42 | Di Luar Dugaan

28 2 0
                                        

Happy Reading 😉

.


"Jadi sekarang, motor kamu di rumah Bara? Teman kamu itu?" tanya Vano sambil menyendokkan lauk pauk pada piringnya.

Sinar matahari menyusup lewat celah tirai, menyinari meja makan yang sudah tertata rapi.

"Iya, Yah. Kemarin Almi minta Bara balikin nya di sekolah aja."

"Yasudah, hari ini ayah antar kamu ke sekolah," ucap Vano sambil mengangguk mantap.

Almi tersenyum kecil dan mengangguk.

Sandra yang duduk di seberang mereka, menyisip teh hangatnya lalu bertanya, "Terus keadaan ibunya Bara gimana, Mi?"

Almi meletakkan sendoknya sebentar. "Kemarin sih masih di ruang ICU, tapi kondisinya udah stabil."

Sandra mengangguk pelan. "Syukurlah."

Vano menimpali sambil menyeka mulutnya dengan tisu, "Kalau ada waktu, kita jenguk bareng. Tapi tunggu kabar dari Bara dulu, jangan sampai ganggu."

Almi mengangguk lagi, kali ini lebih pelan. Ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya, tapi belum sempat ia utarakan.

Vano menaruh gelasnya dan berkata, "Kemarin malam Alka juga sempat ke sini."

Almi langsung menoleh. "Kak Alka ke sini?"

"Iya. Katanya dia mau ketemu kamu. Tapi ayah bilang kamu lagi keluar."

"Jam berapa dia datang?"

"Ngga lama setelah kamu pergi. Sekitar jam tujuh malam."

Almi mengernyit. "Terus gimana?"

"Ya ngga gimana-gimana. Alka pulang lagi. Padahal Mamah Sandra udah sempat suruh dia masuk dulu. Tapi dia nolak," jelas Vano sambil melirik istrinya.

Sandra mengangguk membenarkan. "Iya, Mamah sempat suruh masuk dulu. Tapi dia malah bilang mau  langsung pamit aja."

Almi termenung. Jadi sebelum ia ke rumah sakit malam itu, Alka sempat datang. Tapi kenapa saat mereka bertemu di lorong rumah sakit, laki-laki itu tidak mengatakan apapun?

Sandra memperhatikan raut wajah Almi. "Ada apa, Mi?"

Almi tersentak kecil. "Oh... nggak. Nggak apa-apa." jawabnya dan kembali menyuap sarapannya.

🍁🍁🍁

Gea baru saja tiba di sekolah. Hari ini ia datang lebih awal dari biasanya karena jadwal piket jatuh padanya dan Sabil. Dengan langkah lebar dan semangat yang sedikit dipaksakan, ia bergegas menuju kelas.

Seperti yang sudah ia duga, kelas masih kosong. Di gerbang tadi pun hanya ada beberapa murid yang baru datang, dan tidak satu pun dari mereka teman sekelasnya.

Gea membuka pintu kelas, meletakkan tasnya di kursi, lalu mengambil sapu dari pojok ruangan.

"Haduhh, Sabil mana sih? Harusnya dia udah dateng juga kan," gumam Gea sambil mulai menyapu lantai yang dipenuhi debu tipis.

Setelah selesai menyapu, ia beralih ke papan tulis. Dengan kain lap yang sudah dibasahi, ia mulai menghapus sisa-sisa tulisan dari hari sebelumnya. Baru separuh papan bersih, suara langkah kaki terdengar dari arah koridor.

Gea menoleh. Seorang laki-laki berseragam abu-abu berdiri di ambang pintu.

"Kak Raka?" Gea mengernyit heran. "Ngapain ke sini?"

"Oh ya, Sabil mana?" tanyanya langsung.

"Itu alasan gue ke sini. Sabil sakit. Dia nggak bakal masuk hari ini." ucap Raka.

ALMIKA [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang