Bonus terakhir

96 24 17
                                        

Suara desir ombak yang menyapu pasir putih tampak melegakan bagi Gisella yang kini memperhatikan gadis kecil yang bermain dengan tumpukan pasir, membentuk sebuah istana kecil layaknya ia sang gadis menjadi ratu di negeri dongeng buatannya.

Ia tersenyum simpul, takala gadis kecil yang berumur lima tahun itu berlarian saat ada seorang wanita yang umurnya tak jauh beda darinya kini ikut berlarian mengejar gadis kecil itu dengan raut sedikit marah. Dari kejauhan terdengar samar perdebatan kedua perempuan yang persis mirip wajahnya, bak pinang di belah dua. Yang akhir-akhir ini gemar sekali mengusik kedamaiannya.

"Ma, lihat!" ucap gadis kecil itu hendak mengadu padanya, atas warna merah di tangan akibat cubitan dari sang ibu yang kini ikut menghampiri dengan raut wajah bersalah, bercampur aduk dengan kemarahan.

"Bunda ngelakuin kekerasan ke aku! Bunda udah gak sayang aku lagi" ucapnya lagi sembari menangis tersedu-sedu, memeluk erat pinggul Gisella, meminta perlindungan atas apa yang ia alami dua menit lalu. Toh keadilan harus di tegakan di rumah mereka, seperti janji Gisella atas kedua orang ini.

"Kamu jangan bela dia terus, kamu gak tahu ini udah jam berapa? Langit bentar lagi gelap, ini bocah masih main air daritadi" ungkap Ninda kembali penuh amarah sembari berdecak pinggang, hendak menarik kembali putrinya, namun Gisella lebih dulu menahan jemarinya.

"Boleh aku ngobrol sama anakku dulu?" pintanya dengan lembut,

"Dia anakku juga, Kak?" ucap Ninda dengan nada tak terima.

Gisella mengangguk setuju, lalu menghela nafas dengan berat "Baik, aku ralat. Anak kita" setelah mendapat persetujuan dari Ninda, ia pun menarik lembut tangan putrinya untuk sedikit menjauh, lalu duduk di sebuah batang pohon yang terbentang diantara pasir.

"Bunda sayang sama kamu, dia marah karena kita udah terlalu lama main air dari tadi. Kan tadi janji mau langsung pulang buat dinner dirumah tante Windy, kan?"

Putrinya mengangguk pelan, sedikit sadar atas realita yang ada. Toh ketiganya berjanji untuk merayakan hari lahir sahabat bundanya itu malam ini atas permintaan dirinya sendiri bulan lalu. Sebab kehadiran Windy bak ibu kedua untuk Jinny.

"Tapi Bunda kasar ke Jinny, gak suka. Mama aja gak pernah bentak Jinny"

"Mama ngerti kemarahan kamu, tapi mami boleh tau gak tadi Jinny ngomong apa sebelum Bunda cubit kamu?" tanya nya dengan nada selembut mungkin sembari mengelus rambut putrinya tersebut, menatap tiap perubahan raut wajah cantik sang anak dengan sebaik mungkin.

Putrinya menghembuskan nafas dengan berat, dengan mata yang kembali berair ia pun kembali memeluk Gisella sembari bercerita atas seluruh kejadian, dimana Ninda yang lebih dulu mengajak sang putri untuk menepi dan membasuh diri, namun Jinny merasa kalau istana pasir yang ia bangun harus tetap dijaga sebab ombak sudah mulai mengalir kencang, tentu ia takut kalau semua usahanya membangun kerajaan selama dua jam tadi akan berakhir sia-sia. Mau dibawa kemana rakyat-rakyat kecil yang harus dia rawat dengan sepenuh hati itu? Sebagai ratu yang baik, tentu Jinny berhak menjaga seluruh asetnya.

"Aku kesal, jadi aku bilang benci jadi anak Bunda, mau jadi anak Mama aja karena gak pernah marahin aku." ucapnya dengan nada penuh penyesalan, sebab mengingat betapa kecewanya raut wajah sang bunda tadi saat ia mengatakan hal barusan. Ia pun kembali menangis tersedu-sedu dengan tubuh yang bergetar cukup hebat.

Gisella mendesah pelan, jelas dia tahu titik permasalahan yang ada. Dengan berat hati ia menarik kedua tangan sang putri lalu menatap lekat ke arahnya,

"Kali ini Mama gak bisa bela kamu, karena kalau Mama jadi Bunda pun, juga bakal cubit kamu. Bunda pasti sedih, dari awal Jinny lahir Bunda yang paling bahagia, nama kamu juga Bunda yang pilihin, karena dia bangga banget bisa lahirin kamu langsung dari perutnya, nak" ia mengelap bulir air mata yang masih jatuh ke pipi sang anak, dalam hati kecilnya berharap kalau Ninda versi mini ini bisa mengerti seluruh perkataannya. Meski baru berumur lima tahun lebih, putrinya cukup pintar dan bertingkah lebih dewasa dari umurnya. Tentu saja berkat didikan keduanya.

Pretend LoversCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang