dunk, lagi duduk di ruang tamu dengan mamanya berdiri dengan muka yang terlihat marah, sedangkan papanya hanya duduk di sofa lain di sana menyaksikan anaknya yang sedang dimarahin istrinya.
dunk hanya menunduk, sudah menangis sesegukan.
"mama kecewa dunk" ujar mamanya.
"ma, dunk sayang sama phi joong" suara dunk bergetar.
mamanya menggeleng.
"bagaimana mama bisa punya cucu dunk, perusahaan papamu juga harus ada penerus, siapa yang bakal jadi penerusnya nanti kalau kamu sama laki-laki"
"gimana kalau kita bisa punya anak ma, mama kan tau kalau laki-laki juga bisa hamil"
"gak semua dunk, paman kamu gak bisa hamil, dan kamu juga belum tentu bisa hamil" suara mamanya sedikit meninggi, dunk kembali menunduk.
"ta-tapi, joong lahir dari laki-laki ma" gumam dunk, suaranya sudah melemah, hanya suara isakan yang terdengar.
papanya menghela nafas, dia berdiri dari duduknya, ia tidak ingin melihat istri dan anaknya bertengkar seperti ini.
"udah ma, biarin aja dunk bersama orang yang dia sayangi, papa gak masalah kalau dia suka laki-laki, asal dia bahagia" ujar papanya, dia sudah tau kalau dunk tidak suka perempuan.
"pa, mama mau cucu"
"biarin saja dia milih jalannya sendiri, dia sudah besar"
"dia masih kecil pa"
keributan kecil terjadi antara suami istri, dunk berdiri untuk melerai mereka, bagaimanapun mereka bertengkar juga karna dirinya.
mamanya pergi dengan perasaan kesal, di ruang tamu hanya tinggal dunk dan papanya.
"mama kamu keras kepala, lama lama dia bakalan terima kamu, percaya sama papa" dunk menatap papanya, dia mengangguk mencoba untuk yakin.
----
earth dan yang lain sedang duduk di dapur untuk sarapan, tapi joong belum keliatan batang hidungnya.
"joong gaada kelas kah? kenapa tidak siap-siap" tanya earth sambil melihat ke arah lantai dua.
yang lain tidak tau harus menjawab apa, earth dan mix bingung apa yang terjadi sebenarnya.
sea menyenggol khaotung menyuruhnya untuk menjelaskan pada daddy dan papinya.
khaotung menghela nafas.
"daddy, kayanya joong harus cerita sendiri deh" ujarnya pelan.
earth mengerutkan keningnya.
"kenapa? ada apa dengan joong? apa dia sakit?" tanya mix khawatir.
"phuwin, panggil phi mu" kata earth, phuwin mengangguk dan menuruti perintah earth.
phuwin berjalan menuju kamar joong, membukanya pelan. di atas ranjang joong tidur membelakangi pintu, phuwin berjalan pelan menghampiri joong.
ternyata joong tidak tidur, dia hanya melamun dengan muka yang kusut, kantong matanya hitam.
"gue gak ada kelas hari ini, kalian sarapan aja duluan" kata joong, suaranya serak.
"bukan itu, lo disuruh ke dapur sama daddy. kayanya lo harus ceritain sama daddy dan papi deh, mereka khawatir"
joong menghela nafas.
"ya, lo duluan aja, entar gue nyusul" phuwin mengangguk, dia keluar dari kamar joong dan kembali ke dapur.
beberapa menit kemudian, joong keluar sehabis cuci muka, mukanya terlihat sekali kurang tidur.
"kenapa joong?" tanya earth.
joong tersenyum kecil "enggak dad, hanya masalah kecil" kata joong.
"papi gak peduli mau itu masalah kecil atau besar. cerita sama papi, kamu gak sendirian joong, kamu punya kita disini" kata mix lembut tapi tegas.
"mama dunk gak restuin hubungan kami" ujar joong sambil menunduk.
"kenapa?" tanya earth. "apa mamanya tidak suka gay?"
joong menggeleng "enggak dad, mamanya cuma mau cucu, paman dunk juga ada yang gay, tapi mamanya biasa biasa saja"
mix mengangguk "gapapa, itu artinya kamu disuruh berjuang" ujar mix sambil tersenyum.
"kalian tau? dulu papi sama daddy juga gak di restui sama nenek kalian" ujar mix, semua orang melihat ke arah mix, kisah ini belum di ceritain.
"papi? kok gak pernah bilang sama kita?" tanya neo dengan wajah penasarannya.
"kalian juga gak pernah nanya" balas mix.
"maka dari itu, kamu jangan menyerah dulu joong, perjuangin dunk. bakalan lebih mudah karna mama dunk gak homophobic, dulu ayah sama nenek daddy tidak terima kita karna mereka homophobic" ujar earth.
joong menatap earth, dia penasaran, bagaimana dulu mix bisa di restui sama ayah dan ibu earth.
"jadi, nenek sama kakek homophobic? mereka gak suka gay?" tanya joong.
earth mengangguk "ayah sama ibu daddy, mereka gak restui hubungan kami waktu SMA dulu, mereka tidak suka gay, bahkan sangat membenci gay"
"lalu, gimana kalian bisa menikah?" tanya joong.
"iyaa, ceritain dong dad, aku penasaran" ujar phuwin, yang lain mengangguk.
earth melihat jam tangannya, sudah menunjukkan pukul 07.20, itu artinya mereka harus cepat cepat beraktivitas.
"makan malam daddy ceritain, intinya buat joong, jangan mudah menyerah ya, semua ada jalannya" joong mengangguk, lalu tersenyum tipis.
yang lain sudah mulai pergi ke kegiatan masing-masing, mix juga ke rumah sakit hewan. dirumah hanya tersisa khaotung dan joong, dan dua maid yang mengurus rumah.
joong masih makan, khaotung masuk ke kamarnya, dia mau bersiap-siap pergi ke apartemen first, karna dia sudah janji semalam akan ke tempat first pagi pagi.
"joong, gue mau ke apartemen phi first, lo gue tinggal gapapa kan?" tanya khaotung memastikan.
lalu dia pergi dari rumah, sekarang hanya tersisa joong sendiri. ia menghela nafas lagi. joong sedang memikirkan dunk, kira-kira dunk sedang apa ya dirumah? atau dia pergi sekolah?
joong buru-buru masuk kamarnya ingin memeriksa ponselnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
dunk tidak aktif, joong semakin overthinking, apa yang terjadi pada dunk? kenapa dia tidak aktif.
---
dunk sedang tiduran di rumahnya, harusnya dia sekolah, tapi mamanya mengurungnya di kamar, ponselnya juga di sita, dunk benar benar pusing sekarang, dia tidak bisa keluar.
"ck, mama apa apaan sih, pakek kurung gue segala" dunk jadi kesal, dia sudah menangis dari tadi, sekarang dia capek.
dunk kembali melamun, matanya terarah pada jendela kamar.
"apa gue keluar lewat jendela aja ya" dunk berpikir sebentar.
dia menggeleng kuat. "jangan gila dunk, kamar lo di lantai dua" dunk duduk dengan kasar dan mengacak rambutnya dengan kasar.