.
.
Happy Reading 😉
.
Kita belum jadi apa-apa. Tapi rasanya sudah cukup untuk jadi awal yang menyenangkan.
_Almika.
Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi. Matahari sudah tinggi, menyinari lapangan sekolah dengan terik yang menyengat. Hari ini, murid kelas Almi yakni sebelas IPA dua dan kelas dua belas IPA satu yang tak lain ialah kelas kelas Alka.
Kelas mereka berbaris berdampingan di lapangan untuk menjalani jadwal olahraga bersama. Penggabungan ini dilakukan karena guru olahraga kelas Almi sedang sakit, sehingga mereka bergabung di bawah arahan Pak Yoga selaku guru olahraga kelas dua belas.
Suasana lapangan pun jadi lebih ramai dari biasanya. Dua kelas berdiri sejajar, masing-masing dipimpin oleh murid yang ditunjuk untuk memimpin pemanasan. Fikri memimpin untuk kelas sebelas, sementara Alka memimpin untuk kelas dua belas. Sebelum praktik bola voli dimulai, semua murid harus melakukan pemanasan terlebih dahulu.
Dan seolah ikut ambil bagian dalam olahraga, matahari pagi itu terasa semakin menyengat, membuat pemanasan terasa seperti latihan bertahan hidup.
"Aduhh, Fikri yang bener dong pemanasannya!" keluh Gea sambil mengibas-ngibas tangan ke wajahnya, mencoba mengusir panas yang tak kunjung reda.
"Habis ini tuh gerakannya kaki diputar dulu, bukan langsung lompat-lompat. Tuh lihat, kayak Kak Alka," protes Gea, menunjuk ke arah Alka yang memimpin pemanasan dengan gerakan rapi dan tenang.
Fikri menoleh sebentar, lalu mengangkat bahu. "Banyak protes lo, giliran disuruh mimpin aja ngga mau."
"Ogah, males. Lagian gue bukan pelatih," sahut Gea
"Yaudah kalau gitu lo tinggal ikutin aja tuh anteng, kaya dua teman lo, Sabil sama Almi."
Almi yang sedari tadi tengah memperhatikan seseorang pun langsung sedikit terperanjat saat namanya disebut. Ia buru-buru kembali fokus, sementara Sabil tampak sibuk saling berbalas senyuman dengan pacarnya langsung menyengir kearah Gea.
Gea mendengus pelan. Belum sempat Gea melanjutkan komentarnya, suara peluit dari Pak Yoga terdengar nyaring memecah suasana.
Prittt!
"Kalau sudah pemanasan, silakan lari lima putaran mengelilingi lapangan. Setelah itu kita praktik bola voli." seru Pak Yoga dengan suara tegas, clipboard di tangan dan topi olahraga menutupi sebagian wajahnya dari sengatan matahari yang mulai terasa kejam.
Jika sudah seperti ini maka murid-murid mulai bersiap untuk berlari, meski wajah-wajah mereka sudah menunjukkan tanda-tanda kelelahan bahkan sebelum putaran pertama dimulai.
Namun sebelum langkah pertama diambil, Almi sempat menoleh ke arah sisi lapangan. Ia melihat seorang murid perempuandari kelas dua belas yang tadi sempat ia perhatikan, berjalan pelan ke arah Pak Yoga. Mereka berbicara sebentar, lalu Pak Yoga mengangguk, dan murid itu pun duduk di kolidor, menyandarkan tubuhnya sambil memijat pelipis.
"Kak Mawar kenapa tuh?" bisik Gea yang ternyata juga memperhatikan interaksi itu.
Almi mengedikkan bahu, nada suaranya datar. "Sakit mungkin. Lo ngga lihat dia pucat banget?"
Gea berdecak. "Kalau sakit ngapain tadi ikut pemanasan coba."
"Ya mana gue tahu. Udah ah, ayo cepetan lari. Tuh, Sabil aja udah lari jauh di depan." jawab Almi sambil mulai melangkah.
Gea memicingkan mata ke arah Sabil yang tampak bersemangat. "Halah, Sabil semangat karena bareng pacarnya aja. Biasanya dia tuh paling males kalau olahraga."
KAMU SEDANG MEMBACA
ALMIKA [On Going]
Ficção Adolescente"Dan Anehnya saat bercanda dengan lo, gue lebih banyak sayang nya daripada ketawanya" --- Ini kisah tentang Almi, gadis tomboy yang penuh dengan kekocakan, Almi ini sulit sekali untuk diajak serius.Saat ada seseorang yang bertanya siapa nama panjang...
![ALMIKA [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/252251363-64-k900451.jpg)