24. Rumah Ara
Saat ini Aya sudah berada di dalam kamar Ara. Aya melihat-lihat seluruh isi kamar Ara yang tak berubah sedikitpun dari dulu.
Aya tersenyum ketika melihat beberapa poto polaroid dirinya dengan Ara yang terpajang di salah satu dinding.
Ceklek...
Pintu kamar mandi terbuka, Ara keluar dari sana dengan raut wajah yang lebih segar dari tadi.
Aya tersenyum dan segera menuntun Ara ke atas tempat tidur.
"Tenang aja, Ya. Ara udah gak kenapa-napa kok," ucap Ara sembari tersenyum lebar.
Aya mengangguk dan langsung memeluk Ara. "Gue kangen banget sama lo, udah lamaaaa banget gue gak ketemu lo," ujar Aya. "Lo baik-baik aja kan, Ra?" tanya Aya ragu-ragu.
Ara sedikit tertawa. "Always baik gue mah, Ya."
Aya menghela nafas mendengar hal itu. Dia tahu Ara berbohong padanya. Aya sebenarnya tahu semua tentang Ara, sampai ke trauma masalalu Ara pun Aya mengetahuinya. Dan Aya juga menebak tadi Ara sempat kambuh traumanya, walau sebentar. Eh tapi... bukannya Ara sudah sembuh?
Aya teringat sesuatu. "Ehh... Ra! Btw, lo tadi di kejar apa?" tanya Aya.
Ara tertegun. Dia tak mengira Aya mengetahui dia yang di kejar sesuatu. "Kalau gue bilang gue di kejar psikopat, lo percaya gak?" tanya Ara balik sedikit ragu.
Aya membelalakan matanya. "Gimana ceritanya? Gila-gila... lo wajib cerita ini mah," heboh Aya dengan badan yang terus bergerak kesana-kemari tanpa henti.
Bagi Aya, yang di ucapkan oleh Ara itu bukan pertanyaan, tapi pernyataan. Makanya dia langsung heboh.
Dan inilah sikap asli Aya yang akan muncul ketika sedang bersama orang-orang terdekatnya dimasalalu. Untuk sikap dia pada saat dengan Azka dan keluarganya itu dia tekan, disebabkan oleh traumanya dan orang-orang yang memang dari dulu pun tidak terlalu dekat dengannya.
Seluruh cerita mengalir dari mulut Ara, Aya yang mendengarnya sampai merinding. Untung saja tadi psikopat itu tidak mendatangi mereka.
"Tapi, dia tahu wajah lo gak, Ra?" tanya Aya memastikan.
Ara menggeleng. "Gue gak tahu. Tapi menurut gue, dia... bisa jadi tahu bisa jadi nggak. Kalo nggak wajar sebab gue kan pakai masker sebelum lo buka buat minum.
Tapi, bisa jadi juga tahu sebab dia psikopatkan? Apapun bakalan dia lakuin buat mangsanya."
Aya mengangguk-anggukan kepalanya. "Menurut gue sih lo coba minta sama bokap lo beberapa bodyguard buat nemenin lo," usul Aya yang diangguki oleh Ara.
"Gue akan minta nanti."
Setelahnya banyak lagi hal-hal yang mereka bicarakan, ya... kecuali tentang hubungan Aya dan Azka karena itu memang sedikit sensitif bagi Aya maupun Ara.
"Gak kerasa, saking asiknya ngobrol udah jam dua belas aja," ucap Aya saat mengecek jam di ponselnya.
Ara tertawa. "Nostalgia di kobong dulu sering gini." Ara mulai merapikan tempat tidurnya sebelum ditempati kembali. "Udah mending sekarang kita tidur dulu yuk, biar gak kesiangan nanti tahajud."
Aya mengangguk. Mereka merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur Ara dengan selimut yang membungkus keduanya.
"Good night."
"Night too."
Beberapa saat kemudian terdengar dengkuran kecil dari Ara, sedang Aya kembali membuka matanya. Aya ingat saat tadi dia memeriksa jam pada ponselnya, ada notifikasi dari Azka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Behind You (ON GOING)
Teen Fiction"Jika mengikhlaskan adalah tahta tertinggi dalam cinta, maka aku ikhlaskan kamu sesuai dengan yang telah Allah taqdirkan. Karna tidak semua yang kita inginkan itu menjadi kenyataan." ~Zara Zhafina Zulfa~ " Allah tahu mana yang baik dan yang buruk un...
