Prolog

722 311 81
                                        

Suara sirine polisi, berhasil membuat kekacauan di sebuah arena balapan liar, banyak orang-orang berlarian agar terhindar dari polisi, ditambah lampu jalan yang remang dan cukup gelap membuat orang-orang menjadi semakin sulit untuk berlari. Bahkan ada beberapa diantara mereka yang sudah tertangkap polisi.

Di tengah kepanikan itu, seorang gadis bersembunyi di balik tumpukan drum bekas yang tersusun didekat arena balapan tersebut. Ia duduk berjongkok, menahan napas. Sesekali, ia mengintip dari celah kecil di antara drum, memastikan situasi. Dan dari celah itu, ia melihat seorang cowok, mungkin seumuran dengannya tengah berlari limbung, wajahnya tertutup masker hitam. Nafasnya terlihat berat, jalannya oleng seperti habis dikejar mimpi buruk.

Gadis itu mencoba memincingkan matanya,  mencoba memastikan. Ia tak mengenali cowok itu. Tapi detik berikutnya, nalurinya bertindak duluan. Saat cowok itu hampir melewati tempat persembunyiannya, tangannya terulur. Ia menariknya dengan paksa. Sehingga membuat cowok itu menimpa tubuhnya.

Posisi mereka begitu dekat, terlalu dekat. Nafas mereka saling berburu di udara yang pengap. Mata mereka bertemu. Ada jeda.

Gadis itu refleks menoleh, pipinya mulai memanas. Tapi cowok itu justru tak mengalihkan pandangannya. Tatapan matanya tajam, dan entah kenapa, tenang.

"Lo siap-"

Belum sempat kalimat itu selesai, tangan gadis itu langsung membekap mulutnya. Dari balik drum, terdengar langkah sepatu, Polisi.

Mereka berdua menahan napas.

Deg-degan. Bukan cuma karena takut tertangkap, tapi posisi ini terlalu absurd. Ini pertama kalinya si gadis bersembunyi bareng cowok asing, dalam jarak sedekat ini. Dadanya berdebar lebih dari biasanya.

Cowok itu diam, mengikuti ritme hening. Di balik maskernya, ia tersenyum kecil. Ia bisa merasakan si gadis canggung, dan itu lucu buatnya.

Langkah polisi perlahan menjauh. Sirine kini terdengar makin jauh. Situasi perlahan mereda.

Gadis itu langsung mendorong cowok itu pelan dan bangkit dari persembunyian. Ia menyapu debu di lututnya, dan tanpa sepatah kata, mulai melangkah pergi.

Namun tangan cowok itu menahan pergelangan tangannya. Lembut, tapi cukup kuat untuk membuatnya berhenti.

Gadis itu menoleh. "Apa?"

"Thanks udah nyelamatin gue" ucap cowok itu.

"Hmm, lo tadi keliatan bego sih lari muter-muter kayak ayam kejar-kejaran," jawabnya datar, tapi ada senyum tipis yang tak bisa ia tahan. Ia pun segera menarik tangannya dan melangkah pergi lagi.

"Gue baru pertama liat cewek itu disini, dan gue gak tau apa yang terjadi setelah hari ini" ucap laki-laki tersebut

🍁🍁🍁

Gadis itu baru saja tiba di rumahnya padahal jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, ia berjalan menuju ke lantai atas dimana kamarnya berada. Kaki jenjang nya mulai menaiki tangga, wajahnya nampak terlihat kelelahan, rambutnya ia cepol secara asal seakan membuat kecantikan nya bertambah. Ketika hampir sampai dilantai atas, suara pria paruh baya berhasil menghentikan langkahnya

"Darimana saja kamu?" ucap Vano pria paruh baya tersebut, dengan suara baritonnya

"Kok ayah belum tidur?" Jawabnya mencoba mengalihkan topik pembicaraan

"Jawab pertanyaan ayah" ucap Vano tegas

"Rumah temen yah" bohongnya kemudian

Vano memperhatikan penampilan anaknya yang serba hitam dari mulai sepatu sneakers, celana jeans, dan jaket kulit semuanya berwarna hitam, terkecuali baju kaos putih yang terlapis oleh jaket.

Melihat tatapan ayahnya yang seakan mengintimidasi, membuat gadis itu gelagapan sendiri, ia tidak bermaksud berbohong kepada ayahnya hanya saja jika gadis itu berbicara jujur bahwa dirinya sudah pergi ke tempat 'tersebut' pasti ayahnya akan marah besar.

"Sudahlah yah, lagian sekarang aku sudah pulangkan" ucap gadis itu berusaha menghindari permasalahan

Namun tiba-tiba saja seorang wanita keluar dari kamar dan menghampiri Vano "Aduh mas ada apa sih, kok dari tadi aku dengar kayak ada yang ribut-ribut" Ucapnya

Gadis itu memutar kedua bola matanya jengah, ia tidak suka pada perempuan yang berstatus sebagai mamah tirinya itu

"Almi Sayang, kok jam segini baru pulang sih" timpal Sandra pada gadis itu

"Saya gak punya urusan dengan anda" balasnya pada Sandra

"ALMII berhenti bersikap seperti itu" bentak Vano

"Sudahlah Almi capek mau tidur" ucapnya dan langsung masuk menuju kamar.

Didalam kamar, Almi langsung menjatuhkan tubuhnya diatas kasur berukuran single size yang hanya cukup untuk dirinya saja.

"Bunda dimana sih, kok bunda tega tinggalin Almi, bunda tau gak sekarang ayah udah nikah lagi, ayah juga sekarang jarang ada waktu buat Almi, Almi kangen bunda" ucap Almi bermonolog

Dan tak lama kemudian matanya mulai terpejam masuk kedalam alam mimpi.

.
.
.
.
.
.
.

Hidup itu selalu penuh dengan kejutan
Kita tidak pernah tahu skenario terbaik apa yang akan kita dapatkan setelah pahitnya kehilangan.
Entah dipertemukan, ditemukan atau menemukan.
Satu hal yang pasti hidup akan terus berjalan, dan kita mesti bertahan.

_Almika🍁

.
.
.
.


Jangan lupa kasih vote ⭐😘😗

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jangan lupa kasih vote ⭐😘😗

ALMIKA [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang