Assalamu'alaikum...
Gusy di kalian bab nya ke tuker ga? Jadi bab 10 duluan gitu yang muncul nya?
Ga tau kenapa itu tuh udh aku bnrin jga ttp gtuu...
~HAPPY READING~
_لقد تخلى عقلي، لكن قلبي لا يزال يريد ذلك_
_pikiranku sudah menyerah, namun hatiku masih menginginkannya_
~Araya hurry firdausyi~
11. Nyerah?
Seminggu setelah kejadian menyakitkan di mall itu, selama itu juga sikap Aya menjadi lebih pendiam.
Aya bingung, cape, lelah dengan semuanya. Bayangkan saja sikap Azka mulai baik kepadanya, tapi Azka juga tetap menyakitinya, seperti saat ini.
"Kenapa?" tanya Azka dengan aksen datarnya.
Aya melirik ke arah Azka yang tiba-tiba datang dan ikut berdiri di sampingnya di balkon kamar. Padahal biasanya juga Azka kalau masuk kamar itu hanya mengambil baju atau barang-barangnya yang lain saja.
"Kenapa apa?" tanya balik Aya dengan pandangan yang kembali lurus kedepan melihat aktivitas santri di halaman komplek asrama putri.
"Kenapa jadi pendiem?" tanya Azka lagi yang saat ini sudah menghadap ke arah Aya.
Aya menghela napasnya. "Gak kenapa-napa A," jawabnya lugas.
"Tapi kenapa saya rasa kamu sedang ngehindar dari saya?" tanyanya lagi.
Akhirnya Aya ikut menghadap pada Azka. "Kenapa A Azka bertanya seperti itu? Biasanya juga tidak?" tanya Aya dengan kepala yang mendongak menatap langsung mata Azka yang berwarna hitam kelam itu.
Untuk beberapa saat mereka terdiam. Aya dengan pikirannya, begitu pula dengan Azka.
'Cantik'
Azka menggelengkan kepalanya karna saat dia melihat wajah Aya, tiba-tiba wajah Ara melintas di pikirannya.
Aya memegang lengan Azka khawatir, sebab Azka yang terus-terusan menggelengkan kepalanya sembari mengurutkan dahinya.
"A, kenapa?" tanya Aya khawatir. Sekesal-kesalnya dia, tetap saja Azka itu suaminya.
"Gapapa Ra, aku baik-baik saja."
Deg...
'Ara lagi?'
***
Azka pov
Sungguh aku bingung dengan diriku, aku sudah berusaha untuk menerima Aya seperti perintah Umi dan keinginan Ara. Tapi tetap saja rasanya sulit.
Setiap aku berdekatan dengannya, aku berasa seperti tengah di dekat Ara. Makanya aku selalu tanpa sengaja menyebutnya Ara seperti kemarin saat di mall dan barusan.
"Gapapa Ra, aku baik-baik saja."
Tak lama setelah aku mengucapkan hal itu Aya masuk kedalam kamar, sungguh mulutku ini tak bisa di kontrol.
Berulang kali aku membaca istigfar, meminta ampunan atas dosaku pada istriku. Kalo di tanya apa aku merasa bersalah? Jawabannya pasti. Sejahat-jahatnya aku tetap saja aku punya hati.
Sesungguhnya tak pernah sedikitpun aku berniat menyakiti dirinya. Saat Ara mengikhlaskan posisinya untuk Aya, saat itu juga aku mulai menerima. Hanya saja hatiku tak sejalan dengan fikiranku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Behind You (ON GOING)
Fiksyen Remaja"Jika mengikhlaskan adalah tahta tertinggi dalam cinta, maka aku ikhlaskan kamu sesuai dengan yang telah Allah taqdirkan. Karna tidak semua yang kita inginkan itu menjadi kenyataan." ~Zara Zhafina Zulfa~ " Allah tahu mana yang baik dan yang buruk un...
