Tandai typo!!!
43. Cerminan
Plukk...
"Kesel banget deh gue sama si Zayn!" gerutu Hamida setelah berhasil menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur kesayangannya. "Gila aja tuh anak! Gue minta cariin cacing buat mancing, malah bawa kaki seribu. Dikira cacing punya kaki gitu..." lanjutnya menggerutu.
Kriett...
Suara pintu kamar yang dibuka, membuat Hamida reflek terduduk di tempatnya. Dari sana, keluarlah seorang pria dengan tampang masamnya, berjalan dengan lunglai ke arah Hamida.
"Lo kenapa, Dan?" tanya Hamida, sesaat setelah lelaki yang tak lain adalah kembarannya itu... duduk di sampingnya.
Hamdan menatap lantai kamar santai milik kembarannya yang berada di rumah Umi Tazkia, "Gue... Aya dimana ya, sekarang?!" lirihnya sedikit melarat ucapan awalnya, yang masih bisa di dengar oleh Hamida. "Udah lama gak ada kabar tentang dia."
Mendengar penuturan kembarannya itu, Hamida tak kuasa untuk tak mencibirnya, "Bilang aja kangen..."
"Gue nanya, lo tau gak?" tanyanya lagi, menghiraukan cibiran Hamida tadi.
"Enggak," balas Hamida cepat. "Lagian kalo lo mau tahu tentang dia, tanyainnya sama Ara aja. Dia kan bestie keket- nya Aya."
Hamdan mengangkat kepalanya-menatap tajam ke arah kembarannya. "Jangan... sebut nama itu di depan gue!" ujar Hamdan, menekan setiap kata-katanya.
Hamida berdiri ke depan tubuh Hamdan. Alisnya mengerut dengan mata yang menatap bingung ke arah Hamdan.
"Lo kenapa, Dan? Benci berkepanjangan seperti sama dia yang bahkan jarang dan bisa juga gak pernah berinteraksi dengan lo?!" tanya Hamida yang tak mengerti dengan jalan fikir kakaknya itu.
"Gue benci Zara. Karena dia, cewek yang gue cintai harus merasakan sakit berkepanjangan. Dan lo juga tahu itu!" balas Hamdan sengit.
"Itu udah takdir, Dan. Lo gak bisa nyalahin orang yang juga jadi korban masa lalu."
"Tapi tetap, Da. TETAP. Sebab dia... dia di sakiti terus hatinya sama Azka. Setelah bahagia pun, dia kembali disakiti. Apalagi dengan adanya Zara yang datang lagi, seakan-akan mengambil paksa kebahagiaannya, sampai berani merelakan Azka untuk sahabatnya itu. Gue gak suka itu, Da. Gue gak suka. Gue cinta dia, cintaaa banget malah... Gue sakit liat dia kaya gitu, Da. Gue benci Azka, gue juga benci Zara."
"Lo boleh nyalahin gue, lo boleh benci gue, asal jangan bawa-bawa istri gue."
Sosok Azka tiba-tiba muncul dari balik pintu yang belum sempat Hamdan tutup rapat saat masuk. Dengan tampang dingin dan mata yang menatap lurus ke arah Hamdan, Azka berjalan seakan-akan siap menerkam sepupunya itu.
Azka memberhentikan langkahnya tepat di depan Hamdan. "Jadi... sebenarnya lo suka sama mantan istri gue?" tanyanya dengan nada yang terdengar sinis.
Hamdan memalingkan wajahnya. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Deru nafasnya pun ikut mengencang, seiring dengan tekanan emosi yang iya tahan.
Hamida yang kebetulan berdiri di antara keduanya merasakan perubahan atmosfer di sekitarnya, tatkala melihat kondisi ke dua saudaranya yang di matanya terlihat seperti tengah di selimuti asap-asap hitam penuh emosi yang kelam.
'Gini amat nasib jadi cecan, sampe sodara aja saling rebutan,' batin Hamida, sedikit menyimpang.
"Iya," jawab Hamdan setelah lama terdiam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Behind You (ON GOING)
Teen Fiction"Jika mengikhlaskan adalah tahta tertinggi dalam cinta, maka aku ikhlaskan kamu sesuai dengan yang telah Allah taqdirkan. Karna tidak semua yang kita inginkan itu menjadi kenyataan." ~Zara Zhafina Zulfa~ " Allah tahu mana yang baik dan yang buruk un...
