Happy Reading 😉
.
Kadang kita nggak butuh alasan buat berubah.
Kita cuma butuh momen yang cukup tenang buat sadar.
_Almika
🍁🍁🍁
Almi baru saja tiba di rumah. Dengan senyum masih terpancar di wajahnya, sisa dari tawa ringan bersama teman-teman tadi. Suara Sabil yang selalu nyaring, ledekan khas untuk Okta, dan obrolan hangat di bawah di pinggir lapangan masih terngiang di benaknya.
Ia berjalan kearah pintu dengan langkah ringan, helm masih tergenggam di tangan, kunci motor berayun di sela jemari. Tapi langkahnya terhenti, ketika suara dari ruang tengah tanpa sengaja menyusup pelan ke telinganya.
"Aku nggak bermaksud menyembunyikannya, Sandra. Asal kamu tahu, Larisa-bundanya Almi. Dia pergi atas keputusannya sendiri.”
"Dia yang sudah tega ninggalin aku sama Almi. Dan lebih memilih mimpinya itu."
Almi membeku. Dunia seakan berhenti berputar. Suara detak jantungnya menggema di kepala, beradu dengan kalimat yang baru saja ia dengar, dari suara milik Vano, ayahnya.
"Larisa, dia sengaja ninggalin aku dan Almi." Ucap Vano lagi membuat indera pendengaran Almi terasa terngiang.
Nama itu, Larisa Mauren-bundanya. Sosok yang selama ini ia tunggu, ia rindukan dalam diam. Dengan harapan bahwa ia akan kembali suatu hari nanti, membawa pelukan hangat dan cerita panjang tentang alasan kepergiannya. Ternyata sengaja memilih pergi karena pilihan atas keinginannya.
Tangan Almi gemetar. Kunci motor nyaris terlepas dari genggaman. Matanya menatap kosong, tapi pikirannya menelusuri masa lalu.
Ia masih ingat betul. Kelas delapan. Larisa, bundanya itu pamit dengan pelukan hangat dan senyum lembut, serta janji yang tak pernah ditepati untuk kembali ternyata hanya bungkus dari sebuah kebohongan.
"Dan karena alasan itu juga aku nggak pernah benar-benar bisa menjawab saat Almi bertanya soal Larisa," ucap Vano lagi, suaranya pelan, nyaris seperti pengakuan.
Tubuh Almi kaku di ambang pintu. Wajahnya tak menunjukkan amarah, tapi ada sesuatu yang retak. Bukan hanya hatinya, tapi juga kepercayaannya. Ia bukan hanya kehilangan Larisa. Ia kehilangan makna dari penantian itu sendiri.
Kemudian Almi melangkah masuk. Pelan. Seperti seseorang yang baru saja keluar dari mimpi buruk yang terlalu nyata.
Sandra menoleh, sedikit terkejut. Vano terdiam, matanya membelalak, seolah baru sadar bahwa luka yang mereka bicarakan kini berdiri di hadapan mereka.
Almi menatap mereka. Matanya kosong. Tak ada amarah, tak ada air mata. Hanya kehampaan yang dalam.
"Jika emang itu kenyataannya, aku ngga akan mau lagi ketemu bunda."
Sandra menutup mulutnya, air mata mulai menggenang. Vano mencoba bicara, tapi tak ada kata yang keluar, karena ia sendiri juga tidak tahu apa yang harus ia katakan.
Almi melangkah ke kamarnya. Begitu pintu tertutup, Ia duduk di tepi ranjang. Sunyi. Tangannya meraih figura foto di atas nakas. Foto Larisa memeluknya dengan senyum di wajahnya begitu lembut. Tapi kini, senyum itu terasa asing.
Tangannya meraih figura foto tersebut, dan menangkupkannya. Almi tak tahu apakah ia marah, kecewa, atau hanya lelah. Namun satu hal yang pasti, ia bukan lagi anak yang menunggu. Ia adalah anak yang ditinggalkan.
- - -
Menunggu seseorang yang tak pernah berniat kembali, adalah bentuk kesetiaan yang menyakitkan.
_Almi Aqila.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALMIKA [On Going]
Teen Fiction"Dan Anehnya saat bercanda dengan lo, gue lebih banyak sayang nya daripada ketawanya" --- Ini kisah tentang Almi, gadis tomboy yang penuh dengan kekocakan, Almi ini sulit sekali untuk diajak serius.Saat ada seseorang yang bertanya siapa nama panjang...
![ALMIKA [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/252251363-64-k900451.jpg)