Manusia memang sering berubah suatu hari kamu penting di hidupnya, dan pada hari berikutnya kamu tidak lagi berharga di matanya.
_Almika
.......
Musik berdentum keras, lampu strobo menari di langit-langit klub malam yang penuh sesak. Aroma alkohol, asap rokok, dan parfum bercampur menjadi satu. Di sudut bar, seorang pria muda dengan mata sayu dan tubuh limbung bersandar pada meja.
"Satu..." gumamnya pelan.
"Satu gelas lagi," ucap Alka dengan suara serak pada bartender, tangannya gemetar saat menunjuk botol vodka di rak belakang.
Bartender ragu, menatap Alka yang sudah jelas kehilangan kendali. Wajahnya memerah, keringat bercucuran, dan mulutnya meracau tak jelas. Namun sebelum gelas itu sampai ke tangan Alka, sebuah tangan menepisnya keras.
Prangg!
Gelas jatuh ke lantai, pecah berantakan.
"Cukup, Al!" seru Eza, matanya tajam menatap sahabatnya yang nyaris tak dikenali.
Alka menoleh lambat, matanya kosong. "Eza... Lo ngapain di sini?" katanya sambil tersenyum miring, tubuhnya hampir jatuh dari kursi.
"Sejak kapan lo minum beginian, hah?" Raka muncul dari belakang Eza, nadanya tinggi, penuh amarah.
Alka mengangkat tangannya, menunjuk Raka dengan gerakan tak stabil. "Bukan urusan lo, anjing..." katanya, lalu tertawa kecil, tawa yang terdengar menyedihkan.
Raka mengepalkan tangan, mencoba menahan emosi. Ia tahu Alka sedang hancur, tapi melihat sahabatnya seperti ini membuat dadanya sesak.
"Pulang sekarang," ucap Raka dingin.
Alka tertawa lagi, kali ini lebih keras. "Kalau gue gak mau, lo mau apa? Mau pukul gue?"
"Lo jangan ngerusak diri lo cuma karena cewek sialan itu, bego!" bentak Raka.
Kata-kata itu memicu ledakan dalam diri Alka. Ia berdiri, meski hampir jatuh, lalu menarik kerah baju Raka.
"Ngomong apa lo tadi? Cewek gak jelas? Hah?" teriaknya, napasnya berat, mata merah.
"ASAL LO TAU, MAWAR ITU CEWEK GUE! ANJING!" teriak Alka, tangannya gemetar, wajahnya penuh amarah dan luka.
Bugh!
Satu dari pukulan Raka mendarat di wajah Alka, membuatnya tersungkur ke lantai. Darah mengalir dari bibirnya, tapi Alka hanya tertawa, menyeringai tak jelas.
Bughhh!
Pukulan kedua menyusul, namun Alka tetap tak melawan. Ia hanya menatap Raka dengan mata kosong.
"Rakk, udah Rak!" Okta datang, menarik Raka menjauh.
Alka tertawa pelan, duduk bersandar di lantai. "Lo gak mau mukulin gue juga, Ta?" katanya pada Okta, sebelum akhirnya tubuhnya ambruk, tak sadarkan diri.
Suasana semakin runyam, orang-orang yang ada di klub tersebut kini mulai mengalihkan perhatiannya pada mereka.
"Lo gila apa, Alka itu temen kita!" ucap Eza, emosinya memuncak.
"Sorry... Gue cuma gak tahan lihat dia kayak gitu," jawab Raka, suaranya pelan.
Okta menghela napas. "Udah, kita bawa dia pulang sekarang."
Mereka bertiga membawa Alka keluar dari klub, tubuhnya lunglai, wajahnya penuh luka dan bau alkohol menyengat.
Di rumah, Arini, Bunda Alka, menangis saat melihat anaknya dibopong masuk dalam keadaan kacau. Matanya sembab, tangannya gemetar.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALMIKA [On Going]
Novela Juvenil"Dan Anehnya saat bercanda dengan lo, gue lebih banyak sayang nya daripada ketawanya" --- Ini kisah tentang Almi, gadis tomboy yang penuh dengan kekocakan, Almi ini sulit sekali untuk diajak serius.Saat ada seseorang yang bertanya siapa nama panjang...
![ALMIKA [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/252251363-64-k900451.jpg)