44.

48 4 13
                                        

HAPPY READING!!!

44. Bahagia? Atau...

6 bulan kemudian

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


6 bulan kemudian....
.
.
Allahuakbar... Allahuakbar...

"Alhamdulillah... adzan, A! Kita salat dulu, yuk!" ajak Ara pada Azka yang berada di sampingnya.

"Iya, Sayang. Ayo!" balas Azka dengan sebelah tangan yang menarik pelan pinggang Ara untuk berjalan bersama.

Saat ini keduanya... akh, tidak! Maksudnya mereka berdua bersama perintilan-perintilannya, yang tak lain adalah Zoya— adik Ara, Zyan, Hamida dan Hamdan yang ikut karena paksaan adiknya itu.

"Nasib jadi jomblo gini, ya!" bisik Hamida pada Zoya.

"Jadi saksi kebucinan orang-orang yang tak ingat tempat," balas Zoya ikut berbisik.

Keduanya berjalan tepat di belakang ke dua sejoli yang tengah berbunga-bunga atas kedatangan titipan dari Tuhan di perut Ara. Padahal sudah darai lama mereka mengetahui hal itu, tapi rasa bahagianya tak kunjung berkurang, sampai-sampai di setiap bulannya mereka selalu merayakannya. Ya... contohnya hari ini, tepat di bulan ke tujuh kandungan Ara, dan bulan ke enam mereka mengetahui akan berita bahagia itu.

"Kenapa sih, gue mesti ikut? Mana tiap bulan lagi!" gerutu Hamdan sembari menendang-nendang apapun yang berada di depan kakinya.

"Taqdir."

Singkat, padat, menyebalkan. Hamdan menatap orang yang berjalan tepat di sampingnya dengan sedikit mendongak, karena tinggi orang itu yang melebihi dirinya.

"Lo—" ucapan Hamdan terjeda oleh suara iqomah yang menjadikannya reflek berlari, karena salat berjamaah akan segera dilaksanakan.

"Please jangan dulu jama'ah, gue belum wudhu!" teriak Hamdan melupakan kekesalannya. Bahkan saat ini ia tengah berlari kencang melewati Hamida—Zoya dan Ara—Azka, yang telah sampai di teras masjid.

Zyan menggelengkan kepala melihat hal itu, sedang Zoya dan Hamida—keduanya kompak memegang dada masing-masing, membuat pose terkejut kala Hamdan melaju melewati mereka secepat kilat dan sekencang angin.

"Gilaa..."

"Tak masuk logika..."

Keduanya saling menatap satu sama lain, setelahnya mereka tertawa bersama sampai orang-orang yang juga berjalan di samping mereka —menatap mereka aneh.

"Cuss lah, ikut lari! Biar gak ketinggalan jama'ah juga!" ajak Hamida yang diangguki Zoya.

"Ayo!" jawab Zoya penuh semangat. "Yang sampe terakhir bayarin jajanan yang menang, seharian!!!" lanjutnya berteriak karena tubuhnya telah terbawa jauh oleh langkah cepat, atau yang lebih tepatnya di sebut lari.

Behind You (ON GOING)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang