41 | Misunderstand II

14 4 0
                                        

Happy Reading 😉
.

Langit sore mulai meredup saat Alka membuka pintu rumahnya. Udara dingin menyambutnya, tapi bukan itu yang membuat tubuhnya menggigil. Kepalanya masih penuh dengan bayangan Mawar yang meringis kesakitan, dan Almi yang pergi dengan mata memerah dan langkah berat.

Ia meletakkan tasnya di sofa, lalu duduk diam. Tangannya masih menggenggam ponsel, layar menampilkan riwayat pemesanan taksi yang ia pesan untuk Mawar, setelah gadis itu menolak untuk diantar olehnya.

'Aku bisa sendiri, Al.' kata Mawar waktu itu, dengan suara lemah tapi tegas.

Alka sempat bersikeras, tapi Mawar tetap menolak. Sampai akhirnya Alka menyerah, ia hanya membantu membopong Mawar hingga ke gerbang sekolah, menunggu sampai taxi datang, dan Mawar benar-benar masuk ke dalam mobil.

Sekarang di rumah yang sepi, Alka merasa hampa. Ia memutar ulang kejadian tadi di toilet. Mawar yang sakit, Almi yang panik, dan dirinya... yang malah menuduh.

'Lo kasih dia apa, Mi?'

Kalimat itu bergema di kepalanya. Ia tahu ia salah. Ia tahu Almi hanya ingin membantu. Tapi entah kenapa, saat melihat Mawar kesakitan dan Almi di sampingnya, rasa curiga itu muncul begitu saja.

Alka duduk bersandar, matanya menatap kosong pada jam dinding. Ia merasa bersalah. Pada Mawar. Pada Almi. Dan mungkin pada dirinya sendiri.

Ia membuka ponsel, membuka kontak Almi. Jempolnya ragu di atas layar. Mengetik, menghapus, mengetik lagi.

*Maaf.*

Hanya satu kata. Tapi rasanya berat sekali.

"Astaghfirullah, Alka!" teriak Sindi dari arah dapur, terkejut melihat adiknya duduk diam di sofa. Untung saja piring mie goreng yang dibawanya tidak sampai tumpah.

"Ckkk, lo pikir gue ngga kaget denger teriakan lo," sahut Alka, sama terkejutnya, meski suaranya terdengar lesu.

"Lagian pulang ngga bilang-bilang, minimal ucap salam kek," omel Sindi sambil duduk di sebelah Alka, membawa sepiring mie goreng yang masih mengepul, aromanya menggoda.

"Ya gue pikir ngga ada orang."

"Yeee, Bambang. Kalau ngga ada orang, pintu pasti dikunci. Lo tuh yang males ngomong."

Alka hanya mengangkat bahu. "Tapi rumah kok sepi? Bunda kemana?"

"Ikut pengajian di rumah Bu Susan. Katanya ada pengajian khusus ibu-ibu gitu, sekalian silaturahmi."

Alka mengangguk pelan. Hening menyelimuti ruang tengah. Hanya suara kipas angin yang berputar malas di langit-langit. Sindi melirik adiknya sekilas, lalu matanya tertumbuk pada layar ponsel Alka yang menyala, terlihat jelas bar percakapan dengan nama Almi di atasnya.

Sindi pura-pura tak melihat, lalu menyipitkan mata dan nyeletuk asal, "Lo kenapa sih? Jangan ngelamun terus, mikirin bunga pinjol ya?"

Alka tak menjawab. Ia hanya menatap kosong ke layar ponsel, lalu menguncinya dan meletakkannya di meja. Hingga tanpa aba-aba, ia mencomot sejumput mie goreng dari piring Sindi dan langsung menyuapnya.

"Eh! Astaga, Alka!" Sindi refleks menarik piringnya. "Ngga sopan banget, itu mie gue! Mana sekali nyomot seabrek lagi."

Alka mengunyah pelan, lalu berkata dengan suara, "Enak juga ya mie goreng."

Sindi mendecak. "Lo tuh ya, kalau lagi stres suka nyebelin."

"Eh makannya berdua dong, gue juga laper." pinta Alka tiba-tiba.

ALMIKA [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang