32 | Obrolan Laki-laki

37 23 1
                                        

Happy Reading 😉

...

Udara pagi itu terasa segar, dengan dingin tipis yang menyentuh kulit seperti sapaan lembut. Langit masih berwarna kelabu, dan aspal basah memantulkan langkah-langkah ringan para murid yang mulai berdatangan. Suara sapaan, tawa kecil, dan derit sepatu menciptakan irama pagi yang khas di halaman sekolah.

Di antara keramaian itu, Almi berdiri sebentar di samping motornya. Ia membiarkan angin pagi menyapu pelan wajahnya, matanya menatap murid-murid lain yang sibuk dengan dunia masing-masing. Ada yang bercanda, ada yang terburu-buru, dan ada pula yang hanya diam seperti dirinya.

Setelah menarik napas panjang, Almi melangkah pelan menuju toilet. Sudah jadi rutinitasnya mengganti celana jeans dengan rok sekolah yang hanya sebatas lutut. Ia tahu, mengendarai motor dengan rok seperti itu bukan pilihan yang bijak.

Di dalam toilet, ia berdiri di depan cermin, merapikan cepolan rambutnya yang sedikit berantakan karena helm. Tak lama kemudian, ia keluar dengan langkah ringan, siap menghadapi hari.

"Baru datang juga," sapa Almi ketika melihat sosok yang familiar.

Alka menoleh, tersenyum kecil. "Iya, baru aja mau ke kelas."

Tatapan Alka tak lepas dari Almi, membuat gadis itu mengernyit. "Kenapa lihatin gue kayak gitu?"

Alka mengangkat alis, pura-pura bingung. Almi langsung meraba rambutnya, memastikan cepolannya sudah rapi. "Ada yang aneh ya?"

"Cantik," ucap Alka sambil tersenyum tipis.

Almi menaik-turunkan alis dengan gaya percaya diri. "Dari lahir, baru nyadar ya?"

Alka terkekeh. "Baru sekarang kelihatan maksimal."

"Efek air wudhu ini," jawab Almi setengah bercanda sambil mengangkat dagu, seolah ada cahaya surgawi memancar dari wajahnya.

Alka terkekeh kecil.

"Udah ah, Kak Alka. Gue mau ke kelas duluan," ucap Almi, mulai melangkah sambil menahan senyum yang mulai mengembang.

"Bareng aja, kan searah," sahut Alka cepat, lalu meraih tangan Almi dengan santai dan mensejajarkan langkah mereka.

Almi menoleh, setengah protes. "Eh, tangan gue dingin loh."

"Sama gue juga. Makanya biar anget, pegang aja terus," jawab Alka dengan nada menggoda.

Almi menggeleng pelan, namun tak melepaskan genggaman itu. Mereka berjalan berdampingan. Saat hampir sampai di depan kelas, tiba-tiba terdengar suara deham kecil.

Ehemm

Almi menoleh dan langsung mendapati Sabil berdiri di sana, tangan bergandengan dengan Raka, kekasihnya. Ekspresinya seperti guru BK yang baru saja menangkap murid bolos.

"Masih pagi udah romantis banget sih," celetuk Sabil sambil mengangkat alis, matanya menyorot tangan Almi dan Alka yang masih saling menggenggam.

Almi spontan melepaskan tangan Alka, tapi sudah terlambat. Sabil melihat semuanya.

"Ckk, lo juga sama pegang tangan orang, Bil. Walaupun kadang orangnya emang kaya kulkas." ucap Alka santai, yang dibalas dengan tatapan tajam dari Raka.

Sabil tertawa, "Beda dong. Gue udah sah secara perasaan."

Raka di sampingnya cuma tersenyum miring merasa puas, mendengar ucapan dari kekasihnya itu. Kalimat yang seolah pas dan sengaja dilempar ke arah Alka.

Almi menghela napas panjang. "Terserah lo. Bil, udah mendingan sekarang lo ikut gue ke kelas," ucapnya sambil langsung menarik tangan Sabil, menjauhkan gadis itu dari Raka begitu saja.

ALMIKA [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang