.
.
Happy Reading 😉
.
Hujan turun deras malam ini. Rintiknya menghantam genteng dan jendela dengan ritme yang menenangkan, seolah ingin menyelimuti rumah dengan kehangatan yang berbeda. Padahal siang tadi panasnya begitu menyengat, membuat kulit terasa terbakar. Tapi kini, udara berubah drastis dingin, lembap, dan mengundang rasa ingin memakan sesuatu yang hangat.
Seperti yang akan dilakukan oleh Sandra saat ini, wanita itu tengah sibuk memanaskan air didalam panci bermaksud untuk membuat Mie. Sambil menunggu air mendidih, wanita itu pun nampak mengiris beberapa bahan lainnya, seperti tiga buah cabai, dan bawang putih yang diiris cincang.
[Ini hal yang dilakukan Sandra saat hujan, klo kalian biasanya ngapain?]
Lain halnya dengan Bi Narsih yang kali ini duduk di kursi meja makan, dengan tangannya memegang gelas berisi teh hangat yang diberikan oleh sang majikannya tadi.
"Padahal biar Bibi aja yang buatin atuh, Nyonya," ucap Bi Narsih, suaranya lembut namun penuh rasa sungkan.
Sandra menoleh sambil tersenyum. "Udah ngga apa-apa, Bi. Saya juga bisa masak kok. Lagian, bikin mie doang."
"Ya kan Bibi jadi ngga enak, masa iya Bibi diem aja gini kaya lagi mandorin Nyonya," sahut Bi Narsih, setengah bercanda.
Sandra tertawa pelan, suara tawanya menyatu dengan suara hujan di luar. "Kali-kali kita tuker tugas kan, Bi. Biar saya yang masak, Bibi yang duduk manis sambil nikmati teh hangat."
Sambil menunggu, sesekali Sandra juga ikut menyesap teh hangat yang ia letakkan di meja dapur.
"Ini bibi beneran ngga mau? Padahal saya udah buka dua bungkus loh," ucap Sandra sambil menoleh ke arah Bi Narsih yang duduk di kursi makan.
"Ngga, Nyonya. Sekarang lambung Bibi udah ngga kuat mencerna mie," jawab Bi Narsih, tersenyum ramah. Usianya memang sudah paruh baya, dan tubuhnya tak lagi sekuat dulu.
Sandra menghela napas pelan. "Yah, mana Mas Vano juga pasti ngga bakalan mau makan mie instan lagi. Sekarang aja masih ngurung diri di ruang kerja."
"Kalau gitu, makan bareng Neng Almi aja, Nyonya," saran Bi Narsih.
Sandra ragu sejenak. "Tapi emang dia mau makan berdua bareng saya, Bi?"
"Biasanya sih kalau mie, dia ngga pernah nolak. Apalagi hujan gini." jawab Bi Narsih.
Sandra tersenyum singkat. "Yasudah, nanti kalau sudah matang, tolong panggil Almi ya, Bi."
"Siap, Nyonya."
Sandra berjalan mendekat dan ikut duduk di meja makan bersama Bi Narsih. Hujan di luar terus mengguyur deras, menciptakan irama yang menenangkan di balik jendela dapur.
Sandra memandang cangkirnya sejenak, lalu membuka suara dengan sedikit ragu. "Bi... saya boleh nanya sesuatu?"
Bi Narsih menoleh. "Tentu, Nyonya. Mau nanya apa?"
Sandra menggigit bibirnya pelan, lalu berkata, "Tentang Mamah kandung Almi. Larisa Mauren. Orangnya gimana, Bi?"
Bi Narsih terdiam. "Beliau baik, Nyonya. Sama seperti Nyonya." Ucap Bi Narsih dengan jeda seolah ragu melanjutkan.
"Hanya saja beliau sibuk sekali. Setiap hari ngurus butik, kadang ke luar kota, kadang juga ke luar negeri buat urusan fashion gitu Bibi ngga terlalu ngerti. Cuma setau bibi, beliau itu desainer, dan cukup terkenal waktu itu."
Sandra mengangguk pelan, karena ia sendiri juga cukup tahu mengenai hal itu.
"Terus kalau di rumah dia gimana, Bi?"
KAMU SEDANG MEMBACA
ALMIKA [On Going]
Novela Juvenil"Dan Anehnya saat bercanda dengan lo, gue lebih banyak sayang nya daripada ketawanya" --- Ini kisah tentang Almi, gadis tomboy yang penuh dengan kekocakan, Almi ini sulit sekali untuk diajak serius.Saat ada seseorang yang bertanya siapa nama panjang...
![ALMIKA [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/252251363-64-k900451.jpg)