Tandai typo!!!
41. Biasa
"Boleh ikut makan, gak?" seru Ara santai, pada sekumpulan santri putri yang tengah sarapan di kantin pesantren.
"Eh... boleh Teh," jawab salah seorang santri. "Mangga, Teh! " lanjutnya, mempersilahkan Ara untuk duduk di salahsatu kursi.
"Hatur thankyou..." balas Ara dengan senyuman manis yang terparti di bibirnya.
Mengalirlah obrolan-obrolan diantara mereka. Tak ada yang merasa canggung dengan kehadiran Ara, justru mereka sangat senang jikalau Ara ikut menimbrung, karena Ara memang se- prekuensi dengan mereka. Tapi, walau begitu... mereka tak sedikitpun menghilangkan rasa hormat dan takdim mereka pada Ara yang notabenenya istri dari guru mereka.
Selama dua bulan masa pernikahan Ara dan Azka, memang Ara lebih sering menghabiskan waktu luangnya berkumpul dengan para santri. Saling berbagi cerita, pendapat, bahkan mereka sering melakukan evaluasi bersama pada pembahasan yang kurang dimengerti pada saat mengaji.
"Eh... nanti malam, ada gak yang mau nemenin Ara di rumah selagi A Azka hadiri acara ke Kalimantan?"
Tadi pagi, bahkan lebih pagi lagi... Azka berangkat ke Kalimantan untuk menghadiri acara nikahan temannya, yang tak lain adalah Ilham. Ya, Ilham teman bisnis sekaligus sahabat saat ia study di Mesir, ikut menyusul Azka untuk menikahi wanita yang dicintainya.
Awalnya Ara akan ikut. Namun, beberapa hari lalu, Ara sempat jatuh sakit... dan baru dua hari lalu dinyatakan sembuh. Makanya Azka melarang Ara, karena takut Ara kembali sakit.
"Aku!"
"Aku, Teh!"
"Aku, aku!!"
Bukan hanya santri yang duduk bersama Ara. Tapi seluruh santri putri yang berada di kantin—yang tanpa sengaja mendengar pertanyaan Ara, ikut menyerukan keinginannya.
"Wow... banyak juga ya, yang mau bobo bareng saya." Ara tertawa kecil seraya menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya, dan mata yang di kedip-kedipkan, genit.
Bukannya merasa jijik, seluruh santri malah ikut tertawa. Mereka tahu sikap Ara saat ini hanyalah kamuflase agar bisa berbaur dengan mereka, dan agar tak ada rasa kecanggungan diantara mereka.
"Pasti mau lah, Teh!"
"Kenapa? Apa jangan-jangan ada batu di balik udang ya... kalian?" Ara menyipitkan matanya, menatap satu-persatu murid mertuanya itu.
Beberapa detik setelahnya, terdengar seruan kompak yang menyebutkan satu kata, "Nonton!!!"
Ara melebarkan matanya dengan kepala yang bergeleng pelan. "Kalian ini ya... "ujarnya dengan raut garang yang dibuat-buat. Bukannya terlihat menakutkan, tetapi malah terlihat lucu di mata para santri. "Tapi, oke sih."
"Jadi sekarang kalian harus apa?" tanya Ara. Serentak para anak hawa mengelilingi tubuh Ara.
Sebenarnya ini adalah sebuah permainan yang sering mereka lakukan tatkala rasa bosan melanda mereka di waktu istirahat. Biasanya orang yang berada di tengah, matanya akan di tutup dan akan berputar sebanyak lima putaran. Setelah itu, dia akan berjalan dan menyentuh siapa saja orang yang berada di depannya. Nantinya orang yang di sentuh itu akan di beri pertanyaan random berbasis pelajaran, baik dari pelajaran sekolah, maupun ngaji. Jika bisa menjawab, maka orang yang tadi di tengah harus kembali beroutar dan mencari mangsa lain. Tapi kalau tak bisa menjawab, maka orang itu yang akan mengganti orang yang berada di tengah. Hal itu akan terus berlanjut sampai mereka sendiri kelelahan.
Sebab permainan itu sudah menjadi kebiasaan mereka. Jadinya, tatkala ada pemilihan apapun yang membuat mereka berebutan... mereka selalu melakukan hal seperti ini terlebih dahulu, jika hal itu memang tidak urgent.
KAMU SEDANG MEMBACA
Behind You (ON GOING)
Fiksi Remaja"Jika mengikhlaskan adalah tahta tertinggi dalam cinta, maka aku ikhlaskan kamu sesuai dengan yang telah Allah taqdirkan. Karna tidak semua yang kita inginkan itu menjadi kenyataan." ~Zara Zhafina Zulfa~ " Allah tahu mana yang baik dan yang buruk un...
