28 | Tak Selalu

41 27 0
                                        

.
.
Happy Reading
😉
.

Tetaplah curhat ke teman meskipun tak selalu ada solusi, tapi setidaknya kamu tidak pusing sendirian lagi.
.
.

Malam ini kamar Almi terasa seperti pelarian kecil dari kehidupan SMA yang makin absurd, dengan tumpukan buku Bahasa Indonesia yang tadi sempat bikin pusing sekarang tergelatak di sudut kasur tak ada yang berniat membukanya lagi.

Tiga sahabat itu rebahan bertiga di atas kasur, posisinya nggak beraturan, bantal berserakan, dan selimut cuma jadi dekorasi kaki. Wajah mereka menghadap ke langit-langit yang mulai mengelupas, seolah tiap retakan di sana menyimpan rahasia hidup remaja yang belum sempat diungkap.

"Gue nggak ngerti kenapa orang yang udah bilang sayang, masih mikirin masa lalu. Kok rasanya tuh kayak gue cuma jadi jeda, bukan jadi tujuan." gumam Almi pelan, tapi cukup dalam buat bikin dua sahabatnya ikut diam.

Gea bergumam, sambil nempelin telunjuk ke langit-langit, kayak lagi nunjuk semesta, "Sama, Mi. Okta nembak gue. Tapi dia tuh kayak poster promosi: kelihatannya wow, tapi isi-nya masih trial. Dia bilang gue beda. Tapi gue tuh beda dari siapa? Dari puluhan cewek cewek yang sudah menumpuk dikontak nya? Atau dari gebetan random-nya yang pernah diantar pulang tapi nggak tahu namanya?”

Sabil menggeser tubuhnya, kakinya naik ke dinding, dan senyum tipis muncul di wajahnya. "Gue tuh bingung. Kenapa cinta kalian selalu kayak plot sinetron sore. Gue sih maunya hubungan itu kayak soal pilihan ganda jelas mana yang bener, tinggal coblos."

Ketiganya terkekeh, bukan karena lucu, tapi karena nggak punya jawaban lain.

"Kalau hidup ini ada daftar isi, bab cinta kita tuh selalu dilewati editor. Lompat ke konflik, skip bagian bahagia." keluh Almi, membalik badan ke kanan.

Gea menimpali, "Kalau disuruh bikin judul bab-nya, gue bakal tulis: Dicintai Sementara, Ditinggal Selamanya."

Sabil ketawa, tapi nada suaranya nggak benar-benar ceria. "Gue sih judul bab cinta gue. Disayang, Direstui, Dijemput Pakai Helm Full Face."

Almi dan Gea saling tatap, lalu menoleh ke Sabil. "Satu-satunya yang memiliki kisah cinta stabil di antara kita." ujar mereka berdua bersamaan, kayak skrip drama yang sudah latihan.

Malam terus berjalan, jam dinding berdetak pelan, dan rasa ngantuk mulai menyapa. Tapi obrolan masih terus mengalir. Sampai tiba-tiba ponsel Sabil bergetar.

Nama Raka, lengkap dengan emoji hati, menyala lembut di layar. Ia angkat panggilan itu tanpa ragu.

"Sayang," suara Raka terdengar pelan dan hangat.

"Besok aku mulai latihan basket lagi. Tandingnya makin dekat, jadi jadwal latihan bakal padet." jelas Raka dari seberang sana.

Sabil menoleh ke arah Almi dan Gea yang sudah lelah rebahan.

"Nggak apa-apa kok. Aku ngerti."

"Aku juga ngga bakal bisa antar kamu pulang seperti biasa." sahut Raka, suaranya makin lembut, "Kecuali kalau kamu mau nonton aku latihan."

Sabil tersenyum kecil, nadanya ikut melembut.
"Iya aku paham, aku ngga bakal ngambek juga. Serius."

"Oh ya, sekarang aku lagi nginep di rumah Almi bareng Gea, ngerjain tugas Bahasa Indonesia. Tugasnya absurd, tapi lumayan bikin ketawa."

"Lagi sama mereka?" sahut Raka.
"Sekalian deh, titip sesuatu buat Gea si osis itu."

Sabil menggigit bibir sambil berbisik, "Apa nih?"

"Bilang ke Gea, kasih kesempatan buat Okta. Aku tahu dia punya catatan kelam—mantan berjejer, reputasinya ya gitu, tapi minggu ini dia ngomong ke aku. Tentang Gea. Katanya kalau Gea mau nerima, dia mau mulai berubah. Mau tobat."

ALMIKA [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang