35. Bertemu Killian
Pagi harinya... Ara, Azka di temani oleh Aya, dan Raka, mengunjungi lapas tempat Killian di tahan. Keempatnya pergi bersama, dengan satu mobil yang di kendarai oleh Azka dengan Raka yang duduk disampingnya. Sedang Aya dan Ara... Mereka berdua duduk di kursi kedua.
Beberapa saat kemudian... mereka sampai di tempat yang mereka tuju. Mereka langsung masuk keruang kunjungan. Terlihatlah Killian yang telah menunggu mereka di tempat duduknya yang terhalang kaca itu.
"Assalamu'alaikum... " ucap keempatnya bersamaan.
"Wa'alaikumsalam," jawab Killian sembari tersenyum. "Gimana kabar kalian?" tanya Killian berbasa-basi.
"Alhamdulillah, baik!" jawab Ara mewakili ketiga orang yang berada di sampingnya. "Kalo... Kamu gimana kabarnya?" tanya Ara balik.
Killian tersenyum lembut. "Alhamdulillah."
Killian menatap keempat orang di hadapannya, satu per satu. Tatapannya tertuju lebih lama pada Ara dan Azka. Ada sorot halus di matanya, seolah menyimpan sesuatu yang ingin dia katakan sejak awal mereka datang.
Setelah beberapa menit perbincangan ringan seputar kabar dan suasana lapas, Killian akhirnya membuka suara dengan nada serius.
"Gue... boleh ngomong bertiga hanya dengan Ara dan Azka saja?" pintanya pelan namun cukup jelas, membuat suasana seketika jadi lebih tenang.
Aya dan Raka saling pandang sejenak, lalu Aya mengangguk dengan lembut. "Kami tunggu di luar, ya," ujarnya sembari tersenyum tipis, mencoba mencairkan suasana. Raka pun ikut berdiri tanpa berkata banyak, dan mereka berdua meninggalkan ruangan.
Kini hanya tersisa tiga orang—Ara, Azka, dan Killian—dalam ruang kunjungan yang terasa semakin sunyi, seolah menunggu rahasia besar untuk diungkapkan.
Killian menarik napas dalam-dalam, lalu menatap lurus ke arah Ara dan Azka. "To the point aja ya... sesuai yang udah aku tulis di surat untuk kamu, Ra. Gue udah mikirin ini matang-matang... dan udah nanya juga sama orang yang paham soal hari baik. Gue gak mau ninggalin semuanya tanpa rencana yang jelas."
Ara menunduk pelan, sementara Azka menunggu dengan tenang, tak berkata-kata.
"Gue pengen pernikahan kalian diadakan... satu bulan dari sekarang," ucap Killian mantap, tapi lembut. "Tanggalnya udah gue cari, dan katanya itu hari baik. Hari penuh berkah."
Ara terdiam. Begitu pun Azka. Kata-kata itu seperti petir di siang bolong. Bukan karena mereka menolak, tapi karena dalam hati mereka, semuanya terasa begitu cepat.
Killian melanjutkan. "Gue tahu ini aneh. Tapi gue juga tahu... gue gak punya banyak waktu. Kalaupun gue pergi, gue pengen pergi dengan tenang. Dengan tahu bahwa kamu, Ara... punya seseorang yang bisa ngejaga kamu, bukan karena paksaan, tapi karena cinta yang nyata."
Tatapan Killian penuh keikhlasan. Ia tidak lagi terlihat sebagai pria yang keras, atau pemuda yang dihukum karena kesalahan. Di momen itu, dia hanya terlihat sebagai seseorang yang mencoba menyusun akhir yang damai... untuk semua orang.
Beberapa detik hening. Hanya suara detak jarum jam di dinding yang terasa menggema.
Ara menggigit bibir bawahnya, menahan gejolak di dadanya yang mulai tak karuan. Matanya menatap kaca yang membatasi mereka dan Killian. Ada begitu banyak hal yang ingin ia ucapkan, tapi lidahnya terasa kelu.
Azka menoleh perlahan ke arah Ara sebelum berbicara.
"Killian... kita ngerti maksud kamu," katanya, suaranya tenang, tapi dalam. "Dan gue... gue gak akan mundur. Tapi... lo yakin sama ini semua? Satu bulan... itu waktu yang singkat."
KAMU SEDANG MEMBACA
Behind You (ON GOING)
Fiksi Remaja"Jika mengikhlaskan adalah tahta tertinggi dalam cinta, maka aku ikhlaskan kamu sesuai dengan yang telah Allah taqdirkan. Karna tidak semua yang kita inginkan itu menjadi kenyataan." ~Zara Zhafina Zulfa~ " Allah tahu mana yang baik dan yang buruk un...
