Happy Reading
Tangisan bayi itu akhirnya mereda di dada Gala.
Isakan kecil berubah menjadi napas teratur. Tubuh mungil itu menempel hangat, jemarinya mencengkeram kain baju Gala tanpa sadar.
Gala menatapnya lama.
Rasa takjub, takut, dan haru menyatu di wajahnya.
Ia lalu melangkah pelan mendekati ranjang.
"Mau aku kembalikan?" tanyanya hati-hati.
Bulan menoleh sekilas.
Hanya sekilas.
Lalu mengangguk singkat tanpa ekspresi.
Gala menyerahkan bayi itu dengan sangat hati-hati. Jemari mereka sempat bersentuhan sepersekian detik,namun Bulan segera menarik tangannya kembali, fokus pada bayinya.
Ia membenarkan posisi selimut.
Mengelus kepala kecil itu.
Tanpa melihat Gala lagi.
"Dia cuma kaget," ucap Gala pelan, mencoba membuka percakapan.
Tidak ada jawaban.
Hanya keheningan.
Bulan menatap lurus ke depan, bukan ke arahnya. Wajahnya tenang, tapi jelas menjaga jarak.
Gala berdiri beberapa detik, merasa seperti orang asing di kamar itu.
"Aku bisa jaga malam ini," katanya lagi.
"Supaya kamu istirahat."
"Aku bisa sendiri," jawab Bulan singkat.
Nada suaranya tidak keras.
Tapi dingin.
Gala menelan ludah.
Ia ingin membantah. Ingin bilang bahwa ia juga orang tua bayi itu.
Namun ia menahan diri.
Beberapa detik berlalu.
"Aku tidak akan mengganggu," ucapnya akhirnya.
"Kalau butuh apa-apa... panggil aku."
Bulan tidak menoleh.
Tidak menjawab.
Ia hanya mencium kening bayinya pelan, seolah dunia kini hanya berisi dirinya dan anak itu.
Gala mundur satu langkah.
Lalu duduk kembali di kursinya.
Jarak di antara mereka terasa jelas.
Bayi itu sudah lahir.
Mereka sudah menjadi ayah dan ibu.
Namun sebagai suami dan istri—
Bulan masih begitu acuh.
Dan untuk pertama kalinya, Gala menyadari bahwa mendapatkan kembali kepercayaan seseorang jauh lebih sulit daripada menahan napas di ruang bersalin.
*****
Beberapa hari berlalu.
Tangisan bayi, jadwal menyusui, pemeriksaan dokter—semuanya berjalan perlahan dan stabil. Luka Bulan membaik. Kondisinya dinyatakan aman untuk pulang.
Siang itu, perawat masuk sambil tersenyum.
"Ibu sudah boleh pulang hari ini."
Kalimat itu membuat suasana kamar berubah.
Bukan tegang.
Tapi penuh keputusan.
Bulan mengangguk pelan. Ia sudah tahu ke mana ia akan pulang.
KAMU SEDANG MEMBACA
GALLAN
Roman d'amourTidak ada yang tau mengenai garis takdir yang sudah di tentukan oleh Tuhan.Bulan seorang wanita karir yang sampai saat ini belum menikah juga semenjak dijadikan taruhan oleh mantan pacarnya. Tanpa di duga enam tahun mereka berpisah. kini mereka ha...
