HAPPY READING 😄
46. Tanpa kamu
Rintik hujan membasahi bumi, angin berhembus pelan membuat suasana yang dingin semakin dingin. Azka terdiam lama menatap foto pernikahannya yang terbingkai indah di dinding kamar mereka.
Azka mengelus pelan foto bagian wajah Ara, wajah cantik yang selalu ia kagumi bahkan sampai hancur sebelahnya di saat terakhir ia melihat pun... Azka tetap mangaguminya.
"Aku... kangen kamu, Ra," lirih Azka.
Kakinya mulai melangkah pergi dari ruangan itu, menutupnya rapat seakan tak akan pernah lagi membukanya.
Hidupnya terasa hampa, hatinya seakan mati rasa. Kala Azka tak sengaja berpapasan dengan Hamdan yang akan pergi ke tarim-kembali mengemban ilmu sembari merenungkan kesalahannya dulu, tak sedikitpun ia menatapnya.
Namun itu tak berlaku bagi Hamdan yang sengaja bersuara, "Gue tahu gue salah sama lo, apalagi sama istri lo. Gue minta maaf sebesar-besarnya pada lo karena tanpa sengaja ngilangin istri dan anak lo. Mau Lo maafin atau pun enggak, itu terserah lo. Gue cuman mau ingetin ini sama lo!"
Hamdan menjeda ucapannya, seakan-akan hal yang akan ia ucapkan selanjutnya adalah sesuatu yang berat. "Jangan terlalu lama tenggelam dalam kesedihan ataupun penyesalan. Bukan yang terbaik nantinya yang kembali, tapi penyesalan yang lebih besar. Ya... contohnya gue!'
Tak ada respon apapun yang di keluarkan Azka. Hamdan mengedikkan bahunya, tak peduli. Ia berbalik-bersiap untuk melanjutkan langkahnya, tapi tepukan di pundaknya membuat dirinya kini yang diam mematung.
"Ara gak pernah benci sama lo. Jadi, buat apa gue kesal pada hal yang udah jadi takdirnya. Gue cuman butuh waktu aja... sans, Dan. Semoga niat lo ke sana tercapai!"
Azka kembali berjalan setelah melihat anggukan dari Hamdan. Berbeda dengan Hamdan yang saat ini tengah menatap langit dengan sendu.
'Ara, lo emang baik. Tak dapat di pungkiri kalo Allah sayang sama lo, makanya dia ngambil lo lebih dahulu...'
***
Sudah sebulan sejak kepergian Ara, tapi keheningan dan suasana suram belum hilang dari rumah keluarga Zoya. Mereka memang menjalani keseharian seperti biasa, tapi tak dapat di pungkiri rasa kehilangan itu masih membekas di dalam dada.
"Zoya... yuhu!!! Main, yuk!" ajak Hamida yang tiba-tiba muncul dari ambang pintu kamarnya.
Hamida memang memutuskan untuk tinggal di Jakarta sembari melanjutkan studinya yang sempat tertunda, ke Jakarta. Dan hampir di setiap harinya ia akan datang merusuh ke rumah Zoya. Bukan hanya sebab tempat tinggal mereka yang dekat, tapi sebab ia juga ingin menghibur adik dari sepupu iparnya yang telah pergi itu.
Zoya menatap malas Hamida. "Tiap hari main, gak bosen emang?" tanyanya lugas. Tak lama ia berbalik-memasuki selimutnya, membaringkan tubuhnya pada tempat tidur kesayangannya.
"Intro, cuy! Lo aja yang tiap hari tidur Mulu, emang gak bosen?" tanya balik Hamida dengan nada sinisnya.
Zoya memejamkan matanya, tak peduli dengan kehadiran orang yang kini malah ikut merebahkan tubuhnya di sampingnya. "Dari pada itu, gue lebih kangen sama kembaran lo, Kak!" serunya yang membuat Hamida mendengus keras.
"Dia lagi tobat dan memperbaiki dirinya di negara yang jauh dari mata itu, jadi lo jangan terus mikirin apalagi berharap sama dia. Siapa tahu kan, di sana dia malah dapet jodohnya!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Behind You (ON GOING)
Fiksi Remaja"Jika mengikhlaskan adalah tahta tertinggi dalam cinta, maka aku ikhlaskan kamu sesuai dengan yang telah Allah taqdirkan. Karna tidak semua yang kita inginkan itu menjadi kenyataan." ~Zara Zhafina Zulfa~ " Allah tahu mana yang baik dan yang buruk un...
