Happy Reading 😉
.
Alka berlari kecil ke arah teman-temannya yang sedang duduk di kursi plastik putih di pinggir lapangan. Sebagai kapten tim basket SMA Garuda, ia baru saja menyelesaikan briefing singkat dengan panitia pertandingan. Beberapa menit lagi, babak final akan dimulai sore ini.
Alka duduk untuk mengganti sepatunya. Teman-temannya juga mulai bersiap. Kaos jersey maroon yang mereka kenakan tampak kontras dengan warna lapangan, seolah menegaskan identitas dan kebanggaan mereka sebagai tim SMA Garuda.
"Al, lawan kita kali ini dari SMA mana?" tanya Eza sambil merapikan kaosnya.
"SMA Wijaya Dua," jawab Alka tanpa menoleh, masih sibuk dengan tali sepatu.
"Gila, gue denger-denger anak SMAWI Dua tuh nih ya—"
"Gak usah gosip lo," potong Raka cepat, membuat Okta langsung berdecak kesal.
"Bener, tahan dulu, Ta. Kata ibu gue, pantang banget kalau mau tanding sambil gosipin lawan," celetuk Eza sambil mengambil botol minum dari tasnya.
"Seriusan ibu lo bilang gitu?" tanya Okta, penasaran. Ia tahu, kalau Eza sudah menyebut ibunya, biasanya itu bukan omong kosong.
"Serius gue," jawab Eza sambil mengangguk mantap.
"Wahhh, sorry deh. Untung gue belum sempat bilang apa-apa," ucap Okta sambil menutup mulutnya dengan dramatis.
Raka yang sedari tadi diam-diam mendengarkan percakapan mereka berdua pun kemudian menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan kedua sahabatnya yang kadang absurd itu.
"Ngomong-ngomong, Bara mana?" tanya Alka, kini sudah berdiri dan mulai melakukan pemanasan ringan.
"Eh iya, gue juga baru nyadar. Tuh anak kemana ya?" ucap Eza sambil menengok ke arah pintu masuk lapangan.
Alka melirik jam di ponselnya. Sepuluh menit lagi pertandingan dimulai. Sorakan penonton mulai terdengar, meski tak sepadat kemarin. Hanya murid-murid dari SMA Garuda sebagai tuan rumah dan beberapa dari SMA Wijaya Dua yang hadir.
"Handphone dia nggak aktif," gumam Alka, nada suaranya mulai khawatir.
"Lahh, itu dia!" seru Okta sambil menunjuk ke arah pintu masuk.
Bara muncul, berlari dengan langkah mantap dan santai. Namun yang mencuri perhatian Alka bukan hanya Bara, tapi sosok Almi yang berjalan bersamanya. Mereka sempat berbicara singkat sebelum berpisah. Almi menuju tribun penonton, sementara Bara berlari ke arah tim.
Alka menatap Bara yang kini sudah semakin dekat, napas laki-laki itu masih teratur. Ia menyapa Alka dengan santai, seperti tak ada yang berubah.
"Sorry, gue datang agak mepet." ucap Bara sambil menepuk bahu Alka ringan.
Alka hanya mengangguk singkat. "Nggak apa. Yang penting lo datang."
Jawabannya datar, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia masih kapten tim. Bahwa di lapangan, perasaan pribadi harus disimpan rapat-rapat. Mereka satu tim, dan hari ini adalah final.
Bara tak banyak bicara lagi. Ia langsung bergabung dengan yang lain, mulai melakukan pemanasan ringan.
Alka menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir rasa tak nyaman yang masih menggantung.
Dan saat itu, suara peluit panjang terdengar. Yang menandakan bahwa agar setiap pemain dari kedua tim mulai memasuki lapangan. Sorakan penonton semakin riuh.
"BERI SEMANGAT!!"
"UUU SEMANGAT KAKA HORE!!"
"WIJAYA DUA, JENG JENG JENG JENG."
KAMU SEDANG MEMBACA
ALMIKA [On Going]
Fiksi Remaja"Dan Anehnya saat bercanda dengan lo, gue lebih banyak sayang nya daripada ketawanya" --- Ini kisah tentang Almi, gadis tomboy yang penuh dengan kekocakan, Almi ini sulit sekali untuk diajak serius.Saat ada seseorang yang bertanya siapa nama panjang...
![ALMIKA [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/252251363-64-k900451.jpg)