Hoseok | Sweet Monster | Pt.5

110 17 5
                                        

Setelah cukup jauh menuruni jalur berbatu dan melewati satu tanjakan kecil, Yn merasa gelisah. Perasaan tidak nyaman yang sempat muncul saat bertemu pria paruh baya tadi masih menggelayut di dadanya.

Ia berhenti sejenak di pinggir jalan setapak, berpura-pura mengikat tali sepatunya sambil perlahan menoleh ke belakang. Pandangannya menyusuri jalan yang baru saja ia lalui, berharap tidak melihat siapa-siapa.

Untung saja, jalur itu kosong. Tak ada bayangan pria itu. Hanya pepohonan pinus yang berayun tertiup angin dan suara burung yang kembali terdengar. Yn menghela napas pelan.

"Kenapa aku malah curiga..." Gumamnya pelan, mencoba menenangkan diri. Tapi firasatnya tidak bisa dibungkam begitu saja. Tatapan pria itu... seolah mengenalnya.

Meski tak tahu pasti kenapa hatinya gelisah, Yn tetap melanjutkan perjalanan. Tapi kini ia lebih waspada. Ia sesekali menoleh ke belakang, memastikan tak ada langkah kaki yang mengikuti.

Langit mulai menguning ketika ia akhirnya mencapai dataran yang lebih rendah. Dari kejauhan, desa kecil di kaki gunung sudah tampak. Tapi di balik ketenangan yang terlihat di depan mata, satu pertanyaan mulai mengendap dalam benaknya:

.

Setibanya di rumah sang nenek, Yn langsung disambut oleh suara sang sahabat - Lini. "Yn, kau dari mana saja?" Tanyanya penasaran

Namun, tanpa menjawab pertanyaan itu, Yn hanya melewati Lini dengan langkah pelan. Wajahnya menyiratkan lelah dan pikirannya tampak jauh. Ia menuju kamarnya, membuka pintu perlahan, lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang.

Yn memejamkan mata, berharap istirahat dapat meredakan kegelisahan yang sejak tadi menggantung di dadanya. Namun bukan ketenangan yang datang, melainkan mimpi-mimpi yang terasa begitu nyata.

Dalam tidurnya, ia melihat dirinya sebagai seorang gadis kecil. Ia tengah menangis seorang diri di tengah hutan Gunung Jirisan. Rambutnya kusut, pakaiannya berlumur lumpur. Ia tersesat, setelah sebelumnya mengikuti seekor kupu-kupu putih yang terbang menari di antara pepohonan.

Hari mulai gelap, dan suara hutan berubah mencekam. Rasa takut menguasai tubuh kecilnya. Ia meringkuk di bawah sebatang pohon besar, menahan dingin dan tangis yang tak kunjung reda.

Di tempat lain, di atas dahan pohon tinggi, Hoseok duduk termenung. Ia telah lama menjauh dari dunia manusia, menutup diri dari mereka yang menurutnya hanya membawa keserakahan dan kehancuran. Namun telinganya yang tajam menangkap suara tangis seorang anak.

Awalnya, Hoseok ingin mengabaikan suara itu. Ia tahu, melibatkan diri lagi hanya akan membuatnya terseret pada masalah yang tak diinginkan. Namun, rasa penasaran dan sesuatu dalam dirinya membuatnya melompat turun dan mencari sumber tangisan itu.

Tak lama, ia menemukan seorang gadis kecil-Yn-duduk di bawah pohon, matanya sembab, wajahnya penuh debu dan luka kecil. Saat gadis itu mendongak dan menatap Hoseok dengan mata basah, ada sesuatu yang berubah dalam dirinya.

Tatapan itu-penuh rasa takut, namun juga harapan-meluruhkan keteguhan hatinya. Hoseok mendekat, berjongkok di hadapannya, dan bertanya dengan suara tenang, "Di mana rumahmu? Aku akan mengantarmu pulang."

Gadis kecil itu menggeleng pelan, masih terisak. Hoseok menghela napas panjang, lalu tanpa berkata-kata lagi, ia menyelimuti tubuh mungil itu dengan jubah tuanya dan memandang ke arah langit yang mulai diselimuti bintang.

.

Yn terbangun dengan terengah. Napasnya tak beraturan, keringat dingin membasahi kening dan lehernya. Ia duduk di tepi ranjang, memegangi dada yang berdegup kencang seolah baru saja berlari jauh.

Cahaya senja telah berganti remang malam. Lampu kamarnya masih menyala redup, namun bayang-bayang mimpi itu begitu jelas, seolah baru saja terjadi.

"Apa itu barusan...?" Gumamnya pelan, nyaris tak terdengar oleh dirinya sendiri.

7 FantasyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang