ALKALI #39

13 1 0
                                        

“Mas Altaf?”

Ia berdiri cepat, wajahnya berubah penuh bahagia.

“Kamu udah pulang?!”

Altaf tertawa kecil melihat ekspresi istrinya yang benar-benar kaget.

“Iya. Surprise.”

Kalila langsung menghampirinya, memberikan ponakannya kepada kakak iparnya, beralih memeluknya erat suaminya dengan hati-hati karena perutnya yang sudah besar.

“Kamu katanya empat hari!”

“Berubah jadi tiga hari.”

Shazid yang keluar dari dapur ikut tertawa melihat mereka. “Wah, ternyata pulang diam-diam lo Taf.”

Altaf menyalami Shazid dengan hangat. “Iya, Zid. Biar Kalali seneng gue kasih kejutan.”

Mereka akhirnya duduk bersama di ruang tamu. Obrolan pun mengalir santai. Shazid menanyakan bagaimana urusan bisnis di Surabaya, sementara Annisa sesekali menggoda Khalila.

“Tuh kan, baru ditinggal sebentar aja udah kangen berat Taf,” kata Annisa sambil tertawa.

Kalila tersipu malu. “Teh…”

Shazid ikut menambahkan, “Makanya, Taf, jangan lama-lama pergi. Adik gue cengeng kalau di tinggal lo lama-lama.”

Semua tertawa.

Beberapa saat kemudian, Altaf berdiri.

“Zid, Nis… kami pamit dulu ya. Kalila juga harus istirahat di rumah.”

Shazid mengangguk. “Iya, hati-hati di jalan.”

Annisa memeluk Kalila sebentar. “Kalau butuh apa-apa, bilang ya.”

“Iya, Teh.”

***

Tak lama kemudian mereka sampai di rumah mereka sendiri. Rumah itu terasa lebih hangat setelah beberapa hari Altaf pergi. Kalila duduk di sofa sambil menghela napas lega.

“Rasanya beda kalau kamu udah pulang ke rumah, kemarin aku sempet kesepian kamu nggak ada.”

Altaf tersenyum sambil menaruh tasnya. “Tunggu sebentar.”

Kalila menatap heran. “Kenapa?”

Altaf mengambil sesuatu dari dalam tas kecilnya, lalu kembali duduk di depan istrinya.

“Ini ada satu kejutan lagi.”

Kalila mengernyit penasaran.

Altaf membuka kotak kecil berwarna hitam. Di dalamnya ada sebuah kalung cantik dengan liontin sederhana namun elegan.

Kalila menutup mulutnya terkejut. “Mas… ini buat aku?”

“Iya.”

Ia berdiri di belakang Kalila dan dengan hati-hati memasangkan kalung itu di leher istrinya.

“Anggap saja hadiah karena kamu udah kuat menjalani kehamilan ini. Dan terimakasih sudah selalu ada di sisiku.”

Kalila memegang liontin itu dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Cantik banget…”

Altaf duduk di samping istrinya. “ Tapi nggak secantik kamu.”

Kalila tertawa kecil sambil menahan haru. “Tapi hadiah terbaik tetap bayi kita,” katanya sambil mengelus perutnya.

Altaf ikut menaruh tangannya di sana. “Iya,” bisiknya lembut. “Hadiah terbesar kita.”

Kalila memeluk suaminya dari samping, mengecup pipi Altaf karena bahagia. "Makasih mas Altaf, aku sayang kamu."

ALKALITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang