.

Umi Tazkia mencubit lengan Azka. "Kamu tuh ya Azka, gak kasian gitu ke Umi? Punya anak cuman satu-satunya mana dingin, sepi tahu hidup Umi. Makanya Umi butuh cucu!" cerocos Umi Tazkia.

Sungguh Aya yang mendengar ucapan Umi malu dibuatnya. Dia sendiri tak pernah berharap lebih tentang hubungannya dengan Azka. Karna baginya Azka yang sudah menerima dia sebagai istrinya pun sudah bersyukur.

Azka tak menghiraukan ucapan Umi, emang memberikan cucu untuk Uminya segampang  mengedepankan mata apa? Semua juga butuh proses kan.

Azka menyodorkan tangannya kepada Umi yang langsung di terima Umi dan Abinya yang sedari tadi hanya terdiam yang diikuti oleh Aya.

"Gak mau salim lo sama gua?" tanya Hamdan dengan tangan yang tersodor di depan Azka.

Azka melirik tanpa menerima membuat Hamdan mendengus kesal. Sedang Aya saat ini tengah memeluk erat Hamida yang sedari tadi mengoceh tak jelas.

"Ya pokonya lo hati-hati disana ya! Jan lupa makan obat, abisnya langsung minum air. Terus jan terlalu kelelahan, jan lupa bawa ponakan juga pulang dari sana. Gue minta  cewek lucu mirip kaya gue titik gak pake koma," ujar Hamida yang hanya dibalas kekehan dari Aya.

Azka menggenggam sebelah tangan Aya dan sebelahnya lagi koper miliknya. "Kita pamit, Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam," jawab mereka serempak. "Hati-hati, jangan lupa do'a," lanjut Umi yang di jawab anggukan oleh Azka dan senyuman oleh Aya.

Tanpa terasa merekapun telah berada di salah satu hotel yang ada di singapura setelah menempuh penerbangan kurang lebih 2 jam dari indonesia ke singapura.

"Kita berapa lama disini A?" tanya Aya yang tengah mendudukan tubuhnya di sopa.

"Satu minggu," jawab Azka sembari memainkan ponselnya di atas tempat tidur.

Aya terdiam. "Aku mandi dulu A," ucapnya yang diangguki oleh Azka.

Setelah Aya masuk kedalam toilet Azka merebahkan tubuhnya di atas kasur memperhatikan langit-langit hotel yang dia tempati.

"Apa bisa gue bahagiain Aya?" monolognya.

Dia teringat akan trauma milik Aya. Walaupun seminggu yang lalu terapi Aya telah selesai, walau masih harus meminum obat. Tapi Azka yakin Aya belum sembuh sepenuhnya dan Azka yakin juga Aya menutupi traumanya agar tidak membuat khawatir orang-orang sekitarnya.

"Lo terlalu baik buat gue yang egois, lo juga terlalu sabar buat gue yang susah sadar," monolognya lagi.

Tak lama terdengar pintu toilet yang terbuka menampilkan Aya dengan piyama tidurnya dan rambut yang masih basah.

"A Azka mandi dulu, biar istirahatnya lebih nyaman," ucap Aya lembut sembari tersenyum.

Azka beranjak dari tempat tidurnya dan segera memasuki kamar mandi. Aya yang melihat hal itu langsung menghilangkan senyumannya.

"Aku selalu bingung A dengan perasaan aku ke kamu," monolog Aya yang saat ini tengah mengeringkan rambutnya menggunakan hair dryer.

"Aku suka kamu, tapi aku juga masih ingat Raka. Dan aku yakin kamu juga gitu," gumamnya lirih.

Behind You (ON GOING)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang