Happy Reading 😉
.
.
.
"Eza mana?" Tanya Raka yang baru saja tiba disana dan hanya melihat Alka dan juga Okta.
"Ada urusan urgent katanya." Jawab Okta
"Ohh." ucap Raka dan langsung memilih duduk di kursi kosong yang berhadapan dengan Alka.
Seperti malam-malam sebelum, saat ini mereka sedang berkumpul di Chill Out Cafe atau lebih dikenal dengan sebutan kafe COC. Cafe dekat sekolah yang selalu ramai oleh remaja seusia mereka. Selain tempatnya yang bagus dan nyaman, pada hari-hari tertentu Cafe ini juga mengadakan live musik, seperti malam minggu, ataupun pada tanggal-tanggal tertentu. Hal tersebut tentunya yang selalu menarik perhatian pelanggan untuk terus berkunjung ke kafe COC ini.
"Lo juga kemana dulu Ka, tumben telat?" Tanya Okta.
"Kepo lu." jawab Raka membuat Okta menyesali pertanyaannya itu.
"Menurut gue, kita ajak Bara aja." usul Raka kemudian, membuat Okta serta laki-laki dihadapannya itu mengalihkan pandangan kearahnya.
"Kenapa harus Bara?" Jawab Alka.
"Permainan basket dia cukup jago, taktinya juga bagus." jawab Raka.
"Setuju gue, inget saat tanding sama kelas kita, Al. Point kita dan kelas si Bara hampir seri kan." Ucap Okta.
Mendengar itu Alka nampak menimbang-nimbangnya usulan tersebut, jika saja saat latihan sore tadi Alvin tidak cedera. Ia tidak akan bingung mencari pengganti untuk pertandingan basket yang akan diselenggarakan satu minggu lagi.
"Alvin cederanya cukup serius, gue ngga yakin dalam saminggu ini dia benar-benar sembuh."
"Jadi ngga ada salahnya kita coba ajak Bara buat gabung." Jelas Raka lagi.
Alka menghembuskan nafasnya sejenak, entah kenapa saat nama Bara disebutkan, pikiran Alka langsung tertuju pada Almi, gadis yang akhir-akhir ini dekat dengan laki-laki itu.
"Hallo teman-teman, Eza tampan hadir disini." sapa Eza yang baru saja datang.
"Sorry telat." ucapnya yang kini telah duduk disebelah Alka.
"Habis kemana dulu, Za?" Tanya Alka.
"Ngga kemana-mana gue."
"Okta bilang lo ada urusan." Timpal Raka.
"Ohh itu."
"Masalah urgent tadi." ucap Eza santai
"Masalah apa?" selidik Raka penasaran.
Bukan cuma Raka, Okta dan Alka pun sama-sama penasaran hingga membuat ketiganya kini menatap kearah Eza.
"Eeee buset, kalem bae kalem pada kenapa si bambang." ucap Eza tak terima ditatap penuh selidik seolah-olah telah melakukan kejahatan yang keji.
"Gue telat datang cuma habis benerin gas di rumah gue bocor." Jelas Eza membuat ketiga sahabatnya itu berhenti mengintimidasinya.
"Yeee, kirain urgent apaan, Ecaa dugongg" ucap Okta kecewa.
"Itu urgent Oktopus, kalo rumah gue kebakaran gimana, nanti Ibu gimana."
"Asal lo tau, Ibu gue itu separuh nyawa gue." jelas Eza tak terima terhadap ucapan Okta.
"Udah, Za."
"Tapi sekarang udah aman kan?" tanya Alka.
"Iyya udah, aman terkendali." ucap Eza mantap.
Mendengar itu Alka dan Raka langsung merasa lega. Mereka tau meskipun Eza terlihat santai, bila sudah menyangkut urusan keselamatan Ibu nya Eza selalu berubah menjadi serius dan sangat perhatian.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALMIKA [On Going]
Teen Fiction"Dan Anehnya saat bercanda dengan lo, gue lebih banyak sayang nya daripada ketawanya" --- Ini kisah tentang Almi, gadis tomboy yang penuh dengan kekocakan, Almi ini sulit sekali untuk diajak serius.Saat ada seseorang yang bertanya siapa nama panjang...
![ALMIKA [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/252251363-64-k900451.jpg)