Happy Reading
😉
.
Malam ini berbeda. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang terasa seperti bertahun-tahun, makan malam di rumah Almi berlangsung tanpa ketegangan. Tak ada suara meninggi, tak ada sindiran halus, tak ada tatapan dingin. Hanya percakapan ringan, tawa kecil, dan kehangatan yang terasa asing tapi menyenangkan.
Setelah piring-piring kosong tersisa di meja, Vano bangkit dari duduknya. Ia menatap Almi sejenak, lalu berkata dengan suara tenang, "Almi, ke ruang kerja Ayah sebentar, kita berdua perlu bicara."
Almi terdiam. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Ia menoleh ke arah Mamah Sandra yang sedang membereskan meja.
"Mamah Sandra, Ayah mau ngomong apa ya?" tanyanya pelan, seolah berharap ada petunjuk.
Sandra tersenyum, lembut tapi tak memberi jawaban. "Loh, kok malah tanya Mamah. Sudah sana, sekalian tolong bawain kopi ini ya," ucapnya sambil menyerahkan cangkir berisi kopi hangat.
"Mamah Sandra nggak mau ikut?"
"Nggak, karena Mamah rasa itu urusan kalian berdua."
Almi menghela napas panjang. Ini akan jadi pertama kalinya ia berbicara empat mata dengan ayahnya setelah dua tahun lamanya. Dua tahun yang penuh jarak, diam, dan luka yang tak pernah benar-benar dibicarakan.
Dengan langkah pelan, Almi menuju ruang kerja ayahnya. Ia mengetuk pelan sebelum masuk.
"Ini, Yah. Dari Mamah Sandra," ucapnya sambil meletakkan cangkir kopi di meja.
Vano menoleh dari laci meja yang sedang ia buka. "Oh ya, terima kasih," jawabnya singkat, lalu kembali membongkar laci.
Beberapa detik kemudian, Vano mengeluarkan sebuah map cokelat yang sudah agak kusam.
"Ini," katanya, menyerahkan map itu ke Almi.
"Dan maaf. Selama ini Ayah menyembunyikannya dari kamu. Ayah kira itu cara terbaik. Tapi ternyata, cara Ayah ini justru bikin kamu makin jauh. Makin sakit."
Almi menatap map itu. Tangannya gemetar saat membuka isinya-berkas perceraian. Nama Larisa tertulis jelas di sana. Bundanya.
"Ayah nggak tahu kalau selama ini kamu masih merindukan Bunda. Masih berharap."
"Udah nggak lagi, Yah," potong Almi pelan, tapi suaranya tegas.
Vano terdiam. Matanya menatap putrinya, mencoba membaca perasaan yang tersembunyi di balik wajah tenangnya itu.
"Dulu iya," lanjut Almi,
"Dulu aku nunggu. Nunggu Bunda pulang, nunggu Ayah cerita, nunggu semuanya balik kayak dulu. Tapi nggak pernah kejadian."
"Maaf kalau ayah sama bunda ternyata tidak bisa menjadi orang tua yang baik buat kamu, dan buat kamu kecewa."
"Jangan minta maaf, Yah. Almi memang kecewa tapi ini juga bukan salah ayah, kita sama-sama ditinggalkan." Jawab Almi.
Almi menarik napas dalam, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih mantap, "Setelah ini, Almi nggak mau lagi membicarakan tentang masalah ini. Rasanya udah cukup."
Vano mengangguk pelan, menunggu kata-kata berikutnya.
"Lebih baik kita berhenti menoleh ke belakang. Yang udah terjadi, biarlah jadi bagian dari masa lalu. Almi pengin mulai hidup yang baru, Yah."
"Yang nggak penuh luka, nggak penuh tanya."
Almi tersenyum tipis, "Kalau terus nyimpan harapan yang nggak pernah datang, kita cuma makin capek sendiri. Sekarang Almi cuma pengin bahagia, meski jalannya beda dari yang dulu."
KAMU SEDANG MEMBACA
ALMIKA [On Going]
Teen Fiction"Dan Anehnya saat bercanda dengan lo, gue lebih banyak sayang nya daripada ketawanya" --- Ini kisah tentang Almi, gadis tomboy yang penuh dengan kekocakan, Almi ini sulit sekali untuk diajak serius.Saat ada seseorang yang bertanya siapa nama panjang...
![ALMIKA [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/252251363-64-k900451.jpg)