29

70 15 3
                                        

29. The Power of love

"Ara kenapa kamu ada di sini?" tanya Azka saat melihat aAa yang tengah duduk di ruang keluarga bersama Hamida.

Ara menatap Azka sebentar sebelum memalingkan wajahnya kembali. Sedang Hamida hanya mendengus melihat Azka.

"Assalamu'alaikum... A," ucap Ara yang menyadarkan Azka bahwa dia tadi malah langsung bertanya tanpa salam terlebih dahulu.

"Wa'alaikumsalam," jawab Azka. "Kapan kamu datang Ra? Gak maleman di jalan kan?" tanya Azka lagi yang kini telah duduk di sopa singgel di hadapan Ara dan Hamida.

"Kamu peduli sama saya?"

Azka mengernyit. "Iyalah, kamu kan prempuan. Siapa yang tak hawatir liat kamu malam-malam sudah ada di sini, sedang kamu itu orang jauh."

Hamida menganga melihat interaksi Azka pada Ara yang jauh berbeda dengan intraksi Azka pada Aya.

' Daebak... The Power of cinta emang beda ya?' Hamida membatin.

"Kamu lebih peduli sama aku yang udah pasti gak bakalan apa-apa, daripada sama Aya yang pergi dari sini jalan kaki sendirian?" tanya Ara sedikit mengeluarkan emosinya.

Mata Hamida membelalak. "Aya pergi dari sini jalan kaki?" tanyanya, Ara mengangguk mengiyakan. "Gue kira dia pake mobilnya, tau gitu gue tadi bakal maksa buat nganterin dia."

Azka terdiam mendengar hal itu, ada rasa khawatir yang menyeludup kedalam hatinya. Dia ingin bertanya pada Ara apa Aya baik-baik saja? Tapi dia terlalu malu untuk menanyakan hal itu.

Ara yang melihat Azka yang tengah melamun mengerti dengan apa yang dipikirnya.

"Aya baik-baik aja, dia dibawa sama Raka jadi kalian tenang aja."

Suasana hening seketika setelah Ara mengucapkan hal itu. Azka yang terdiam karena merasa bersalah, apalagi Aya adalah tanggung jawabnya walau sekarang sudah jadi mantan istrinya. Sedang Hamida yang memikirkan kembarannya.

'Gue kasih tahu Hamdan jangan '

Namun, suasana hening itu buyar oleh perkataan yang tiba-tiba meluncur dari mulut ara.

"Ara kecewa sama a Azka," ucap Ara tiba-tiba yang membuat keduanya melihat kearahnya. "Padahal udah pernah Ara bilang kalo A Azka cinta sama Ara, pengen Ara bahagia, maka bahagiain Aya bukan malah kaya gini!"

Air mata Ara berjatuhan hal itu tak luput dari penglihatan Azka yang membuatnya semakin merasa bersalah, baik pada Ara maupun Aya.

"Maaf," lirih Azka.

Ara menatap tajam Azka. "Maaf kamu bilang?" tanya Ara , Azka mengangguk. "Gak guna buat aku a. Karena yang kamu hancurkan tuh hati Aya, bukan aku. Jadi buat apa kamu minta maaf sama aku?" ucap Ara menggebu.

Azka menatap Ara sendu. "Aku tahu aku salah sama aya, tapi aku juga udah salah sama kamu yang tanpa sengaja juga nyakitin hati kamu. Maaf  Ra."

"Kamu tahu itu, terus kenapa kamu malah sakitin Aya terus A, kenapa kamu lakuin hal itu ke Aya. Kamu gak tahu kan segimana berjuangnya Aya buat kamu?

Tapi kamu malah seenaknya ngelepas dia dengan alasan mungkin Aya bakalan lebih bahagia kalo gak sama kamu."

Azka terkejut mendengar ucapan akhir Ara yang ia kira tak seorangpun tahu kecuali dirinya dan Tuhan.

"Apa? Terkejut aku tahu pikiran kamu?"

Azka masih terdiam.

"Aku tahu A, di dunia ini bukan cuman kamu orang yang suka mikir kaya gitu, karna faktanya memang banyak. Hanya saja aku gak ngira kalo kamu bakalan sama kaya orang lain yang berfikir dangkal kaya gitu.

Behind You (ON GOING)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang