26. Godob
Selama setahun dalam pernikahan, baru kali ini Aya dan Azka bertengkar hebat. Kedua orang tua Azka tidak mengetahui hal itu karena mereka tengah pergi umroh.
Cukup sudah kesabaran Aya untuk mengahadapi segala sikap Azka selama ini kepadanya. Dia sudah tidak bisa lagi memendam rasa sakit dihatinya, apalagi saat ini Azka yang menuduhnya selingkuh dengan Raka.
Ya, Azka memang sudah mengetahui bahwa orang yang sering di temui oleh Aya itu adalah Raka yang tidak jadi mati itu.
"Iya kalo Raka itu mantan aku terus Ara gimana a? Dia juga mantan kamu bukan?" ucap Aya sedikit meninggikan suaranya saking kesalnya karna Azka terus-menerus menekannya.
Alis Azka mengernyit. "Kenapa lo bawa-bawa Ara dalam masalah ini, dia gak ada hubungannya sama sekali."
"Gak ada kamu bilang? Aku ketemu Raka kamu permasalahin. Sedang kamu juga yang ketemu dengan Ara aku gak permasalahin perasaan." Air mata Aya semakin deras mengucur di pipinya.
"Setidaknya lo tahu setiap gue ketemu Ara! Sedang lo... setiap gue nanya lo kemana, dan ketemu ketemu sama siapa aja, lo gak pernah jawab jujur tentang lo ketemu mantan lo itu."
Aya mengacak kerudungnya sampai tak beraturan. Dia prustasi, traumanya juga mulai kembali kambuh tapi dia tak bisa terus diam menghadapi ke keras kepalaan suaminya itu.
Aya menunduk dalam. "Iya aku salah gak pernah ngomong ke kamu tentang dia. "Aya mengangkat kepalanya menatap kembali Azka. "Tapi A, aku juga gak akan ngelakuin hal itu kalo semisal kamu selalu perhatian ke aku, seperti kamu perhatian pada Ara A. Istri mana yang tak sakit hati saat melihat suaminya yang memperhatikan wanita lain, yang tak lain masalalunya yang paling dia cintai, A?"
Azka mengepalkan tangannya menahan emosinya yang sudah berada di ubun-ubun.
Azka berdecih. "Lo bilang gitu ke gue, sedang lo sendiri kaya gitu?" Terdengar kekehan sinis dari mulut Azka sebelum dia melanjutkan ucapannya.
"Lo juga mikir! Suami mana yang rela istrinya senang-senang, main berduaan dengan lelaki lain, sampai masuk ke apartemennya berdua hah? Mana gak ngasih kabar atau izin dulu lagi, dimana kewajibanmu sebagai istri itu ARAYA?"
Sudahlah, Aya tak kuat lagi. Dia berjalan ke arah lemari mengambil pakaiannya dan masuk ke kamar tamu, menghiraukan Azka yang sedari tadi terus menatapnya tajam.
Azka mengusap wajahnya, beristigfar meminta ampunan kepada Allah karna dia sempat menuruti nafsu amarahnya tadi.
Sedangkan di sisi Aya. Saat ini dia tengah membentur-benturkan kepalanya ke dinding toilet. Sampai-sampai hidungnya sudah mengeluarkan banyak darah.
"Euhh... kenapa sih? Gue tahu gue salah, tapi gak usah marah-marah kaya gitu juga," lirihnya mengingat bentakan-bentakan dari Azka tadi.
Seumur hidupnya, baru kali ini dia mendapat bentakan dari seseorang. Dan orang itu adalah suaminya sendiri.
Aya memegangi dadanya yang mulai terasa sesak. Dia segera keluar dari kamar mandi, membuka tas yang tadi sempat dibawanya.
Terlihat sebuah obat yang baru beberapa minggu ini dia konsumsi kembali setelah beberapa bulan dia tak mengonsumsinya.
Napasnya mulai normal kembali, rasa sesak di dadanya pun berangsur-angsur hilang.
"Astagfirullahal'azhim ... Ya Allah, maafkan hambamu ini," lirihnya sebelum merebahkan tubuhnya tanpa mengganti baju yang telah di penuhi darah dari hidungnya.
***
"Ma, Lian udah ketemu sama cewek yang Lian suka," ucap Killian yang saat ini tengah berjongkok di depan nisan ibunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Behind You (ON GOING)
Novela Juvenil"Jika mengikhlaskan adalah tahta tertinggi dalam cinta, maka aku ikhlaskan kamu sesuai dengan yang telah Allah taqdirkan. Karna tidak semua yang kita inginkan itu menjadi kenyataan." ~Zara Zhafina Zulfa~ " Allah tahu mana yang baik dan yang buruk un...
