084 : Katastrophe (4).

889 148 436
                                        




300 comment untuk buka next chapter ♥♥








[!] bgm, love me not; typo; pengulangan kata.

;:;:;:;

Di tengah tanah luas dari kontruksi awal kota baru, meja perjamuan sepanjang dua meter berdiri kokoh dengan tiga kursi banquet klasik dari kayu; dua di antaranya berhadapan pada masing-masing sudut, sementara satu lain berada di sisi kanan; dari kursi sudut kiri.

Kursi kanan ini ditempati Taeyong, hanya sesekali menyesap anggur tanpa minat bersantap. Ia tak repot-repot meluangkan kesabaran, hanya mengikuti perilaku Hansol karena menurutnya tontonan ini cukup menghibur.

"Makanlah," Hansol berkata santai pada Jungkook yang duduk seorang diri di kejauhan sana, "Sudah ku katakan sebelumnya, aku tak akan meracunimu atau menaruh sesuatu ke makanan."

Jungkook menelaah curiga, konsisten untuk waspada namun ragam hidangan yang berjejer di depannya cukup mendistraksi akal sehat. Terlebih ... indera penciuman serigalanya bisa mengetahui pasti mana makanan layak dan mana yang berbahaya. 

Maka di sini, di depannya, ia tau semuanya normal dan tidak terkontaminasi suatu zat.

Jadi daripada kelaparan; serta keyakinan pada instingnya sendiri, Jungkook mengambil garpu dari sisi piring, bermaksud mengambil satu potong daging diiringi tatapan Hansol yang lekat-lekat menguncinya. Tapi gerakan Jungkook berhenti saat ujung garpu tertancap, ia kembali mendongak menatap Hansol di seberang; "Jika aku benar-benar memakannya, akan ada bayaran untuk ini 'kan?"

Hansol tersenyum jenaka, "Tidak."

"Kau pikir aku akan percaya Demigod sialan seperti kalian memberikan hal cuma-cuma?"

"... hng," Hansol merengut karenanya, binar mata ditunjukkan terang-terangan apabila ia cukup kecewa, "Aku hanya ingin memberimu makan. Kau tau? Terlalu curiga juga tidak bagus untuk kehidupan."

"Yah ...," Jungkook mengangguk, "Sayangnya aku tidak akan pernah tidak curiga pada anak-anak Dewa brengsek bedebah licik yang curang dan bajingan tak bermoral—maksudku, kau. Kalian semua," jeda, "Bahkan keparat merah yang aku kenal."

Atas semua caci maki tersebut, Taeyong yang bahkan enggan merespon justru heran pada reaksi Hansol; mata Demigod satu itu kian berbinar-binar menatap Si Werewolf, dan rautnya berubah menjadi ulasan senyum dengan lidah yang menyeka bibir; tertarik.

"Wah," Taeyong total muak, ia menyandarkan punggung sambil mendongak menatap angkasa, 'Dasar masokis gila,' batinnya.

.

.

Sambil menangkup pipi menggunakan dua telapak tangan, Hansol fokus menatap Jungkook yang tak sungkan menyantap seluruh hidangan.

Senang rasanya melihat sosok itu makan hingga pipi-pipi gembilnya menjadi bulat.

"Ah ... jadi benar jika para Werewolf agak keterbelakang," Taeyong berbisik ke Hansol, "Di situasi seperti ini, bisa-bisanya dia makan dengan lahap."

YaGook AcademyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang