Hallo guys...
Hari ini aku Double Update, spesial untuk kalian. Semoga suka dengan ceritanya. Jangan lupa follow akun aku ya. Agar dapat update terbaru setiap harinya. Yang mau masuk saluran WA aku boleh banget...
Saluran Seratandika di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029Vb8jJFPLI8Yam8ioq01N
Happy Reading
.
.
.
.
.
.
Keesokan paginya suasana rumah Altaf dan Kalila sudah terasa ramai sejak pagi. Sinar matahari masuk melalui jendela dapur, menerangi ruangan yang mulai dipenuhi aroma masakan.
Di dapur, Kalila dan Umma;Anantha sedang memasak bersama. Kalila berdiri di depan kompor sambil mengaduk wajan berisi udang yang sedang dimasak dengan saus tiram. Sementara Umma memotong beberapa bahan di meja dapur.
“Pelan-pelan saja ya Nak. Jangan terlalu capek,” kata Umma sambil memperhatikan menantunya.
Kalila tersenyum kecil. “Iya, Umma. Kalila juga nggak banyak gerak kok. Cuma bantu sedikit saja.”
Udang di wajan mulai berubah warna menjadi kemerahan dengan saus tiram yang mengilap. Aroma bawang putih dan sausnya memenuhi dapur.
“Masya Allah, harum sekali,” kata Umma.
Kalila tertawa pelan. “Kalau masakan Umma biasanya juga begini harum.”
Umma lalu beralih ke kompor sebelah yang sedang memasak ikan kuah kuning. Kuahnya tampak kuning cerah dengan irisan daun bawang dan tomat.
“Kalau ikan kuah kuning ini Abi paling suka,” kata Umma.
Kalila mengangguk. “Berarti nanti Abi pasti nambah.”
Setelah itu mereka juga menumis kangkung dengan bawang putih dan cabai. Suara desisan dari wajan membuat dapur terasa semakin hidup.
***
Sementara itu di ruang tamu, Altaf sedang duduk bersama Abi. Di meja ada dua cangkir teh hangat dan beberapa biji pisang goreng di atas piring. Mereka mengobrol santai pagi itu.
Abi menatap Altaf sambil bertanya, “Altaf hari ini kerja?”
Altaf menggeleng pelan. “Tidak, Abi. Hari ini tidak ada berkas penting yang harus Altaf tanda tangani. Jadi Altaf bisa di rumah.”
Abi mengangguk mengerti. “Berarti lumayan bisa istirahat.”
“Iya, Abi. Beberapa hari kemarin juga lumayan sibuk,” jawab Altaf.
Abi kemudian bersandar di kursi. “Kerjaan di kantor bagaimana? Lancar?”
“Alhamdulillah lancar, Bi. Cuma kadang banyak rapat saja.”
Abi tersenyum tipis. “Namanya juga kerja. Dulu waktu Abi masih aktif kerja juga begitu. Kadang pulang sudah larut malam.”
Altaf mengangguk sambil mendengarkan.
Abi kemudian menatap anaknya dengan lebih serius namun tetap lembut. “Sekarang tanggung jawab Altaf juga sudah beda.”
Altaf sedikit mengernyit.
“Maksud Abi?”
Abi tersenyum. “Sekarang Altaf sudah jadi suami. Sebentar lagi juga jadi ayah.”
Altaf tertawa kecil, tapi wajahnya terlihat senang. “Iya juga ya, Bi.”
Abi melanjutkan dengan nada bijak. “Jadi yang paling penting itu bukan cuma kerja saja. Tapi juga bagaimana Altaf bisa menjaga keluarga.”
Altaf mengangguk pelan. “Iya, Abi. Altaf juga lagi belajar.”
KAMU SEDANG MEMBACA
ALKALI
SpiritualBacalah My Imam Until Jannah lebih dulu, agar tidak bingung! *** Muhammad Altaf Khair Wijaya seorang pembisnis muda. Ketampanan yang di milikinya di warisi dari sang Ayah. Dia pria yang memiliki sifat di...
