15.

83 15 2
                                        

15.membaik

Hari-hari yang di jalani oleh Azka dan Aya menjadi lebih indah ketika mereka sama-sama saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing.

Sejak hari saat Azka mengetahui tentang trauma Aya, tak sekalipun dari sana dia berjauhan dengan Aya. Bahkan setiap Aya terapi pun di temani Azka, walau awalnya aya sempat terkejut karna Azka juga mengetahui traumanya. Tapi ketika dia mengingat bahwa Hamdan juga mengetahuinya, Aya faham dari mana asalnya Azka mengetahui hal itu.

Dokter Arini yang melihat hal itu pun ikut bahagia. Dia yakin dengan adanya Azka disamping Aya penyembuhan Aya dari traumanya akan lebih cepat selesai.

"Mau makan dulu, gak?" tanya Azka lembut saat Aya selesai terapi.

"Hmm ... tapi Aya pengen makan bakso, boleh gak?" tanya Aya memastikan.

Azka mengangguk. "Boleh dong sayang ..." jawab Azka sembari mangusap kepala Aya yang tertutup oleh kerudung. Hal itu mampu membuat Aya kepanasan ditempatnya.

Sekarang ini Aya memang semakin terbuka tentang segala hal pada Azka, begitupun sebaliknya. Apalagi sikap Azka yang berubah menjadi lebih soft pada Aya, membuatnya semakin senang.

Lima belas menit di perjalanan, akhirnya mereka menemukan kedai bakso.

Azka turun dari mobilnya dan membuka pintu mobil di sampingnya. Ya, sekarang Aya selalu duduk di samping Azka ketika di mobil, tidak seperti dulu yang duduk di belakang.

"Terimakasih ..." ucap Aya sembari tersenyum yang di jawab dengan sebuah senyuman juga oleh Azka.

"Pak baksonya dua ya! Yang satu campur tapi gak pake mie bihun, yang satunya lagi gak pake sayur sama toge," ucap Azka yang di angguki oleh si pedagangnya.

Deg....

Jantung Aya berdetak kencang. Hal itu bukan di karenakan oleh Azka yang mengetahui kalau dia tidak menyukai mie bening yang sering di sebut bihun. Tapi, sebab selera bakso Azka itu sama dengan sahabatnya, Ara.

'Tetep aja... kesukaan mereka yang sama sering bikin ovt,' batin Aya berucap.

Azka melambaikan tangannya di depan wajah  Aya yang melamun.

"Kenapa, Ya? Kok bengong gitu?" tanya Azka yang membuat Aya tersadar dari lamunannya. Aya  menggeleng tanda jawaban dari pertanyaan Azka.

"Gapapa."

"Ahh ... apa ada yang kurang dari pesanan buat kamu?" tanya Azka lagi memastikan.

Aya menggeleng. "Nggak A," jawab Aya sembari tersenyum. "Aku cuman kaget aja, A Azka tahu aku gak suka pake bihun," lanjutnya.

Azka mengangguk-anggukan kepalanya. "Kirain ada yang kurang atau salah," ucapnya.

Aya kembali menggeleng. "Emang  A Azka tahu darimana, aku gak suka bihun?" Tanya Aya penasaran.

Azka terdiam sejenak. "Kalo lagi makan terus ada bihunnya, suka kamu pisahin... jadinya ya gitu."

Tak lama pesanan mereka pun datang, mereka memakannya dalam diam. Tapi Aya kembali melamun saat dia melihat bumbu yang di campur Azka.

'Tanpa cuka, tanpa saus, lebih banyak kecap dan sambal satu sendok . Kenapa bisa sama persis dengan dia?'

Setelah selesai membayar, mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka.

"Ya!" panggil Azka dengan pandangan yang masih tertuju pada jalan karna dia tengah menyetir.

"Iya," jawab Aya menatap ke arah Azka.

Behind You (ON GOING)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang