34 | Tanding Basket

44 31 1
                                        

Happy Reading 😉
.

Setelah berminggu-minggu latihan yang melelahkan, ditambah pengunduran jadwal yang sempat membuat para pemain resah, akhirnya hari yang dinanti tiba. Pertandingan basket antar sekolah resmi digelar di SMA Garuda, mempertemukan empat sekolah yang masing-masing membawa semangat dan harapan besar.

Tribun penuh sesak, dipenuhi siswa-siswi dari berbagai sekolah yang datang dengan semangat membara. Mereka mengenakan atribut kebanggaan, syal tim warna-warni melambai di udara, kaos seragam tim dipakai dengan bangga, dan spanduk besar bertuliskan dukungan bergelantungan di pagar tribun.

Di barisan depan, Almi, Sabil, dan Gea sudah duduk dengan posisi strategis. Mereka datang lebih awal demi mengamankan tempat terbaik.

Sabil, dengan semangat berapi-api, menarik Almi dan Gea ke kursi paling depan sambil berkata, "Disini kita bisa lihat permainannya dengan jelas!"

Gea mencibir, matanya menyipit ke arah Sabil. "Ini mah akal-akalan lo aja. Yang bener itu biar lo bisa lihat jelas muka Kak Raka, kan?"

Sabil hanya tertawa, tidak membantah, tidak juga mengiyakan.

Di tengah hiruk-pikuk itu, suara panitia bersahutan dari pengeras suara, memanggil setiap kapten tim untuk berkumpul di tengah lapangan.

"Panggilan kepada setiap kapten masing-masing tim, silakan berkumpul di sisi kanan lapangan untuk briefing!"

Para kapten pun mulai berjalan menuju titik kumpul.

Sabil yang duduk di barisan depan langsung menunjuk ke arah lapangan.
"Wow, Mi! Itu Kak Alka masuk lapangan!"

Almi menoleh, matanya langsung menangkap sosok Alka yang mengenakan jersey SMA Garuda, nomor punggung 7, dengan rambut yang sedikit berantakan tapi tetap karismatik.

"Iyaiya, Sabil. Gue juga bisa lihat kok. Alhamdulillah," jawab Almi santai.

Sabil tak puas. "Ihh panggil dong, biar nanti dia tau kalau lo ada di sini!"

Tapi Almi hanya tersenyum. Karena ia merasa, tak perlu suara keras untuk membuat seseorang sadar akan kehadirannya.

Dan benar saja, di tengah langkahnya menuju briefing, Alka sempat menoleh. Sekilas. Hanya sepersekian detik. Tapi membuat waktu seakan terasa melambat.

Tatapannya jatuh tepat ke arah Almi. Senyum kecil muncul di wajahnya ringan, dan penuh makna. Seolah berkata, 'Gue tahu lo ada di sana.'

Almi membalas senyuman itu, tanpa kata. Semalam mereka sempat saling bertukar pesan singkat, dan tentu saja Almi tak lupa menyelipkan dukungan: 'Semangat ya buat besok. Gue tahu lo bisa.'

Setelah menerima arahan dari panitia, para kapten pun kembali ke tim masing-masing untuk persiapan. Pengeras suara kembali menggema, kali ini dengan nada lebih resmi dan penuh antisipasi.

"Persiapan. Pertandingan pertama bola basket pada hari ini akan dimainkan oleh SMA Cendikia Bangsa melawan tuan rumah, SMA Garuda!"

Sorakan langsung meledak dari tribun. Tepuk tangan, teriakan yel-yel, dan suara drum mini bergema seperti irama perang. Suasana terasa seperti final liga profesional, meski baru babak awal.

Para pemain dari SMA Garuda mulai memasuki lapangan satu per satu. Alka berjalan paling depan dengan ekspresi tenang namun penuh fokus. Di belakangnya, Raka melangkah mantap, tubuhnya tegap dan siap menjaga pertahanan. Bara menyapa penonton dengan anggukan kecil, sementara Okta dan Eza saling bertukar pandang, memberi isyarat kesiapan.

Di sisi lain lapangan, tim SMA Cendikia Bangsa juga sudah bersiap. Wajah-wajah penuh semangat dan strategi terpancar dari tiap pemain. Wasit berdiri di tengah lapangan, meniup peluit pendek sebagai tanda bahwa pertandingan akan segera dimulai.

ALMIKA [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang