🍁🍁🍁
Suasana kelas XI IPA 2 sungguh hening, sunyi, dan terasa mencekam. Bukan karena tidak ada murid didalamnya, namun karena seorang guru berbadan gempal sedang mengajar di kelas tersebut, siapa lagi kalau bukan Madam Beti.
Okay, mari kita deskripsikan tentang beliau. Madam Beti adalah seorang guru fisika, seperti yang dikatakan sebelumnya ia memiliki tubuh gempal, tatapan tajam, serta terkenal sebagai guru yang memiliki aura menyeramkan melebihi guru BP di SMA Garuda ini.
"Bu Yuli cuti untuk beberapa bulan ke depan, jadi untuk pelajaran fisika kelas ini sekarang akan diajar oleh Ibu." Ucap Madam Beti memberikan informasi.
"Saya harap kalian dapat belajar dengan serius selama diajar oleh saya. Kalian paham?" Ucapnya lagi.
"PAHAM." jawab murid serempak.
Tidak ada seorangpun yang berani kepadanya, bahkan konon katanya Pak Permana yang notabenya kepala sekolah di SMA ini pun, takut kepada Madam Beti.
"Hey coba kamu." Tunjuk Bu Beti tiba-tiba.
"Saya, Bu?" Tanya Almi, menunjuk pada dirinya.
"Iya kamu yang rambutnya diikat, coba sebutkan materi minggu kemarin yang dari Bu Yuli sampai mana?"
"Mampus." Ucap Almi dalam hati, matanya melirik kearah Sabil yang merupakan sahabat sekaligus teman sebangkunya itu. Mengerti akan maksud Almi, dengan gerakan perlahan Sabil menyodorkan buku catatannya, untuk dibacakan Almi.
"Hey cepetan, bacakan apa materinya." Ulang Bu Beti dengan nada sedikit tinggi dan penuh penekanan.
Bukan hanya Almi yang merasa tegang namun semua yang ada di kelas tersebut turut merasakan aura ketegangannya.
"Eeu sebentar bu, materinya terkait. Fluida, Bu."
"Terkait, definisi fluida, jenis fluida, serta contoh fluida, Bu." Jawab Almi.
"Coba jelaskan sedikit terkait definisi fluida nya, saya mau dengar?"
"Jadi fluida itu merupakan zat yang dapat berubah secara kontinu atau terus menerus, karena fluida ialah segala jenis zat yang dapat mengalir dalam wujud gas dan cairan." Jelas Almi, mantap.
"Bagus, siapa nama kamu?" Ucap Bu Beti.
"Almi Aqila, Bu."
"Okey, terima kasih penjelasan." Ucap guru tersebut, dan langsung berjalan kearah papan tulis tulis, menuliskan judul materi yang akan dibahas hari ini.
"Lain kali kamu mencatat di buku sendiri, jangan pakai catatan orang lain." Ucapnya, membuat Almi sukses membulatkan matanya.
"Baik, bu." Ucap Almi kikuk.
Sabil yang mendengar itu pun langsung menahan tawanya. "Apa gue bilang, rajin-rajinlah anda mencatat." Bisiknya.
🍁 🍁 🍁
Bila dulu nongkrong di meja pojok kantin itu hanya ada empat orang laki-laki yang tak lain ialah Alka, Raka, Okta dan Juga Eza. Berbeda dengan kali ini, personil mereka itu bertambah dengan adanya Mawar, gadis itu selalu bergabung dengan mereka kemanapun mereka pergi, atau lebih tepatnya gadis itu selalu bersama Alka.
"Hari ini giliran lo ya, Al." Tunjuk Eza pada Alka, sedangkan yang ditunjuk hanya mengedikan bahunya.
"Giliran apa?" Tanya Mawar.
"Pesan makanan, biasanya kita giliran gitu." Jelas Okta membuat Mawar mengganguk.
"Eh kita kan udah nambah personil nih, gimana kalo lo aja Maw yang pesan makanannya." Ucap Eza.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALMIKA [On Going]
Teen Fiction"Dan Anehnya saat bercanda dengan lo, gue lebih banyak sayang nya daripada ketawanya" --- Ini kisah tentang Almi, gadis tomboy yang penuh dengan kekocakan, Almi ini sulit sekali untuk diajak serius.Saat ada seseorang yang bertanya siapa nama panjang...
![ALMIKA [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/252251363-64-k900451.jpg)