40 | Misunderstand

18 6 0
                                        

Happy Reading 😉
.
.
.

Tak semua tangan yang kita ulurkan akan digenggam dengan hangat. Ada yang menolak, ada yang mencurigai, bahkan ada yang melukai. Padahal kita hanya ingin menjadi pelipur, bukan pelaku. Dan itu bukan berarti kita salah, itu cuma bukti bahwa manusia memang sebercanda itu.
_ALMIKA

-----

Almi melangkah cepat menyusuri lorong sekolah, wajahnya menunduk, berusaha menghindari tatapan orang-orang yang lewat. Seragam putihnya yang basah membuatnya tak nyaman, dan ia hanya ingin segera sampai di toilet.

Dari arah berlawanan, suara Raka memanggilnya.

"Almi," ucap Raka, menghampiri dengan langkah cepat. Di tangannya tergenggam seragam kemeja putih yang terlipat rapi.

Almi menoleh, sedikit terkejut. "Kak Raka?"

"Ini," ucap Raka, menyerahkan baju itu. "Baju gue masih bersih. Ukurannya mungkin agak longgar, tapi setidaknya nggak tembus pandang."

Almi langsung menunduk, menyadari bahwa bagian depan seragamnya memang mulai terlihat transparan. Refleks, ia menutupi bagian dadanya dengan tangan, lalu cepat-cepat meraih baju yang disodorkan Raka.

"Okay, makasih," ucapnya singkat, suaranya pelan.

Almi menatap baju di tangannya. Awalnya ia berniat mengeringkan seragamnya dengan pengering tangan di wastafel, tapi kini merasa sedikit lega. Meski ia tak tahu akan seperti apa penampilannya nanti, setidaknya ia tak perlu merasa risih.

Raka hanya membalas Almi dengan anggukan singkat, lalu berbalik. Namun langkahnya terhenti ketika seseorang berdiri di hadapannya, menghadang jalan.

"Gue ngga tau lo seakrab itu sama Almi, sampai pinjemin dia baju," cetus Alka, yang sepertinya melihat interaksinya dengan Almi.

Raka mengangkat alis, lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Ya karena ngga semua hal harus lo tau, Al."

"Sejak kapan?" Tanya Alka.

Raka tersenyum tipis, seolah tak terganggu. "Lo taunya sejak kapan?"

Alka mendekat, jarak di antara mereka makin sempit. "Apa maksud lo dengan bersikap seperti itu sama Almi?"

Raka menghela napas pelan, lalu menatap Alka dengan sorot mata yang sulit ditebak. "Gue bantu Almi karena gue mau. Cuma niat baik. Sama kayak lo bantuin Mawar tadi."

Alka terdiam sejenak. Matanya berkedip cepat, seolah mencoba menahan sesuatu. Tangannya mulai mengepal, rahangnya mengeras.

Raka melanjutkan, suaranya tetap tenang, tapi ada nada tajam yang menyelip. "Tapi bedanya, gue nggak pernah ngerasa perlu jelasin ke orang lain soal niat baik gue ini."

Alka akhirnya bicara, suaranya rendah namun penuh tekanan. "Lo pikir lo lebih baik dari gue?"

Raka menatapnya, lalu mengangkat bahu. "I never said that. But if that’s what you think of me... I guess I don’t mind."

Setelah mengatakan itu Raka menepuk bahu Alka dan pergi meninggalkannya yang masih berdiri di tempat. Dengan wajah yang penuh amarah, tapi juga kebingungan yang tak bisa ia sembunyikan.

🍁 🍁 🍁

"Nah, jadi dapat dikatakan bahwa asam merupakan zat yang melepaskan ion proton (H⁺) dalam larutan air. Sedangkan basa adalah zat yang melepaskan ion hidroksida (OH⁻). Asam dan basa ini dapat bereaksi satu sama lain untuk membentuk garam dan air, yang disebut reaksi netralisasi," jelas Bu Ratna, guru kimia mereka, dengan suara monoton yang bergema di ruang kelas.

ALMIKA [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang