"Jika mengikhlaskan adalah tahta tertinggi dalam cinta, maka aku ikhlaskan kamu sesuai dengan yang telah Allah taqdirkan. Karna tidak semua yang kita inginkan itu menjadi kenyataan."
~Zara Zhafina Zulfa~
" Allah tahu mana yang baik dan yang buruk un...
Malam gelap, tak ada cahaya rembulan karena tertutup awan tebal. Angin berhembus kencang, menggoyangkan dahan-dahan pohon yang ada di sekitar jalan, menciptakan suasana yang mencekam.
Suasana semakin mencekam kala terdengar suara langkah kaki yang saling bersahutan, seolah-olah seseorang sedang berlari dalam keheningan malam. Langkah kaki itu menggema, menambah ketegangan di udara.
Brukk...
"Awss...." Keluh seseorang yang tengah berlarian, terjatuh dan membuat pakaiannya kotor.
Belum sempat bangkit dan kembali berlari, tiba-tiba sosok yang mengejarnya telah berdiri tegak di depannya. Di tangan orang itu, terpegang sebuah pisau yang berlumuran darah. Matanya menyala dengan dingin.
Sebelum sempat bergerak, tubuhnya mendadak mematung ketika benda tajam itu menembus pundaknya, membuatnya meringis kesakitan.
Sreett...
Tanpa memberi kesempatan untuk melawan, pisau itu ditarik kembali dan tanpa ampun, ditusukkan lagi. Kali ini, bukan pada bahu, melainkan di sisi lehernya. Rasa sakitnya begitu menusuk hingga napasnya tercekat.
"Ya Allah... sakit banget..." Lirihnya pelan, memejamkan mata, mencoba menahan derita yang datang begitu mendalam.
Tak lama, pisau itu kembali ditusukkan, dan tubuhnya pun ambruk, darah menggenang di sekitar tempatnya jatuh, memenuhi tanah dengan warna merah yang pekat.
Belum sempat melihat dengan jelas siapa sosok yang menyerangnya, matanya telah tertutup, dan sosok itu, yang baru saja menghabisinya, tersenyum sinis, puas dengan apa yang baru saja dilakukannya.
" Hah ... Hah ... untung cuma mimpi," ucapnya dengan tangan yang mengusap seluruh wajahnya.
***
Dan ternyata mimpi itu menjadi kenyataan, ketika dia melihat seseorang yang memakai jas hujan berwarna coklat, tengah menusuk-nusuk seorang wanita di depannya.
Napasnya tercekat ketika melihat pembunuhan itu secara langsung tanpa sensor di depannya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Namun, tiba-tiba si pembunuh melihat kearahnya yang kini masih berdiri di depan gang komplek.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.