25.

72 13 4
                                        

25. Beralih rasa

"Kamu kenapa?" tanya Ara pada lelaki di depannya.

Lelaki itu mendongak melihat ke arah Ara. Terlihatlah wajah acak-acakan dengan beberapa luka berada pada wajah yang ternyata tampan itu.

'Aku menemukanmu,' batin si laki-laki yang tak lain adalah pembunuh yang seminggu lalu di lihat oleh Ara.

"Astagfirullah kamu luka-luka." Ara  memekik kaget saat melihat banyaknya luka di wajah pria di depannya, ah...  atau mungkin di badannya juga ada.

"Kak tolong beliin obat dong," pinta Ara pada salah seorang bodyguardnya yang langsung diangguki oleh bodyguard tersebut.

Sedang satu bodyguard lagi menuntun tubuh laki-laki itu pada kursi taman yang tadi di duduki oleh Ara.

"Nama kamu siapa?" tanya Ara saat mereka telah sampai di kursi taman.

Pria itu melihat kearah Ara. "Killian, Adito Killian Pratama," jawabnya.

Ara mengangguk. "Nama aku Ara, Zara Zhafina Zulfa."

Tak lama bodyguard yang tadi di suruh membeli obat oleh Ara datang, dengan sebuah kantong kresek di tangannya.

"Nona, ini," ucapnya menyodorkan kresek berisi obat-obatan itu.

Ara mengambilnya. "Makasih kak," ucapnya sembari tersenyum

Killian tertegun saat melihat senyuman milik Ara. baru pertama kali dalam hidupnya dia melihat senyuman semanis itu.

Tak lama terlihat Ara yang mendekat kearahnya. "Aku obatin ya luka kamu yang ada di wajah kamu, nanti yang di tubuh kamu biar bodyguard aku yang obatin, itu juga kalo ada luka disana," ucap Ara lembut.

Deg... Deg... Deg...

' anj***... apa ini, kenapa gue malah deg-degan kaya gini. Padahal dia udah di depan mata, tapi kenapa gue malah jadi gak rela buat ngehabisinya,' batin Killian berteriak.

Sebenarnya, hal ini telah direncanakan oleh Killian. Dan luka yang berada di tubuhnya pun, itu ulahnya sendiri untuk mengambil hati Ara.

Dia sengaja melakukan hal itu agar bisa mendekati Ara. Lalu setelah itu, dia akan membunuhnya. Tapi, saat melihat Ara yang perhatian seperti ini, apalagi saat dia melihat senyuman yang terpatri di wajah cantik milik Ara, membuat Killian malah merasakan prasaan lain yang tak pernah dia rasakan selama hidupnya. Kecuali prasaan ingin membunuh sih.

Killian terus menatap wajah Ara di depannya yang tengah pokus mengobatinya. Sesekali terlihat Ara yang meringis saat mengobati luka Killian. Padahal  yang terluka adalah dia, tapi...  kenapa Ara yang malah  meringis?

"Kamu gak ngerasa sakit, Lian?" tanya Ara dengan mata yang terlihat berkaca-kaca. "Kamu jangan diem terus, Ara tahu kamu pasti sakit," lanjutnya.

Killian tertegun melihat hal itu, tiba-tiba prasaan hangat menyusup ke relung hatinya. Apalagi saat dia mendengar kata 'Lian' dari mulut Ara. Hal itu mampu mengatakannya kembali pada ibunya yang telah meninggal dunia satu tahun yang lalu.

Killian tersenyum. "Lo mirip mama gue Ara," ucapnya yang bukan jawaban dari pertanyaan Ara tadi.

Ara sempat terdiam sebelum melanjutkan mengobati luka Killian. "Mirip gimana?"tanya Ara.

Killian melihat kearah langit. "Sikap lo, senyuman lo, apalagi saat lo panggil gue Lian. Itu nama panggilan mama gue buat gue sebenernya. Dan hal itu ngebuat gue ngarasa liat mama di diri lo."

Ara telah selesai mengobati Killian, dan saat ini dia tengah membereskan obat-obatan yang tadi di pakainya.

"Maaf gue panggil nama lo Lian, Killian," ucap Ara merasa bersalah.

Behind You (ON GOING)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang