Happy Reading 😉
.
"Almi itu adik sepupu gue."
"Arggghhh!" Alka mencak rambutnya, frustasi. Kata-kata itu terus terngiang di kepalanya, menghantam kesadarannya seperti palu godam.
Dengan langkah cepat, ia meninggalkan taman belakang sekolah. Nafasnya berat, pikirannya kacau. Ia berjalan menyusuri koridor, dan beberapa murid sempat melirik ke arahnya.
Penampilannya sedikit berantakan dua kancing bagian atas kemeja sekolah terbuka, memperlihatkan kaos hitam di dalamnya. Luka lebam menghiasi pelipis kanan, dan ada goresan kecil di sudut bibirnya.
Alka masuk ke dalam kelasnya yang nampak kosong karena masih jam istirahat, para murid lain pasti sedang menghabiskan waktu mereka di kantin. Alka duduk di pangku pojok lalu bersandar di dinding. Tangannya mengepal, bukan lagi marah melainkan karena kecewa. Pada dirinya sendiri.
"Apa yang barusan gue lakuin?" gumamnya pelan.
Ia mengingat tatapan Almi saat membentaknya. Tatapan yang selama ini tak pernah ia lihat dari gadis itu, penuh luka dan ketegasan.
Alka menunduk, menghela napas panjang, "Apa sekarang gue akan kehilangan dia?"
🍁🍁🍁
Almi dan Raka tengah duduk berdampingan pada kursi tribun lapangan, membiarkan angin siang menyapu wajah mereka yang masih menyisakan jejak ketegangan.
Almi melirik Raka sekilas. Suasana terasa canggung, meski tak sepenuhnya asing. Ia masih mencoba menata perasaannya setelah pertengkaran hebat antara Alka dan Raka.
"Kenapa kita ke sini?" tanya Almi, memecah keheningan.
Raka menghela napas, menatap lurus ke depan. "Kalau ke kantin, terlalu banyak orang."
Almi mengangguk pelan. "Tapi kita bisa ke UKS. Lebam di muka lo harusnya diobatin."
Raka menyentuh pipinya yang membiru. "Ngga usah. Nanti juga sembuh sendiri."
Almi terdiam. Tapi tetap saja, melihat luka itu membuat hatinya tak tenang. Ia merasa bersalah, meski tahu bukan dia yang memukul.
Sejujurnya, duduk berdua dengan Raka seperti ini membuatnya canggung. Meski kini ia tahu bahwa Raka adalah kakak sepupunya, hubungan mereka belum cukup dekat untuk membuatnya nyaman berbicara berdua. Selama ini, Raka hanya ia kenal sebagai pacar sahabatnya-Sabil.
"Masih ada hal yang mau gue obrolin ke lo, Mi," ucap Raka, suaranya tenang tapi terdengar berat.
"Gue sengaja pilih tempat ini, karena walaupun terbuka, orang-orang nggak terlalu fokus ke kita. Mereka sibuk sama urusan masing-masing."
Almi menatap sekelilingnya dan ternyata memang benar meskipun ada beberapa murid namun mereka tengah asyik dengan kegiatannya masing-masing.
Dan ucapan Raka itu mengingatkannya pada satu momen penting, saat Alka mengajaknya ke tempat ini untuk bicara dari hati ke hati. Saat itu, Alka menyatakan perasaannya dengan jujur, dan kini Almi baru menyadari alasan di balik pilihan tempat itu.
"Ohhh, ternyata itu alasannya," gumamnya pelan.
Raka menoleh. "Kenapa? Pernah ada yang ajak lo ke tempat ini juga?"
Almi menarik napas dalam. "Iya, dan orang itu adalah sahabat sekaligus orang yang mukul lo tadi."
Raka tersenyum kecil. "Alka, ternyata."
"Hmmm." Almi mengangguk, lalu menghembuskan napas panjang.
"Gue sebenarnya masih nggak percaya bahwa ternyata kita ini kakak-adik sepupu."
KAMU SEDANG MEMBACA
ALMIKA [On Going]
Roman pour Adolescents"Dan Anehnya saat bercanda dengan lo, gue lebih banyak sayang nya daripada ketawanya" --- Ini kisah tentang Almi, gadis tomboy yang penuh dengan kekocakan, Almi ini sulit sekali untuk diajak serius.Saat ada seseorang yang bertanya siapa nama panjang...
![ALMIKA [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/252251363-64-k900451.jpg)